JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Jaga Kebinekaan Lewat Budaya Literasi Museum

Jaga Kebinekaan Lewat Budaya Literasi Museum

36
BAGIKAN
Joglosemar | Dwi Hastuti
SEMINAR—Seminar bertema “Museum Berperan Merawat Kebinekaan dan Sebagai Agen Literasi Media” di Fakultas Ilmu Budaya Kampus UNS, Kamis (7/9/2017). Seminar rangkaian kegiatan Museum Goes To Campus ini menghadirkan sejumlah narasumber.

SOLO-Museum punya peranan yang sangat penting dalam pembentukan karakter masyarakat. Di tempat ini bukan hanya tempat menyimpan peradaban masa silam, melainkan juga menjadi ruang belajar bagi warga tentang semua sisi kemanusiaan.

    Demikian diungkapkan Dr Susanto MHum, Kepala Museum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dalam seminar bertema “Museum Berperan Merawat Kebinekaan dan Sebagai Agen Literasi Media” di Fakultas Ilmu Budaya Kampus UNS, Kamis (7/9/2017). Seminar ini merupakan program dari Museum Ranggawarsita Jawa Tengah.

    Seminar tentang museum ini merupakan rangkaian kegiatan Museum Goes To Campus yang digelar sejak 4 September kemarin di UNS. Selain Susanto, narasumber lain adalah Anas Syahirul dari Joglosemar, serta Hanny Nurmalita Anggadewi dan Ocha Binar Alieffi (keduanya Duta Museum Jawa Tengah).

    Susanto menambahkan, museum memang banyak menyimpan dokumen-dokumen dan kisah masa silam. Justru dari masa silam itulah, masyarakat diajak mengambil hikmah, inspirasi dan pembelajaran sehingga akan menghasilkan perilaku masyarakat kekinian yang lebih baik.

    “Termasuk bagaimana kebhinekaan dan keragaman bangsa kita ini sudah diajarkan sejak nenek moyang. Itu bisa ditelusuri lewat museum juga baik dokumentasi dan bukti-bukti lainnya. Lantas mengapa sekarang kebhinekaan kita terganggu. Maka masyarakat harus lebih banyak menengok ke museum agar bisa lebih banyak belajar,” paparnya.

    Sedangkan Anas Syahirul menekankan kemajuan teknologi komunikasi informasi yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan kemudahan bagi akses konsumsi koleksi museum. Keberadaan museum juga diharapkan bisa meningkatkan nalar literasi masyarakat.

    “Jangan sampai arus informasi yang begitu deras lewat medium digital kemudian membuat museum terlupakan. Apalagi, derasnya informasi tersebut sering mengalami bias dan distorsi kebenaran. Termasuk banyaknya hoaxs, fake news berita bohong lainnya. Disinilah museum justru punya daya tarik untuk meningkatkan nalar literasi masyarakat,” ungkap Anas yang juga Ketua Persatuan wartawan Indonesia (PWI) Surakarta ini.

    Anas menambahkan, museum juga punya peran strategis untuk merawat kebhinekaan. “Dengan mengampanyekan kunjungan ke museum akan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat akan kekayaan bangsa ini terutama dari sisi keberagaman dan kebhinekaan. Museum sebagai lembaga sosial kultural edukatif, sebagai suaka peninggalan sejarah, perkembangan alam dan manusia, keragaman kebudayaan dan kekayaan Indonesia lainnya,” tambah Anas.

    Anas juga menambahkan, melek literasi yang bisa dibangun dari museum maka akan bisa untuk mencegah, mereduksi dan meminimalisasi penyebaran hingga munculnya berita bohong yang dapat memicu ujaran kebencian yang dapat merusak ketertiban dan perdamaian di masyarakat. # Dwi Hastuti