JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Tingkat Konsumsi Ikan Masih Rendah, Warga Trangsan Sukoharjo Galakkan Gemarikan dan Berdayakan...

    Tingkat Konsumsi Ikan Masih Rendah, Warga Trangsan Sukoharjo Galakkan Gemarikan dan Berdayakan Kolam

    38
    BAGIKAN
    Joglosemar | Aris Arianto
    GALAKKAN GEMARI- Perwakilan Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, Grup 2 Kopassus, warga dan siswa menebarkan benih ikan nila di kolam milik Pemerintah Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Jumat (11/8/2017).

    SUKOHARJO- Tingkat konsumsi ikan warga Sukoharjo hingga kini masih terbilang rendah. Untuk mempercepat peningkatan konsumsi itu sejumlah langkah terus digalakkan.

    Salah satunya adalah dengan memberdayakan kolam maupun aliran air lainnya. Sebagaimana dilakukan lintas institusi dengan menebarkan ribuan benih ikan nila di kolam ikan milik Pemerintah Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Jumat (11/8/2017).

    Penebaran benih merupakan hasil kerja bareng Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo, Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan Kartasura, serta Pemerintah Desa Trangsan. Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo, Nety Harjianti melalui sekretaris dinas, Endang Tien Maryumi mengungkapkan, saat ini tingkat konsumsi ikan warga Sukoharjo masih terhitung rendah.

    Bilangan rendah tersebut di angka 17,2 kilo per kapita per tahun. Angka ini masih berada di bawah rata-rata Provinsi Jateng sebesar 26, maupun tingkat konsumsi ikan  secara nasional yang berada di angka 38 kilo per kapita per tahun.

    “Memang kalau dibandingkan tahun lalu sudah ada peningkatan. Tahun lalu tingkat konsumsi adalah 17 kilo per kapita per tahun,” ungkap Endang.

    Salah satu penyebab masih rendahnya tingkat konsumsi adalah tidak adanya ekosistem ikan yang cukup besar di wilayah Sukoharjo. Misalnya pantai atau laut maupun waduk besar. Karena itulah, pihaknya terus berupaya meningkatkan konsumsi tersebut. Intinya masyarakat harus semakin gemar makan ikan. Terlebih, ikan selain menyehatkan juga mencerdaskan. Selain itu harga belinya lebih terjangkau daripada sumber protein nabati lainnya.