Harga Garam di Solo dan Boyolali Melesat Hampir Tujuh Kali Lipat

Harga Garam di Solo dan Boyolali Melesat Hampir Tujuh Kali Lipat

121
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
HARGA GARAM MELONJAK- Pekerja beraktifitas mengangkut garam di kios Hindarto Pasar Legi, Solo, Senin (24/7).

SOLO – Minimnya stok garam di pasaran membuat harganya melonjak tajam di pasar tradisional di Solo dan Boyolali.

Tak hanya garam dapur atau garam beryodium, namun juga jenis garam kasar atau grosok. Bahkan, harganya naik hingga hampir 7 kali lipat untuk garam grosok.

Meski begitu, kenaikan harga garam sama sekali tidak menurunkan permintaan masyarakat. Salah satu penjual Sembako di Pasar Legi Solo, Ninik (64) mengatakan harga garam batang (balok) saat ini mencapai Rp 22.000 sampai Rp 23.000 padahal sebelumnya Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per 1 pak  yang berisi 12 balok garam.

“Kalau ini saya nyebutnya bukan kenaikan harga tapi ‘ganti harga’. Dulu per batang atau balok garam dengan merek Dangdut yang saya punya dijual hanya Rp 1.000 sekarang dijual Rp 2.000. Walaupun begitu permintaan masyarakat tetap tinggi karena garam merupakan kebutuhan pokok,” tuturnya kepada Joglosemar saat ditemui di kiosnya, Selasa (25/7/2017).

Tidak hanya garam balok, garam halus pun juga mengalami kenaikan. Ninik mengatakan saat ini harga garam halus dihargai Rp 25.000 per pak seberat sekitar 5 kg. Sebelumnya garam halus hanya dihargai Rp 13.000 per pak seberat sekitar 5 kg.

Hal yang sama pun juga dialami oleh Maryani (40) pedagang Sembako di Pasar Legi. Pihaknya mengatakan 1 pak garam balok yang berisi 12 balok dihargai Rp 23.000 padahal seminggu yang lalu dihargai Rp 19.000.

Baca Juga :  Proyek Drainase Kawasan Semanggi Digarap Tahun Depan, Begini Perencanaannya

“Padahal awal dulu harga cuma Rp 9.000. Sekarang karena memang stok nggak ada jadi dua kali lipat kenaikannya,” tuturnya. Begitu juga dengan garam halus dihargai Rp 26.000 1 paknya dengan isi 20 plastik.

Dari pantauan di toko garam milik Wardoyo, stok garam tak terlihat langka. Namun setelah dikonfirmasi, garam tersebut merupakan stok terakhir miliknya. Hal itu disebabkan pasokan yang minim.

“Stoknya cuma ini, di gudang sudah habis. Carinya susah. Untuk garam grosok yang harga normalnya dulu Rp 900/kg. Bulan lalu naik Rp 2.000, sekarang hampir Rp 5.000 per kg,” kata Wardoyo.

Hal serupa dirasakan pemilik toko garam lainnya, Vincent. Selain harga garam kasar yang melonjak hingga Rp 5.000 per kg, harga garam dapur juga ikut melonjak.

Menurutnya, kelangkaan terjadi sejak setelah Lebaran 2017. Kondisi cuaca yang buruk sejak awal tahun menjadi penyebab utama kelangkaan garam di pasar.

“Kalau sekarang baru mau impor, saya kira pemerintah telat banget. Harusnya sejak awal sebelum garam benar-benar habis. Sekarang stok sudah mulai datang, tapi kalau sudah terlanjur naik, turunnya susah,” tandasnya

Dari Pasar Pengkol, Desa Ringinlarik, Musuk, Kabupaten Boyolali stok garam di setiap pedagang terlihat sedikit. Bahkan, garam grosok yang biasanya terlihat menumpuk cukup tinggi di depan sejumlah kios, hari ini menipis.

Baca Juga :  Pansus Tukar Guling Aset Pemkot Panggil Pihak Ketiga

Permintaan garam grosok di wilayah Kecamatan Musuk cukup tinggi karena digunakan warga sebagai campuran ngombor atau memberi minum ternak sapi perah.

“Garam Madura (garam grosok asal Madura) naik tujuh kali lipat,” kata salah satu pedagang, Ibu Suyud.

Dari harga yang biasanya berkisar Rp 800 hingga Rp 900/kg, saat ini mencapai Rp 5.000 /kg. Menurut dia, melonjaknya harga garam dikarenakan pasokannya yang sedikit. Kenaikan harga garam juga terjadi di Pasar Sunggingan, Boyolali Kota.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Boyolali, Suyitno, mengaku telah menerjunkan tim untuk survei di lapangan terkait persoalan itu.

Adanya indikasi keculasan rantai distribusi pada komoditas beras dan garam membuat pemerintah membuat semacam strategi.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  Syarkawi Rauf mengatakan adanya indikasi kecurangan pasokan dari distributor menjadi momentum untuk memperbaiki sistem tata niaga di Indonesia.

“Maka dari itu kami akan terus bersinergi dengan pemerintah baik pusat maupun daerah untuk menghilangkan gap harga di tingkat rantai distribusi dengan arahan menyederhanakan rantai distribusi. Untuk menyejahterakan banyak pihak. Dan harga tidak dimonopoli oleh pemain besar,” katanya.

Garudea Prabawati | Detik

BAGIKAN