JOGLOSEMAR.CO Foto Perjuangan Purwanto Menjemput Zakat Dari Baznas Surakarta, Dua Jam Perjalanan Pakai Kursi...

Perjuangan Purwanto Menjemput Zakat Dari Baznas Surakarta, Dua Jam Perjalanan Pakai Kursi Roda dari Ngemplak

472
BAGIKAN
Joglosemar | Arief Setyanto
TERIMA ZAKAT–Purwanto (kursi roda) saat menerima zakat di Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Senin (19/6).

Baznas Kota Surakarta salurkan zakat, infak dan sedekah kepada difabel dan guru. Purwanto, asal Ngemplak Boyolali menjadi salah satu yang berhak menerima.

Pria berselimutkan pakaian warna coklat dan tampak kucal itu terduduk di kursi rodanya. Butir keringat di dahinya, meluncur di pipinya yang legam tersengat matahari, berujung di dagu dan tumpah membasahi bajunya.

Matanya keramaian aula Kantor Kementerian Agama. Namun, lantai berundak menghalangi laju kursi rodanya. Purwanto (52) harus rela menanti penyaluran zakat hingga selesai.

Pria paruh baya itu mengaku menggelindingkan kursi roda miliknya dari bilik rumahnya di Sawahan, Ngemplak Boyolali hingga kantor Kementerian Agama Kota Surakarta. Pukul jam 9 pagi ia beranjak dari rumahnya.

Terik matahari terasa menyengat di kulit, ditambah panasnya pantulan dari aspal yang membentang sepanjang perjalanan. Namun hal itu dilakoninya demi menjemput rejeki, sekantung beras dan selembar amplop berisi uang zakat mal.

“Dua jam perjalanan dari rumah. Saya sebenarnya mau masuk duduk bersama teman-teman saya (penyandang disabilitas) tapi nggak bisa lha ini undak-undakannya tinggi,” ujar Puwanto

Dibalik keterbatasannya, Purwanto enggan menjadi peminta minta. Ia mengaku mengisi hari-harinya dengan menjadi tukang sol sepatu. Jika ramai, ia bisa memperbaiki lima hingga enam sepatu dalam sehari, namun jika sepi, hanya dua sepatu yang singgah di ‘bengkel’ miliknya.

Semua anak Purwanto telah berkeluarga, istrinya meninggal beberapa bulan lalu. Kini ia hanya tinggal bersama ibunya, yang telah lanjut usia dan menyandarkan kebutuhan padanya.

Namun, uang tak menjadi tujuan hidupnya, asal dapat rejeki halal untuk menyambung hidup baginya sudah cukup. Tak jarang ia menggratiskan jasa sol sepatu jika ada yang sekadar minta tolong.