JOGLOSEMAR.CO Foto Problematika PPDB 2017, Mulai Pindah KK Hingga Serbuan Surat Keterangan Tidak Mampu

Problematika PPDB 2017, Mulai Pindah KK Hingga Serbuan Surat Keterangan Tidak Mampu

530
BAGIKAN
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
PPDB ONLINE – Seorang siswa dibantu petugas mengisikan data melalui komputer saat melakukan pendaftaran sekolah melalui sistem PPDB Online di SMK Negeri 2 Surakarta, Senin (12/5). Sebanyak 364 SMA dan 231 SMK di Jawa Tengah secara serentak menggelar PPDB Online tahun 2017 mulai 11 Juni hingga 14 Juni mendatang.

SOLO – Proses Penerimaan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) Online 2017 di Solo kembali menuai masalah. Setelah sebelumnya ramai  orangtua merekayasa Kartu Keluarga (KK) anak menjadi warga Solo, kini serbuan Siswa Gakin (keluarga Miskin) membuat kalangan orangtua stres.

Hal ini lantaran tidak adanya batas maksimal pendaftar dari Gakin untuk jenjang SMA Negeri (SMAN), serta maraknya penggunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Salah satu orangtua siswa yang hendak mendaftar ke jenjang SMAN, Niken, Warga Gentan mengaku saat ini bingung dengan nasib anaknya. Pasalnya posisi anaknya belum jelas diterima atau tidak di sekolah yang sudah dipilihnya.

“Sekarang ini tinggal nunggu nasib. Tidak tahu dua sekolah yang sudah dipilih aman atau tidak,”ujarnya kepada Joglosemar, Kamis Rabu (14/6/2017).

Niken menceritakan PPDB Online tahun ini terbilang rumit dan terasa sangat tidak adil. Awalnya, Rabu  kemarin ia mendaftarkan sang anak di SMAN 4 sebagai pilihan pertama, dan SMAN 2 sebagai pilihan kedua.

“Nah, sebelumnya itu, saya mau daftar ke SMAN 7, ternyata di sana banyak diserbu siswa Gakin luar kota, dari Cemani, Grogol, Baki.  Mereka langsung diterima, di peringkat atas. Jelas siswa Gakin luar kota ini mengurangi kuota Gakin dalam kota sekaligus kuota siswa luar kota,“ tegasnya.

Seharusnya, Gakin Luar kota mendaftar di tempat sesuai ia berasal. Kondisi ini akhirnya turut berpengaruh pada kondisi anak-anak yang nilainya cukup tinggi.

“Anak saya sempat down, sudah kuota luar kota hanya 7 persen, ini dikurangi siswa yang tidak naik kelas, dan daya tampung eh digeser siswa Gakin luar kota lagi. Ada teman saya juga anaknya tidak lolos di mana-mana karena sudah kemasukan Gakin cukup banyak,“ungkapnya.