Pelaku Kekerasan Perempuan dan Anak Justru dari Keluarga

Pelaku Kekerasan Perempuan dan Anak Justru dari Keluarga

36
ilustrasi

WONOGIRI – Jajaran kepolisian mengaku cukup kesulitan mendeteksi terjadinya kejahatan moral berupa kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hal itu karena kebanyakan pelakunya berasal dari lingkungan keluarga korban.

“Kasus kekerasan seksual terhadap anak acapkali dilakukan oleh orangtua korban dan orang-orang terdekat. Sehingga semua pihak harus bekerjasama dari pemerintah hingga Ketua RT/RW, guru, orangtua, dan pihak lain,” kata Kapolres Wonogiri, AKBP Muhammad Tora, Jumat (7/7/2017).

Pihaknya telah melakukan serangkaian analisa data kekerasan terhadap anak maupun perempuan. Data meliputi korban, pelaku, dan kejadian, maupun motif serta latar belakang.

Setelah dianalisa ternyata pelaku dan korban berada di satu lingkungan. Penyebabnya beragam, mulai faktor kurangnya perhatian orang terdekat, maupun kesepian lantaran sebagian anggota keluarga merantau.

Ditambahkan, khusus kasus kekerasan seksual terhadap anak yang ditangani Polres Wonogiri pada 2016 terdapat 26 kasus.

Baca Juga :  Paguyuban Pemilik Sarana Apotek di Wonogiri Gelar Baksos

Namun pada Januari-Juni 2017, kasus kekerasan seksual terhadap anak mencapai 21 kasus. Bahkan, kemungkinan besar kasus-kasus moral di tahun ini berpotensi cukup besar mengalami peningkatan.

“Apalagi pasti ada kasus yang tidak dilaporkan. Kemungkinan justru jumlahnya lebih besar. Jadi semacam fenomena gunung es,” tandas Kapolres.

Dengan adanya Satgas PPA di Wonogiri yang dibentuk pada Oktober 2016 lalu dan dikukuhkan Kamis (6/7/2017) lalu,  pihaknya berharap bisa menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan. Khususnya kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKB dan P3A) Wonogiri, Reni Ratnasari mengatakan, sejumlah langkah telah ditempuh guna menekan laju kasus itu.

Reni membeberkan menggandeng kepolisian, Satpol PP, dan dinas lainnya untuk bekerjasama.

Baca Juga :  Kekeringan di Wonogiri, Dari 12 Telaga, Hanya 4 Yang Berair, Duh…

Di antaranya melalui razia ke tempat-tempat yang dianggap rawan terjadi kasus. Misalnya  waduk Tandon Selogiri, Plasa Waduk Gajah Mungkur, maupun Stadion Pringgondani.

“Wonogiri juga sudah ada Satgas PPA yang dikukuhkan Bu Menteri Yohana (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak-Yohana Susana Yembise) kemarin,” beber dia.

Langkah berikutnya dengan pembinaan dan pendampingan. Pendampingan terhadap kasus-kasus tersebut khususnya yang berhubungan dengan anak, ujar dia,  tidak hanya diperuntukkan bagi korban. Pelaku ataupun saksi juga wajib didampingi.

Ketua TPPKK Kabupaten Wonogiri, Verawati Joko Sutopo menandaskan permasalahan kekerasan terhadap anak dan perempuan menjadi perhatian khusus bagi PKK Wonogiri.

Sebab, tingkat kejadiannya tergolong tinggi. Program yang diunggulkan untuk menekannya adalah momong cerdas.

Aris Arianto

Advertisements
BAGIKAN