Masa Orientasi Siswa Dilarang Nyeleneh, Sanksi Tegas Menanti

Masa Orientasi Siswa Dilarang Nyeleneh, Sanksi Tegas Menanti

64
Joglosemar | Dok
TINJAU ORIENTASI SISWA – Ketua Komisi IV DPRD Kota Surakarta, Hartanti berinteraksi dengan siswa baru SMAN 1 Surakarta saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Rabu (20/7).

WONOGIRI- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri menerapkan sanksi tegas kepada jajaran sekolah, khususnya menjelang tahun ajaran baru 2017/2018.

Dalam masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS), tidak boleh ada atribut yang nyeleneh dikenakan pada siswa baru.

Selain itu, dinas juga melarang keras penggunaan hukuman fisik bagi siswa baru. Pelanggaran atas ketentuan tersebut akan membuahkan  sanksi tegas sesuai bobotnya.

“Sejak dulu kami sudah melarang penggunaan atribut yang nyeleneh-nyeleneh dalam PLS. Itu sangat tidak mendidik,“ tegas Kepala Disdikbud Wonogiri, Siswanto, Jumat (14/7/2017).

Siswanto mencontohkan atribut nyeleneh tersebut misalnya, pakaian yang dihiasi rumbai-rumbai dari tali plastik dan semacamnya. Termasuk pula topi dan karung-karung goni maupun alat-alat aneh lainnya.

Baca Juga :  Kekeringan di Wonogiri, Dari 12 Telaga, Hanya 4 Yang Berair, Duh…

Menurutnya, tidak ada sisi mendidik sedikit pun dari penggunaan atribut tersebut. Justru yang ada hanyalah rasa malu bagi siswa yang menggunakannya. Juga pandangan risih dari orang lain yang kebetulan melihatnya.

“Mohon pihak sekolah mengindahkan hal ini. Jika nanti sampai ada yang nekat melanggar, akan langsung kami panggil kepala sekolahnya. Akan kami beri sanksi yang tegas,“ beber dia.

Semestinya, lanjut Siswanto, PLS menjadi masa bagi siswa baru untuk mengenal sekolah baru. Semestinya pula diisi dengan kegiatan mendidik.

Baca Juga :  Ternyata Ini Penyebab Truk Muatan Kayu Terguling di Girimarto

Misalnya penggalian potensi seni maupun olahraga melalui beragam permainan menarik. Atau kegiatan lain, sepanjang tidak menggunakan aktivitas fisik berat, terlebih sampai menggunakan hukuman fisik.

Lebih bijaksana menurutnya, jika sekolah selaku penyelenggara MOS, menerapkan prinsip pendekatan keagamaan.

“Pengemasannya diserahkan ke sekolah masing-masing. Jika sekolah akan melaksanakan secara sangat sederhana sekalipun, tidak masalah. Yang penting jangan melanggar larangan kami tadi. Serta satu lagi, jangan sampai memberatkan siswa maupun orang tua,“ pungkas Siswanto sembari meminta semua pihak memahami Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Aris Arianto

Advertisements
BAGIKAN