JOGLOSEMAR.CO Daerah Jogja Cara Unik Calon Haji Jogja Tunjukkan Identitas Saat Masuk di Embarkasi Solo

Cara Unik Calon Haji Jogja Tunjukkan Identitas Saat Masuk di Embarkasi Solo

97
BAGIKAN
Joglosemar | Triawati Trihapsari Purwanto
KENAKAN BLANGKON–Calon jamaah haji dari Kabupaten Gunung Kidul mengenakan aksesoris blangkon saat antri melakukan cek kesehatan di Embarkasi Solo, Kamis (3/7) pagi.

Ada pemandangan berbeda di Embarkasi Solo, Kamis (3/8/2017), tepatnya pada saat para calon jemaah haji dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masuk embarkasi pukul 09.00 WIB.

Dengan tetap mengenakan seragam batik hijau ciri khas haji, para jemaah laki-laki asal DIY tampak percaya diri menutupi kepalanya dengan blangkon khas Jogja berwarna hitam, Kamis (3/8/2017).

Mereka tampak serasi dan “berbeda” dibanding dengan jemaah lainnya. Blangkon dengan mondolan khas berbentuk bulat telur tersebut setia mereka kenakan sembari mendengarkan pengarahan dari petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo hingga menunggu giliran cek kesehatan sebelum memasuki pemondokan.

“Kami dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Daarul Quran Muslimat NU Gunungkidul. Ada 134 orang dalam anggota KBIH yang mengenakan blangkon. Ini memang sengaja untuk memperlihatkan identitas dan ciri khas Yogyakarta. Biasanya identitas jemaah haji kan dari slayernya, kali ini kami ingin yang berbeda sekaligus melestarikan kebudayaan Jogja,” tutur Ketua Regu, Supriyanto, ditemui di sela kegiatan.

Selama berada di Tanah Suci, selain konsentrasi beribadah, para jemaah tentunya juga akan melebur “melibatkan” banyak orang dai seluruh penjuru dunia. Dalam hal inilah diharapkan blangkon menjadi penanda yang mudah dikenali.

“Kalau ada rombongan terpisah, diharapkan akan mudah dikenali. Mudah dicari juga. Namun prinsipnya kembali kepada mempertahankan kebudayaan. Kami juga sudah memberikan pengarahan kepada seluruh jemaah waktu-waktu blangkon tidak boleh dikenakan terutama saat mengenakan (pakaian) ihram di mana memang tidak dibolehkan mengenakan penutup kepala,” terang Supriyanto.

Menurut Kasubbag Humas PPIH Embakasi Solo, Badrus Salam, tidak ada ketentuan khusus yang mengatur aksesoris sebagai tanda pengenal rombongan jemaah haji.

Hanya saja, selama ini para rombongan jemaah haji kebanyakan mengenakan slayer dengan warna tertentu sebagai identitas rombongan jemaah.

“Kalau untuk blangkon ini tidak ada salahnya. Ya karena memang tidak ada ketentuan khusus untuk aksesoris jemaah haji harus seperti apa. Yang ada hanya seragam batik haji. Dengan mengenakan blangkon, mungkin saja mereka ingin mengenalkan identitas mereka sebagai orang Yogyakarta. Tidak masalah selama mereka mengenakannya sesuai ketentuan dan tidak melanggar peraturan,” paparnya.

Triawati Prihatsari Purwanto