Lima Sekolah Nihil Pendaftar di PPDB Kedua Sragen, 30 SMPN Sisakan 1.112...

Lima Sekolah Nihil Pendaftar di PPDB Kedua Sragen, 30 SMPN Sisakan 1.112 Kursi Kosong

272
ilustrasi pelajar. Foto: Joglosemar/Maksum Nur Fauzan

SRAGEN- Kekhawatiran bahwa penerimaan peserta didik baru (PPDB) online tahap kedua jenjang SMP Negeri (SMPN) bakal menggerus jatah siswa di sekolah swasta, agaknya tak terbukti.

Pasalnya, dari hasil PPDB online kedua yang sudah selesai digelar 13 Juli kemarin, kekurangan di 15 SMPN yang direkomendasikan ikut PPDB kedua, tetap tak terpenuhi.

Dari 435 kursi yang disediakan untuk PPDB kedua di 15 SMPN itu, hanya 60 kursi saja yang terisi. Bahkan, ada 5 SMPN yang nihil pendaftar sehingga gagal mendapat tambahan siswa baru.

Padahal, hasil PPDB pertama menyisakan 1.172 kursi di 30 SMPN. Dengan hasil itu, secara keseluruhan dari total 30 SMPN yang kuotanya belum terpenuhi, jumlah kursi kosong yang tersisa di tahun ajaran baru 2017/2018 ini mencapai 1.112 kursi.

Baca Juga :  Duh, Nenek 78 Tahun Ini Nekat Tabrakkan Diri ke Kereta Api!

“Dinas sudah berupaya agar fasilitas negara (kursi SMPN) bisa termanfaatkan secara maksimal. Tapi faktanya memang kuota di SMPN yang belum penuh, tetap tidak bisa full terisi semua,” papar Plt Kepala Disdikbud Sragen, Suharto melalui Sekdin, Suwardi, Jumat (14/7/2017).

Ia mengungkapkan minimnya jumlah pendaftar di PPDB tambahan itu dimungkinkan karena mayoritas siswa memang sudah mendapatkan sekolah baik di MTSN, pondok pesantren atau ada yang ke luar daerah.

Menurutnya, dari 30 SMPN yang kuotanya belum penuh, memang hanya 15 SMPN saja yang direkomendasi untuk menggelar PPDB tambahan 11-12 Juli. Dengan selesainya PPDB tahap kedua, maka kursi yang kosong di SMPN tidak boleh lagi diisi.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Korupsi Desa Hadiluwih Sumberlawang, Kejari Sragen Terima SPDP

Pihaknya meminta sekolah menaati aturan dan kursi kosong yang tersisa tetap dibiarkan kosong.

Grafis Joglosemar

Meski tidak bisa memenuhi kekurangan, namun hasil PPDB kedua itu dinilai sudah cukup membantu SMPN yang kurang itu untuk bisa memenuhi ketentuan jumlah siswa minimal per rombongan belajar (Rombel) yakni antara 20-32 siswa.

“Kuota kursi kosong tidak boleh diisi lagi. Ya harus dibiarkan kosong. Tapi yang terpenting kuota jumlah siswa per rombel sudah bisa tertutup,” katanya.

Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Suharjo mewanti-wanti kepada SMPN yang masih tersisa kursi kosong, untuk taat pada aturan.

Pihaknya tidak menghendaki ada  SMPN yang bermain memasukkan calon siswa baru agar kekosongan kursi bisa terisi.

Wardoyo

Advertisements
BAGIKAN