Ruang Hunian Keraton Jawa

Ruang Hunian Keraton Jawa

163
Dok
Avi Marlina, ST., MT
Mahasiswa S3 Teknik Arsitektur dan Perkotaan Fak Teknik Universitas Diponegoro, Semarang

Keraton telah mengalami perubahan seiring dengan perubahan status Keraton sebagai pemangku budaya. Pada kenyataannya, perubahan tersebut berdampak pada tata ruang hunian keraton yang memiliki perbedaan strata sosial bangsawan “Priyagung” dan abdi dalem “Kawula Alit”. Keunikan pada penelitian ini adalah transformasi ruang hunian tersebut terjadi pada ruang hunian keraton dengan pembagian spasial Jawa profan dan sakral.

Baca Juga :  Awas, Rombel Jangan Lebih 28 Siswa, Disdik Bakal Tegus Kasek

Secara teoritik, konsep transformasi ruang hunian berupa perluasan ukuran ruang, penambahan jumlah ruang, penambahan jenis ruang, perubahan fungsi ruang, dan perubahan fasade disebabkan oleh kondisi gaya hidup, kegiatan perempuan, dan kondisi ekonomi.

Pada kenyataannya, konsep transformasi tersebut hanya berlaku pada ruang-ruang hunian yang bersifat umum/profan, belum menyentuh pada ruang hunian dengan pembagian spasial Jawa profan dan sakral, seperti yang terjadi pada setting hunian Keraton Jawa. Sehingga, dibutuhkan teori lokal tambahan untuk memodifikasi teori transformasi ruang hunian dengan metode penelitian studi kasus.

Baca Juga :  Edufair di Diamond, PT Tawarkan Keunggulan Produk Pendidikan
Advertisements
1
2
3
BAGIKAN