Sekolah Waspadai Berkas Siswa Gakin Meragukan, Home Visit Jadi Pilihan

Sekolah Waspadai Berkas Siswa Gakin Meragukan, Home Visit Jadi Pilihan

65
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
PPDB ONLINE – Seorang siswa diuji kesehatan matanya saat menjalani pemeriksaan kesehatan dalam rangkaian kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online di SMK Negeri 2 Surakarta, Senin (12/5). Sebanyak 364 SMA dan 231 SMK di Jawa Tengah secara serentak menggelar PPDB Online tahun 2017 mulai 11 Juni hingga 14 Juni mendatang.

SOLO – Sejak ditutupnya Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online tingkat SMA/SMK pada Rabu (14/6/2017), pihak sekolah mempunyai waktu sekitar lima hari untuk melakukan verifikasi dokumen (berkas) calon siswa di sekolah masing-masing.

Tak serta merta percaya dengan berkas Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang diajukan Siswa Gakin (dari keluarga Miskin), namun kalangan sekolah pun mewaspadai  berkas siswa yang meragukan dan menindaklanjutinya dengan home visit atau survey ke tempat tinggal calon siswa yang bersangkutan.

Seperti yang dilakukan oleh SMAN 1 Surakarta, menurut Kepala Sekolah SMAN 1 Surakarta Harminingsih, pada PPDB 2017/2018 ini ada 54 Siswa Gakin yang mendaftar dengan menggunakan SKTM.

Baca Juga :  Langgar Perda Ini, Puluhan “Penjual” Uang Terjaring Razia

Saat pendaftaran lalu, sekolah yang dipimpinnya itu sudah melakukan tahapan verifikasi langsung kepada calon siswa, terkait berkas, serta kecocokan data oleh siswa.

“Ya benar, kami lihat berkas, dicocokkan terus dapat nomor pendaftaran. Sejauh ini kami belum bisa mengatakan itu SKTM yang dipakai fiktif atau tidak, karena kami masih verifikasi,”tandasnya kepada Joglosemar, Jumat (16/6/2017).

Imbuh Harminingisih, selama beberapa hari ini, tim panitia masih mengejar verifikasi berkas calon siswa dengan ketat. Untuk berkas Siswa Gakin yang meragukan, ia langsung menerjunkan tim panitia untuk home visit.

Baca Juga :  Idul Fitri di Balaikota, Kenyang Ditambah Uang Fitrah

“Kalau ragu-ragu, kan bisa dilihat dari berkasnya misal Kartu Keluarganya, punya berapa saudara, pekerjaan orangtuanya apa, kalau aneh, ya kita home visit. Tadi sore juga ada yang home visit ke beberapa siswa,”terangnya.

Diakui Harminingsih, pihak sekolah juga harus berhati-hati, tidak mendadak memvonis tentang kondisi keluarga atau status siswa Gakin itu, apakah memang miskin, atau justru mampu.

Secara sengaja, home visit juga diisi dengan tatap muka menemui keluarga dan orangtua siswa, namun ada juga yang bertanya lewat tetangga atau lingkungan di mana siswa Gakin tersebut tinggal.

1
2
3
BAGIKAN