JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Ketagihan Cabuli Siswi TK, Kakek Bejat Asal Sragen Diusir Rame-Rame dari...

Ketagihan Cabuli Siswi TK, Kakek Bejat Asal Sragen Diusir Rame-Rame dari Desa..

839
BAGIKAN
Ilustrasi

SRAGEN– Seorang kakek berusia 80 tahun berinisial S asal Sambungmacan, Sragen diusir oleh warga karena tepergok tega mencabuli seorang siswi Taman Kanak-Kanak (TK) berinisial AY (6) yang tinggal bersebelahan. Kakek yang jalannya sudah tak tegak itu dipaksa angkat kaki dari desa karena perbuatannya ternyata telah dilakukan berulangkali hingga membuat korban mengalami trauma berat.

Aksi pengusiran kakek yang tinggal sebatang kara itu terungkap setelah Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) Sragen, Sugiarsi mengungkap kasus pencabulan memilukan itu, Kamis (13/7/2017). Kepada Joglosemar, Sugiarsi menngungkapkan kasus pengusiran kakek uzur itu sebenarnya sudah terjadi beberapa hari lalu.

Kakek yang jalannya sudah pakai tongkat itu terpaksa diusir karena warga geram dengan kelakuannya yang tega mencabuli AY yang masih duduk di bangku TK. Namun dengan pertimbangan menjaga psikologis korban dan keluarga, ia meminta identitas alamat domisili dan nama, tidak disebutkan secara vulgar.

Perbuatan bejat tersangka terbongkar ketika korban sering mengeluh sakit ketika buang air kecil. Berawal dari keluhan itu, orangtua korban berinisiatif memeriksakan putrinya ke petugas kesehatan setempat. Orangtua pun kaget ketika mendengar vonis petugas medis bahwa korban telah mengalami kekerasan seksual sehingga mengakibatkan luka pada alat vitalnya.

“Dari situ kemudian anaknya ditanya dan akhirnya mengaku bahwa sering digitukan oleh pelaku. Tidak sampai terjadi persetubuhan, tapi pelaku hanya memasukkan jarinya saja tapi berulangkali hingga mengakibatkan korban mengalami luka dan sakit,” papar Sugiarsi kemarin.

Menurut Sugiarsi, aksi bejat itu dilakukan lebih dari empat kali. Tempat tinggal pelaku yang hanya bersebelahan dengan rumah korban membuatnya semakin leluasa melancarkan aksinya setiap mendapat waktu luang.

Modus yang digunakan, pelaku memanfaatkan kondisi sepi dan kemudian memanggil korban untuk membelikan sesuatu kemudian uang sisa diberikan kepada korban. Akibat kejadian itu, korban sempat mengalami syok berat sebelum kemudian berangsur dipulihkan lewat terapi psikis yang dilakukannya.

“Orangtua korban juga beberapa kali saya terapi, karena awalnya kalap dan pinginnya hanya mateni pelaku. Kesepakatan keluarga dan warga akhirnya pelaku diminta pergi dari desa itu, karena takutnya nanti akan mengulangi terus perbuatannya,” tukasnya.

Lebih lanjut, Sugiarsi menyampaikan kasus itu memang mendapat atensi lebih dari APPS mengingat korban masih sangat kecil. Ia juga prihatin dengan fenomena maraknya kasus kekerasan seksual di Sragen yang belakangan korbannya kebanyakan menimpa anak di bawah 10 tahun mulai dari 4 tahun hingga 8 tahun.

Atas fenomena itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat utamanya orangtua untuk lebih mengawasi putra-putrinya yang masih kecil. Kemudian orangtua juga diminta mewaspadai kedekatan orang-orang
sekitar, lantaran mayoritas pelaku kejahatan seksual justru biasanya bukan orang asing.

“Bayangkan dalam setahun terakhir saja, korbannya ada yang umur 4 tahun di Tanon, lalu 6 tahun di Gondang, ada lagi baru umur 4 tahun di Sumberlawang, lalu umur 6 tahun di Sambungmacan. Ini harus menjadi pembelajaran dan kewaspadaan bersama,” tukasnya. Wardoyo