Setor Uang Sampai Rp 170 Juta Demi Masuk UNS, Sebulan Kuliah Baru...

Setor Uang Sampai Rp 170 Juta Demi Masuk UNS, Sebulan Kuliah Baru Tahu Jadi Korban Penipuan

1377
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
RILIS PEMALSUAN DOKUMEN- Kapolresta Solo AKBP Ribut Hari Wibowo (tengah), menggelar rilis kasus pemalsuan dokumen mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS yang di dalangi oleh Tersangka Iwan Saputra (47), di Polresta setempat, Senin (7/8). Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 263 ayat (1) dan ayat (2) KUHP tentang Pemalsuan Surat dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara.

SOLO—Iwan Saputra (47) dan Arif Munandar (25) tertunduk malu. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka kasus penipuan penerimaan mahasiswa baru Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Penipuan dilakukan dengan memalsukan dokumen kemahasiswaan.

Kapolresta Surakarta, AKBP Ribut Hari Wibowo mengatakan, kasus tersebut terungkap pada akhir perkuliahan semester satu tahun ajaran 2016/2017.

Saat itu staf ahli program studi kedokteran UNS melakukan input nilai, namun nama tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran berinisial LMP, FN, dan NK itu tidak ditemukan oleh sistem.

Baca Juga :  Baru Bebas Empat Bulan, Warga Nusukan Kembali Ditangkap Karena Simpan Sabu di Indekos

Kejanggalan ini lantas disampaikan kepada ketua Program Studi Kedokteran, bahwa ada tiga mahasiswa yang mengikuti perkuliahan namun tidak tercatat pada sistem dan data kemahasiswaannya tidak ditemukan. Laporan ini lantas diteruskan ke Dekan Fakultas Kedokteran.

Lalu, pihak fakultas memanggil tiga mahasiswa itu dan mengumpulkan dokumen kemahasiswaan yang diduga palsu. Terungkap bahwa ketiga mahasiswa tersebut masuk UNS melalui jalur “gelap”. Temuan itu lantas dilaporkan ke Polresta Surakarta 28 Juli 2017 lalu.

“Kami langsung lakukan penyelidikan. Ternyata ketiga mahasiswa itu ditawarkan menjadi mahasiswa dengan membayar. Satu orang membayar Rp 100 juta dan dua orang lainnya membayar masing-masing Rp 170 juta,” ujar Kapolresta.

Baca Juga :  Sumbangan SMA/SMK Meroket, Gubernur Jawa Tengah Diminta Lakukan Pengecekan

Untuk meyakinkan korbannya, kedua tersangka mencetak dokumen palsu. Di antaranya Kartu Rencana Studi (KRS), surat pemberitahuan kepada orangtua wali mengenai penerimaan mahasiswa dari Kabag Akademik, dan surat keterangan bank sebagai bukti setor.

“Berbagai dokumen dicetak sendiri, sehingga para korban percaya. Bahkan mereka sudah mengikuti perkuliahan selama satu bulan,” jelasnya.

1
2
3
BAGIKAN