JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Market Industri Inovation Award 2017, Furniture Berbahan Dasar Bekas Mendunia

Industri Inovation Award 2017, Furniture Berbahan Dasar Bekas Mendunia

61
BAGIKAN
ilustrasi furniture. Joglosemar/Yuhan Perdana

SOLO – Nilai produk furniture atau mebel sekarang ini tidak hanya dilihat dari penggunaan bahan bakunya saja.

Bahan baku mahal dan berkualitas belum tentu menjamin nilai furniture yang dihasilkan bernilai jual tinggi.

Karena nyatanya banyak furniture yang dibuat dari bahan-bahan kayu bekas pun bisa sukses di pasaran, bahkan hingga menembus pasar ekspor.

Seperti yang dilakukan CV Prima Putra Bengawan, industri kreatif yang bergerak di bidang furniture dengan memanfaatkan bahan baku recycle (bekas) ini 70 persen produknya diekspor ke luar negeri.

Melalui kreativitas tersebut CV Prima Putra Bengawan diganjar penghargaan Industri Inovation Award 2017 kategori lingkungan.

Susan Pang selaku Sustainable Practices Producer CV Prima Putra Bengawan mengatakan industri kreatif tersebut sudah berdiri sejak sekitar 20 tahun lamanya.

Dari awal sudah berkomitmen untuk zero waste dengan memanfaatkan bahan baku bekas yang dikreasikan menjadi produk bernilai ekspor.

“Kayu kita sudah tersertifikasi FSC sejak 2008 dan 100 persen recycled, untuk SVLK sudah sekitar 5 tahun,” terangnya kepada Joglosemar, Kamis (13/7/2017).

Dibantu dengan tangan-tangan terampil sebanyak 20 orang, industri kreatif tersebut mampu menghasilkan produk bernilai jual tinggi. Sebesar 30 persen untuk pasar domestik dan 70 persen untuk pasar ekspor.

Selain menggunakan kayu bekas CV Prima Putra Bengawan juga mengkreasikan barang-barang yang masih berkategori limbah seperti billboard/ street banner bekas. Sehingga tercipta barang unik seperti tas, hiasan, pouch dan lainnya.

Susan mengatakan keikutsertaan Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta menjadi stimulus dalam memajukan produknya.

Sementara itu Kepala Dinas Disnakerperin Agus Sutrisno, mengatakan sudah menjadi tugas dinas untuk membantu para industri kreatif ini terus bertumbuh sehingga dapat secara langsung menjadi Industri Kecil Menengah (IKM) yang seutuhnya.

“IKM tersebut nantinya juga menjadi pendorong Usaha Kecil Menengah  Surakarta semakin tumbuh,” tutupnya.

Garudea Prabawati