JOGLOSEMAR.CO Foto Pengemis Musiman Banjiri Solo, Pendapatan? Gaji PNS Kalah Jauh, Ini Faktanya

Pengemis Musiman Banjiri Solo, Pendapatan? Gaji PNS Kalah Jauh, Ini Faktanya

153
BAGIKAN
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
PENGEMIS MUSIMAN-Sejumlah pengemis saat beroperasi di halaman Masjid Agung Surakarta, Rabu (14/6).

SOLO – Pengemis musiman bakal membanjiri Kota Solo. Masjid, kawasan pertokoan dan kuliner menjadi lokasi primadona para pengemis. Ironisnya, razia yang dilakukan seolah tak memberi efek jera.

Sejumlah tempat disinyalir menjadi perimadona para pengemis untuk mengais belas kasih, di antaranya, masjid, pusat kuliner dan pertokoan.

Sejumlah masjid yang kerap menjadi incaran pengemis antara lain Masjid Agung Surakarta, Masjid Raya Fatimah dan Masjid Al Wustho.  Sedang pusat kuliner, antara lain di kawasan Kottabarat, Manahan dan Keprabon.

Kepala Bidang (Kabid) Ketertiman umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kota Surakarta, Agus Sis Wuriyanto mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk menekan jumlah pengemis di Kota Solo di antaranya dengan melakukan razia setiap Jumat, serta razia gabungan bersama pihak kepolisian dan dinas terkait.

Mereka yang tertangkap tangan dikembalikan pada pihak keluarga. Agus mengklaim, upaya ini cukup mampu menekan jumlah pengemis. Namun demikian eksodus pengemis dinilai akan terjadi jelang Idul Fitri.

“Sebenarnya sudah lumayan berkurang. Paling saat ini hanya tersisa seratus pengemis. Tapi mungkin akan terjadi lonjakan pengemis terutama pada saat pembagian zakat fitrah,” ujarnya.

Sekadar diketahui dari hasil razia selama tahun 2016 lalu setidaknya ada sekitar 800 orang pengemis di Kota Solo. Sebanyak 70 persen berasal dari luar kota Solo, sedang 30 persen sisanya merupakan warga Kota Solo.

“Mereka berasal dari Sukoharjo, Sragen dan Karanganyar. Kalau dilihat dadi usia, cukup bervariasi. Mulai dari anak sampai lansia, Tapi kebanyakan di dominasi lansia,” ujar Agus, Senin (12/6/2017)

Agus berharap masyarakat menyalurkan zakat, infak, sedekah melalui lembaga resmi. Sebaliknya, memberi langsung kepada pengemis dinilai justru kontra produktif. Sebab tidak jarang banyak pihak yang mendulang keuntungan dari rasa belas kasihan.

Jutaan

“Tahun 2016 kami pernah menangkap pengemis. Dalam tasnya ada uang hasil mengemis sebanyak Rp 15 juta. Maka dari itu sebaiknya kalau mau sedekah lewat masjid, panti asuhan atau lembaga zakat infak sodaqoh yang resmi,” pungkasnya

Kabid Penegak Perda Satpol PP Kota Surakarta Arif Darmawan saat ini Kota Solo belum memiliki peraturan khusus tentang pengemis. Satu satunya ‘senjata’ yang dimiliki hanya Perda Nomor 1/2013 tentang Penyelenggaraan Perhubungan.

Dengan perda itu Satpol PP mengambil kewenangan untuk menciduk pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) dari jalanan, lantran dinilai mengggu lalu lintas.

“Sampai saat ini belum ada aturan yang khusus tentang pengemis. Perda ketertiban umum juga masih dalam pembahasan. Tapi di dalamnya ada pasal yang melarang aktivitas mengemis, bahkan merarang memberikan uang pada pengemis. Tapi sekali lagi ini masih alam pembahasan,” ujarnya, Rabu (15/6/2017)

Menurut Arif jumlah pengemis di Kota Solo sudah sanget memprihatinkan. Pihaknya telah melakukan pemetaan, fenomena mobilisasi pengemis masih terjadi di sejumlah titik, seperti Car Free Day Slamet Riyadi, pusat pertokoan di Laweyan, Pasar Kliwon dan sejumlah masjid.

Pada gelaran CFD Jalan Slamet Riyadi dalam sekali razia, lanjut dia, pihaknya dapat mengamankan 30 hingga 40 orang pengemis.

Sedang di masjid Agung sebanyak 25 pengemis, di Jalan Kapten Mulyadi sekitar 20 pengemis. Perbandingan pengemis asal Kota Solo dan luar Kota Solo cukup seimbang.

“Dulu kami berhasil menangkap berikut barang buktinya, ada yang sehari dapat Rp 15 juta, Rp 7,5 juta, Rp 9 juta,” ujar dia.

#Arief Setiyanto