JOGLOSEMAR.CO Foto Tembus Rp 5 Juta, Sumbangan Pembangunan Sekolah Beratkan Siswa

Tembus Rp 5 Juta, Sumbangan Pembangunan Sekolah Beratkan Siswa

175
BAGIKAN
Ilustrasi. Foto : Grafis Joglosemar

SOLO – Sejak dikelola oleh Pemerintah Provinsi, sumbangan pembangunan prasarana sekolah dikeluhkan. Dua orang siswa “dipaksa” mengundurkan diri lantaran tak sanggup membayar sumbangan.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan, YF Sukasno mengaku banyak menerima keluhan warga pasca pengumuman hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online jenjang SMA/SMK. Pasalnya, sumbangan pembangunan sarana prasarana sekolah dinilai sangat memberatkan.

Dari keluhan yang sampai ke telinganya, sumbangan yang diberikan cukup bervariasi,  mulai dari Rp 4,5 juta, Rp 4,7 juta hingga Rp 5 juta.

“Yang mengadu langsung pada kami banyak, terkait sumbangan pembangunan sarana sekolah,” ujarnya, Kamis (29/6/2017).

Sukasno menilai, UU Sidiknas yang memberi ruang bagi  peran serta wali murid dalam pembiayaan justru telah menjadi ‘bemper’. Berkedok rapat komite, dengan leluasa sekolah menarik uang dari wali murid, tidak terkecuali keluarga kurang mampu.

“Prosesnya benar komite sekolah duduk bersama wali murid dan sampaikan apa yang mau dibangun. Namanya sumbangan, tapi jumlahnya jangan segitu. Rp 5 juta, Rp 4,7 juta atau Rp 4,5 juta itu parameternya apa? Undang-undang jangan dijadikan dalih,” imbuhnya.

Sukasno membandingkan, saat dulu pengelolaan SMA/SMK di tangan pemerintah Kota Surakarta , siswa miskin tidak dibebani biaya. Ironisnya, setelah sekarang dikelola oleh pemerintah provinsi, pengelolaan SMA/SMK justru semakin kacau.

Lebih jauh Sukasno mengungkapkan, setidaknya ada enam SMK di Surakarta yang dikeluhkan oleh wali murid lantaran membebankan nilai sumbangan dengan jumlah tinggi. Tingginya sumbangan bahkan mengakibatkan dua siswa mengundurkan diri.