JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Polres Bekuk Guru Cabul di Karanganyar, Begini Modusnya hingga Empat Siswi Jadi...

Polres Bekuk Guru Cabul di Karanganyar, Begini Modusnya hingga Empat Siswi Jadi Korban

2585
ilustrasi

KARANGANYAR – Polres Karanganyar akhirnya membekuk seorang guru PNS di sebuah madrasah ibtidaiyah (MI) di wilayah Karanganyar, berinisial AS (47).

Guru asal Karangrejo, Karanganyar tersebut diringkus setelah terbukti melakukan tindakan pencabulan terhadap empat orang siswinya yang duduk di bangku kelas 2.

Ironisnya, aksi pencabulan dilakukan oleh oknum guru paedofil itu di ruang kelas ketika jam istirahat. Modus yang dilakukan yakni dengan meminta para korban membantu mengoreksi tugas dari siswa lain bersama pelaku.

Untuk melancarkan aksinya, pelaku juga mengiming-imingi korban dengan dipinjami handphone untuk dipakai bermain game. Sebagian korban juga diberi uang Rp 2.000 oleh pelaku agar mau dicabuli dengan disertai ancaman pula.

Empat siswi yang menjadi korban itu masing-masing diketahui berinisial AD (8), SS (8), dan ZK (9) semuanya warga Jaten dan terakhir HK (8) warga Tasikmadu. Perbuatan bejat oknum guru tersebut terbongkar setelah para korban melaporkan kejadian itu ke Polres.

Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri Simanjuntak saat menggelar ungkap kasus itu menyampaikan berdasarkan laporan dari orangtua korban, oknum guru paruh baya itu langsung ditangkap tanpa perlawanan untuk digelandang ke Mapolres, Jumat (11/8/2017).

Selain keterangan para korban, aksi pencabulan pelaku diperkuat dengan hasil visum para korban yang menunjukkan adanya luka pada alat vital keempat siswi malang tersebut.

“Modus yang digunakan oleh oknum tersangka ini menyuruh korban dan tiga temannya untuk membantu mengoreksi pekerjaan tugas dari siswa dan mengancam tidak boleh memberi tahu siapapun. Ada korban yang diberi uang Rp 2.000 dan diancam kalau menolak langsung dipelototi,” papar Kapolres.

Kapolres menguraikan kasus itu terbongkar kali pertama berkat pengakuan AD (8) kepada orangtuanya yang curiga putrinya sering mengeluh kesakitan jika buang air kecil.

Sempat menutup diri, korban akhirnya menceritakan bahwa dirinya telah diperlakukan tidak senonoh oleh gurunya itu sebanyak lima kali.

Berdasarkan keterangan korban, aksi pencabulan dilakukan kali pertama pada Rabu (2/8/2017) pukul 08.00 WIB, lantas pukul 11.00 WIB dan 13.00 WIB.

Tak puas, pelaku kembali mengulangi perbuatannya pada 7 Agustus pukul 09.00 WIB dan terakhir pada Selasa (8/8/2017) pukul 08.00 WIB.

Semua aksi pencabulan itu dilakukan di ruangan kelas. “Korban AD itu pernah menolak tapi langsung diancam dan ditarik tangannya lalu dipelototi. Pelaku juga mengancam agar tidak memberitahu ke siapapun,” jelas Kapolres.

Dari keterangan AD itulah akhirnya mengembang ke tiga rekannya yang ternyata juga mengalami kejadian serupa oleh tersangka.

Atas kejadian itu, pihaknya mengimbau kepada orangtua yang anaknya juga mengalami tindakan serupa untuk berani terbuka dan membantu Satreskrim dalam menuntaskan kasus ini.

Pasalnya, ia meyakini jumlah korban dimungkinkan tidak hanya empat siswi saja tapi ada kemungkinan masih ada korban lain tapi enggan untuk melaporkan.

Ia juga mengimbau agar kejadian itu bisa menjadi perhatian bagi orangtua untuk lebih mengawasi anak-anaknya dan memberikan perhatian dengan sigap menanyakan apabila ada perubahan atau mendapat perlakuan tidak selayaknya di sekolah.

Dengan begitu, maka apabila ada hal-hal menyimpang yang didapatkan, bisa terdeteksi lebih dini dan tidak sampai memakan banyak korban.

Karena pelaku notabene merupakan pendidik, Polres akan menjeratnya dengan hukuman lebih berat.

Menurut Kapolres, tersangka bakal dijerat dengan Pasal 82 ayat 2 UU RI No 35/2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman pidana paling lama 15 tahun ditambah sepertiganya lagi.

“Ini juga menjadi peringatan bahwa ancaman tindak pidana asusila ternyata tidak hanya dilakukan oleh orang-orang di sekitar atau terdekatnya saja. Di bangku sekolah pun juga sudah terjadi. Makanya semua harus waspada,” tegasnya.

#Wardoyo

BAGIKAN