Sepak Terjang Mengerikan Bos Sragen United, Tipu Tokoh Sepakbola, Pejabat BOPI Hingga...

Sepak Terjang Mengerikan Bos Sragen United, Tipu Tokoh Sepakbola, Pejabat BOPI Hingga Catut Nama Bupati

2324
Dok
DUGAAN PENIPUAN–Pemilik Laga FC, Haruna Soemitro (kanan) saat menyerahkan secara simbolis data pembelian lisensi klub kepada Indika Wijaya Kusuma di Hotel Aston Solo, 27 Februari lalu.

SOLO – Pecinta sepak bola nasional, khususnya pendukung Sragen United dikejutkan dengan langkah pemilik Laga FC, Haruna Soemitro yang melaporkan Komisaris Sragen United, Indika Wijaya Kusuma ke Polda Metro Jaya. Laporan itu berkaitan dengan kasus penipuan yang dilakukan Indika atas pengalihan lisensi klub dari Laga FC ke Sragen United.

Ternyata, kejahatan yang lebih “mengerikan” dilakukan Indika seorang diri. Dalam kasus penipuan pembelian lisensi dari PT Laga Nusantara Mandiri selaku badan usaha klub Laga FC, proses awal pembelian klub hingga mengikuti kompetisi Liga 2 penuh tipuan. Korbannya pun tak main-main.

Deretan tokoh sepak bola nasional, seperti Haruna Soemitro (pemilik Laga FC), Iwan Budianto (Wakil Ketua Umum PSSI), Gede Widiade (Direktur Utama Persija Jakarta). Lalu Sekjen Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), Heru Nugroho hingga Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati ikut jadi korban. Belum lagi seluruh pengurus Sragen United, tim pelatih, pemain dan official.

“Saya bilang ini kejahatan yang tidak main-main. semua orang yang terlibat dari awal hingga sekarang kena tipu oleh satu orang bernama Indika. Bahkan kakeknya di Sragen pun ikut kehilangan harta bendanya,” terang Pengurus lama Sragen United, Andi Anamnova saat berbincang dengan Joglosemar, Rabu (5/7/2017) dini hari.

Saat mendapat kabar dari Joglosemar jika Indika dilaporkan ke Polda Metro Jaya, pria yang sempat dijadikan Ketua Panpel Sragen United itu malam menjelaskan secara rinci proses awal ke Jakarta, hingga kemudian bertemu bos-bos sepak bola Indonesia. Proses itu bermula pada bulan Februari lalu saat dirinya bersama beberapa rekan, termasuk salah satunya istri Indika berangkat ke Jakarta untuk pekerjaan event organizer (EO).

“Dari awal berangkat ke Jakarta itu tidak ada urusan sama sepak bola. Saya bersama tiga kawan, salah satunya istri Indika berangkat ke Jakarta untuk urusan kerja. Tidak pernah terpikir untuk beli klub atau alih pengelolaan,” jelas Andi.

Baca Juga :  Dipegang Manajemen Baru, Sragen United Datangkan Eks Madura United dan Persija Jakarta

Dalam keberangkatan ke Jakarta, kemudian Indika ikut bergabung. Indika yang saat itu tidak mempunyai pekerjaan apapun mulai mengutarakan niatnya untuk mengelola sebuah klub profesional. Andi mengatakan, Indika yang baru dikenalnya mengaku sebagai keponakan dari Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Pembiayaan klub sepak bola pun dikatakan Indika saat itu sudah tidak ada masalah, lantaran mengaku sudah punya dana miliaran rupiah.

“Dari situ kemudian Dika dikenalkan kepada seorang event organizer namanya tante Yuli oleh pengusaha bernama pak Gi (Sugiyanto Aldi). Karena tidak tahu bola, tante Yuli minta masukan dari pak Heru (Sekjen BOPI, Heru Nugroho) yang tak lain merupakan teman komunitas musik. Kemudian dikenalkan sama staf BOPI bernama Ridjaldi yang lebih tahu soal klub bola. Nyambung-nyambung sampai akhirnya ketemu dengan pemilik klub Laga FC, pak Haruna. Dari situ Indika sudah negosiasi sendiri sama pak Haruna,” tutur Andi.

Dalam proses tersebut, Andi sempat pulang ke Solo lantaran uangnya sudah habis untuk membiayai semua kebutuhan Indika, termasuk menyewa mobil untuk berangkat ke Jakarta. Saat balik lagi ke Jakarta, Andi kaget ternyata Indika sudah membeli klub Laga FC milik Haruna Soemitro. Bahkan pada 27 Februari, dilakukan proses penandatanganan pengalihan lisensi dari klub Laga FC ke Sragen United di Hotel Aston Solo.

Dalam pembelian itu, diketahui Indika melakukan pembayaran menggunakan cek kontan Bank Panin milik Sugianto Aldi. Pembayaran terbagi menjadi enam jeda waktu, diawali Rp 2.500.000 pada tempo pertama 31 Maret dan lanjut Rp 500 juta setiap bulannya. Total klub itu dibeli dengan harga Rp 5 Miliar.

“Dari situ orang-orang di Jakarta sudah tidak terlibat lagi. Pak Gi pun tidak tahu kalau ceknya dipakai untuk membeli klub. Karena dari awal pak Gi ini hanya menampung Dika dirumahnya. Lalu saat proses tanda tangan di Aston, ada juga mas Iwan Budianto. Saat itu mas Iwan ikut hadir karena Timnas Indonesia sedang ada di Solo.”

Baca Juga :  Menang Tiga Gol, Sragen United Tinggalkan Zona Degradasi

Penjelasan Andi pun dibenarkan staf BOPI, Ridjaldi Sobari. Dalam kasus ini, Ridjal ikut terkurung dalam “kubangan lumpur” karena diminta bantuan Sekjen BOPI, Heru Nugroho. Ridjal pun mengaku menjadi penyambung Indika hingga akhirnya kenal dengan Haruna, melalui Iwan Budianto.

“Salah kalau ada yang bilang Sragen United dikawal BOPI. Pak Heru meminta saya ikut membantu Indika karena kenal dengan tante Yuli. Hubungannya hanya sebatas teman komunitas musik. Tidak ada urusan sama BOPI. Kami sekarang juga kaget kok malah jadinya seperti ini,” ucap Ridjal.

Ridjal yang tercatat sebagai Chief Executive Oficer (CEO) Sragen United mengaku juga tak tahu jika kemudian dijadikan salah satu pengurus klub berjuluk Gajah Purba tersebut. Dia kemudian mengundurkan diri pada 31 Maret setelah mendapat laporan Indika gagal melakukan pembayaran terhadap Haruna.

“Saat gagal melakukan pembayaran pada jatuh tempo terakhir, saya sudah yakin jika Indika itu bukan siapa-siapa. Bupati saja tidak kenal siapa Indika. Padahal pertama kali ke Jakarta, Indika mengaku sebagai keponakan Bupati,” ucapnya. “Sekarang malah baru tahu kalau semua orang yang terlibat dalam proses ini adalah korban penipuan.”

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, Joglosemar belum berhasil memperoleh konfirmasi dari Indika. Beberapa nomor handphonenya, termasuk menghubungi nomor barunya pun tidak mendapatkan jawaban. Salah seorang pengurus lama Sragen United yang enggan disebutkan namanya mengaku juga sudah kesulitan berkomunikasi dengan Indika.

Keterangan Bos Laga FC, Haruna Soemitro, baca disini.

Nofik Lukman Hakim

Advertisements
BAGIKAN