JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Fenomena Miris, Banyak Ibu Hamil di Desa Terpencil Sragen Terpaksa Melahirkan...

Fenomena Miris, Banyak Ibu Hamil di Desa Terpencil Sragen Terpaksa Melahirkan di Jalan

1020
RUSAK PARAH- Kondisi jalan utama di Desa Gilirejo Baru, Miri yang bertahun-tahun rusak parah dan tak bisa dilewati oleh warga. Foto diambil Senin (14/8/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Ironi derita warga desa terpencil hasil pemekaran yakni Desa Gilirejo Baru, Kecamatan Miri, kembali terkuak. Tidak hanya
penderitaan warga yang terpaksa membuat jalan alternatif di tengah hutan karena jalan utama 25 tahun rusak parah, banyak warga yang mengeluhkan tidak adanya bidan desa yang mau menetap atau mblabag di wilayah itu.

Akibatnya, selain kesulitan akses layanan kesehatan, tak sedikit ibu hamil yang terpaksa melahirkan sebelum sampai ke rumah sakit yang jaraknya berkilo-kilometer. Kondisi jalan yang rusak parah dan bergelombang serta tidak adanya bidan desa yang siaga, menjadi pemicu banyaknya bayi yang terpaksa lahir dalam perjalanan menuju ke rumah
sakit.

“Sudah nggak tergitung berapa kali ada yang bayean (persalinan) yang akhirnya mbrojol di jalan. Karena jalannya luar biasa rusaknya, nggronjal-nggronjal dan jauh ke rumah sakit, bidannya nggak ada. Sehingga bayinya terpaksa lahir dalam perjalanan. Saya kadang kalau melihat sampai nangis memprihatinkan nasib warga-warga saya beratnya tinggal di desa terpencil,” papar Kades Gilirejo Baru, Miri, Hartono, Selasa (15/8/2017).

Hartono menguraikan, kondisi desa Gilirejo Baru memang ibarat terisolasi. Dikeliling waduk kedung ombo dan jika ingin ke kecamatan atau ke Sragen, harus memutar lewat jalan Boyolali karena tidak ada akses jalan atau jembatan yang bisa dilewati.

Menurutnya selama ini memang ada dua bidan desa yang sebenarnya ditugaskan di desanya yakni Kartini dan Novi yang diketahui berdomisili asal Sumberlawang. Namun, sejak bertugas di wilayahnya, keduanya tidak mau menetap atau berdomisili di Gilirejo Baru.

Hal inilah yang membuat warga kesulitan apabila ingin mendapatkan layanan kesehatan 24 jam. Kondisi itu juga menyengsarakan warga atau ibu hamil yang ingin periksa sewaktu-waktu dan hendak mendekati melahirkan. Kondisi tanpa bidan siaga 24 jam itu sudah berlangsung hampir 10 tahun terakhir.

“Pernah saya antarkan juga akhirnya melahirkan di jalan. Karena adanya yang paling dekat bidan di Boyolali. Mau ke rumah sakit Sragen jauh. Makanya kami berharap selain jalan rusak dan jembatan diperbaiki, pemerintah bisa mengupayakan menempatkan bidan desa yang mau berdosimisili atau mblabag 24 jam di desa kita. Sehingga sewaktu-waktu warga membutuhkan berobat atau bersalin, bisa segera tertangani,” timpal Modin Desa Gilirejo Baru, Juyanto.

Ketua Komisi I DPRD Sragen, Suroto yang menerima aduan dari Desa Gilirejo Baru itu mengaku prihatin dengan fakta penderitaan warga desa terpencil itu. Ia menyampaikan untuk bidan desa mestinya memang harus segera diganti dengan bidan asal desa setempat sehingga bisa mblabag
atau bertugas 24 jam.

“Kami juga mengusulkan ada mobil ambulans antar jemput sehingga bisa
membantu warga. Karena di sana jarak tempuh ke Puskesmas atau rumah sakit sangat jauh. Kalau lebih dekat memang ke Boyolali tapi etikanya kok kurang pas,” jelasnya.

Sementara untuk pembangunan jalan utama kabupaten di Desa Gilirejo baru yang sudah 25 tahun rusak parah, ia menyampaikan dari keterangan Kepala DPU Sragen, Marija, akan menyanggupi maksimal dialokasikan pada APBD Penetapan 2018. Sedangkan di perubahan APBD 2017, bisanya mungkin hanya 1-2 kilometer saja.

“Untuk jembatan panjang yang diharapkan warga itu kayaknya belum bisa. Masih dalam proses dengan provinsi ataupun pusat dan butuh perjuangan dari Pemkab,” katanya.

Di sisi lain, Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati juga prihatin dengan fenomena yang dihadapi warga Desa Gilirejo Baru. Perihal bidan yang tidak mblabag, pihaknya akan meminta dinas kesehatan kabupetan (DKK) segera mengambil langkah dan mengupayakan agar bidan desa yang bertugas di sana mau mblabag dan stand by 24 jam.

“Karena mereka ketika diberi SK sudah siap untuk berdomisili ditugaskan dan tinggal di wilayah tugasnya. Makanya kami akan tekan agar semua bidan desa mau mblabag,” tegasnya.

Ia juga tidak menyangkal ketika ada fenomena banyak ibu hamil yang akhirnya melahirkan di perjalanan. Hal itu juga ia sadari lantaran saat berkunjung ke Gilirejo beberapa waktu lalu, ia mengaku juga pernah kejeglong gara-gara kondisi jalannya memang sangat parah dan berlubang besra-besar.

“Sekarang mau tahu jalannya kayak apa. Aku kemarin ke sana kejeglong lubang segini dalamnya,” ujarnya mengisahkan. Wardoyo

BAGIKAN