JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Sejumlah Pelajar Mengaku Tak Tahu Apa Itu Serangan Umum 4 Hari di...

Sejumlah Pelajar Mengaku Tak Tahu Apa Itu Serangan Umum 4 Hari di Solo

214
BAGIKAN
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
ZIARAH MAKAM PAHLAWAN—Sejumlah pelajar mendampingi veteran tentara kemerdekaan melakukan tabur bunga saat berziarah dalam rangka Peringatan Serangan Umum Empat Hari Kota Solo di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Jurug, Solo, Senin (7/8). Peringatan tersebut untuk mengenang perjuangan para tentara pelajar di Solo dalam merebut Kota Solo dari penjajah Belanda.

Jajaran Muspida Kota Surakarta menggelar upacara dan ziarah di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti. Upacara dan ziarah dilakukan dalam rangka peringatan serangan umum empat hari di Solo. Ironisnya sejarah serangan umum empat hari di Kota Solo tak populer, termasuk di kalangan pelajar.

Kondisi ini mengundang keprihatinan para putra pejuang, Bagus Wisanggeni (60) salah satunya. Menurut Bagus, Solo seharunya layak menjadi Kota Perjuangan dengan sejarah serangan umum empat hari.

Menurutnya, serangan umum empat hari menjadi satu satunya sejarah di dunia tentara pelajar berhasil merebut kota. Ia mengungkapkan, saat itu usai kemerdekaan ternyata kembali terjadi agresi militer. Saat itu ibukota negara pindah ke Jogja dan pertahanan difokuskan ke Jateng dan Jogja.

Sementara itu kondisi pertahanan di solo kosong. Meskipun demikian para tentara pelajar berjuangan empat hari empat malam merebut Kota Solo.

“Ini satu satunya perjuangan tentara pelajar di dunia yang berhasil merebut kota. Maka Solo ini layak menjadi Kota Perjuangan, sebagaimana Surabaya dengan 10 November-nya bersama Bung Tomo, Jogja dengan Serangan Umum Satu Maret Letko Suharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono,”ujar Bagus

Bagus berharap sejarah itu tidak terkubur dan terus dikenang. Ia berharap sejarah ini diajarkan dibangku bangku sekolah. Menurutnya hal ini patut dibanggakan. “Jangan karena alasan politik ini tidak disampaikan,” ujarnya

Bagus berharapo berharap generasi saai ini kembali melanjutkan perjuangan. Menurutnya keganasan yang saat ini harus dihadapi adalah perang informasi. “Perang kita saat ini bukan perang fisik tapi perang informasi, maka butuh banyak pejuang cyber crime,” pungkasnya

Sementara itu Komandan Koramil Jebres, Lettu Inf Narno mengatakan TNI gencar membina semangat cinta Tanah Air dan bela negara di kalangan pelajar. Hal ini dimaksudkan agar semangat tidak luntur dari generasi ke generasi.

Di sisi lain para pelajar yang turut ziarah taman makam pahlawan Kusuma Bhakti mengaku asing dengan serangan umum empat hari. Bahkan dalam pelajaran sejarah peristiwa penting di Kota Solo itu tidak diajarkan. Para pelajar juga tidak tau kisah heroik Brigjen Slamet Riyadi yang gugur dalam pertempuran tersebut, hingga dikuburkan menjadi tiga pusara.