Penukaran Uang Baru di Solo Saat Lebaran Capai Rp 4,6 T

Penukaran Uang Baru di Solo Saat Lebaran Capai Rp 4,6 T

57
NGOBROL DI PWI SURAKARTA-Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo Bandoe Widiarto dan wakilnya M Taufik Amrozy saat berbincang-bincang dengan pengurus PWI Surakarta di kantor PWI Surakarta, Senin (3/7) petang kemarin.

 

 

SOLO-Bank Indonesia (BI) Solo akan meneruskan program penukaran uang baru secara jemput bola ke sejumlah lokasi pada Lebaran tahun depan. Pasalnya, program penukaran uang baru dengan cara jemput bola tersebut sangat menguntungkan masyarakat dan meminimalisasi peredaran uang palsu.

Demikian diungkapkan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Bandoe Widiharto saat berdiskusi dengan pengurus Persatuan wartawan Indonesia (PWI) Surakarta di sekretariat PWI, Kompleks Monumen Pers Solo, Senin (3/6) malam.

Ditambahkan Bandoe, selain meminimalisasi peredaran uang palsu, penukaran uang baru dengan lokasi di berbagai tempat itu juga mengurangi penukaran uang di jalan-jalan. “Masyarakat juga dimudahkan, dan tidak perlu membayar biaya atau jasa penukaran,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pembukaan Museum Keris di Solo Kian Tak Jelas

Dalam kesempatan itu Bandoe diterima oleh Ketua PWI Surakarta, Anas Syahirul bersama jajaran pengurus PWI Surakarta lainnya dari beragam media massa di Surakarta.

Terkait dengan penukaran uang baru yang disediakan BI bekerja sama dengan sejumlah perbankan, Bandoe mengapresiasi masyarakat yang melakukannya secara tertib. Kesadaran masyarakat untuk menukar uang ke instansi yang tepat sudah bagus.

Terbukti pada lebaran tahun ini, jumlah penukaran uang baru lewat gerai-gerai yang dibuka BI bersama kalangan perbankan makin banyak dan melebihi target.

Baca Juga :  Lagi, Rotari Club Bantu Penyediaan Sanitasi Komunal Warga

“Dari uang baru untuk kebutuhan Lebaran tahun ini  ternyata melebihi target, dari Rp 4 triliun yang kami estimasikah secara maksimal, ternyata permintaannya sampai Rp 4,6 triliun,” jelasnya.

Terkait inflasi Juni di Solo sebesar 0,87 persen, Bandoe juga mengapresiasi. Menurut dia, terkendalinya inflasi di Solo tidak lepas dari peran para pemangku kepentingan, termasuk media, dalam mengendalikan ekspektasi masyarakat.

“Inflasi Juni lebih banyak dipengaruhi kebijakan pemerintah seperti tarif angkutan dan tarif listrik, sebab harga-harga kebutuhan pokok di pasaran telatif terkendali,” kata dia.(Garudea Prabawati | Anas)

 

Advertisements
BAGIKAN