JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Menariknya Kirab Budaya Tirtonadi, Mulai Kostum Setinggi 4 Meter Hingga Bancakan Ketupat

Menariknya Kirab Budaya Tirtonadi, Mulai Kostum Setinggi 4 Meter Hingga Bancakan Ketupat

56
BAGIKAN
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
KIRAB BUDAYA KETUPAT – Warga mengikuti Kirab Budaya Ketupat Tirtonadi di Gilingan, Banjarsari, Surakarta, Sabtu (15/7). Sebanyak 4.000 ketupat dikirab dalam kegiatan yang bertujuan untuk mengangkat kearifan lokal di wilayah Gilingan tersebut.

Alunan kethuk kempyang mengiringi langkah demi langkah peserta Kirab Budaya Tirtonadi, Sabtu (15/7/2017).

Tak ketinggalan sejumlah peserta bersolek diri. Aneka kostum dikenakan mulai dari kostum wayang orang, punakawan, lurik, dan kostum kreasi ala Solo Batik Carnival (SBC).

Seorang peserta kirab rela berpayah-payah mengenakan kostum setinggi 4 meter. Dia adalah Bagus Emas (28), warga RW 5 Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo.

“Kostum bertema keris yang saya pakai beda dengan tahun lalu. Ini lebih berat dan lebih tinggi. Kira-kira tingginya 4 meter, tahun kemarin tingginya 3 meter,” kata Bagus.

Sejak awal kirab, ia harus berhati-hati dengan kostum yang dikenakannya. Menurutnya, kirab tahun ini lebih berat dari tahun lalu, sebab rutenya bertambah jauh. Rute yang dilalui juga penuh dengan pohon dan kabel yang nyaris merusak kostumnya jika kurang hati-hati.

Namun demikian, ia tak kapok. Bagus mengaku puas dengan hasil kirab kali kedua ini. “Harapannya tahun depan peserta bisa lebih ramai lagi dan rutenya jangan susah,” ujar Bagus.

Lain halnya dengan Rini Suprapto (37), ibu rumah tangga ini menunjukkan partisipasinya dengan pakaian sederhana, jarikan dengan atasan kebaya dan bermahkotakan caping.

Bagi warga RW 15 Kelurahan Gilingan ini, yang terpenting adalah partisipasi sebagai wujud guyub rukun, terlebih kirab ditutup dengan bancakan ketupat.

“RW 15 bawa 170 ketupat, ludes lho,” ujar Rini yang juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Gilingan ini.

Rini menjelaskan, peserta kirab terdiri dari 21 RW dan paguyuban di Terminal Tirtonadi. Menurutnya, alunan gamelan, kostum wayang, dan kostum dengan tema ikon keris yang diusung menunjukkan potensi budaya yang ada di Kelurahan Gilingan.

“Kami punya kelompok seni karawitan dan kerajinan keris, juga wayang, misalnya di RW13,” ujarnya.

Sementara itu, ketupat tidak dapat ditinggalkan dari Kirab Budaya Tirtonadi karena juga untuk memperingati 1 Syawal. Secara filosofis kupat (ketupat) berati ngaku lepat (mengaku salah) sehingga ada tradisi saling memaafkan.

“Setiap kelompok RW membawa gunungan kupat.  Setelah kirab nanti ada acara pasowanan atau diserahkan kepada Pak Lurah di pendapa. Setalah didoakan kupat-nya langsung buat bancakan,” ujarnya

Rute kirab dimulai dari Terminal Tirtonadi, para peserta jalan ke  timur, berjalan tepat di bawah sky bridge menuju Jalan Kutilang.

Setelah itu menuju Kampung Cinderejo dan menuju Jalan Bido I, kemudian menuju Jalan Setiabudi lalu ke arah barat hingga kantor Kelurahan Gilingan

Lurah Gilingan, Joko Partono berharap kirab yang digelar untuk kedua kalinya ini dapat mempererat persatuan dan kesatuan warga Gilingan, bahkan warga Solo pada umumnya.

Ia juga berharap warga kian menyadari bahwa saat ini Kelurahan Gilingan memiliki sejumlah ikon, yakni sky bridge dan Kali Pepe.

“Sengaja rute kirab kita lewatkan di sana sebagai bentuk sosialisasi fasilitas baru yang disediakan pemerintah,” pangkasnya.

Kasie Perlindungan Budaya Dinas Kebudayaan Surakarta, Sudyatmo berharap nilai-nilai budaya lokal lebih digali. Oleh karenanya hendaknya kegiatan tidak berhenti pada penyelenggaraan kirab saja.

Arief Setiyanto