Tags Posts tagged with "Mutilasi Di Sragen"

Mutilasi Di Sragen

0 394
Eko Sunarno Tersangka Mutilasi
Eko Sunarno Tersangka Mutilasi
Eko Sunarno Tersangka Mutilasi

SRAGEN—Sidang lanjutan kasus pembunuhan dan mutilasi pemilik Salon Kencana, Siska Tri Wijayanti (23) dengan terdakwa Eko Sunarno alias Ahmad Syaifudin Yuhri (32) dengan agenda pembacaan pembelaan dari terdakwa, Senin (24/2) kembali ditunda karena berkas pembelaan belum siap. Usut punya usut, ternyata pengacara terdakwa Moegiyono mengaku kebingungan dan sulit untuk mencari celah meringankan yang akan digunakan untuk menyusun pembelaan.

“Kami belum siap dan ini masih menyusun pembelaan. Tapi memang agak susah mencari celahnya, karena tuntutan jaksa dan fakta persidangan sangat kuat dan terdakwa juga sudah mengakui perbuatannya. Tapi tetap nanti akan kami susun pembelaannya,” ujar Moegiyono usai sidang kepada Joglosemar.

Meski sedikit pesimistis, Moegiyono menilai ada beberapa pertimbangan yang kemungkinan bisa masuk ke dalam pembelaan. Di antaranya kesaksian dari suami korban di depan persidangan yang sempat mencurigai ada keterlibatan pelaku lain selain Eko. Kesaksian ini akan dikonfirmasikan dengan keterangan terdakwa yang mengatakan bahwa korban diduga pernah terlibat asmara dengan seorang pria asal Gesi, yang diketahui juga mengontak pada beberapa hari menjelang pembunuhan.

“Eko juga pernah bilang Mr X ini adalah mantan pacar dari korban. Ini yang mungkin bisa jadi bahan pledoi kami. Ini yang akan kami koordinasikan dulu dengan terdakwa,” urainya.

Karena berkas pledoi belum siap, Ketua Majelis Hakim, Indrawan akhirnya menunda sidang yang akan dilanjutkan sepekan ke depan. Jaksa Penuntut Umum (JPU) perkara itu, Didik Sudarmadi mengatakan apapun pembelaan yang akan disampaikan, pihaknya sudah siap untuk membalasnya dengan replik. Ia juga menegaskan pada prinsipnya jaksa tetap akan bertahan pada tuntutan pidana hukuman seumur hidup, mengingat perbuatan terdakwa memenuhi unsur pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan tindakannya dinilai sadis dan kejam.

Sementara, penundaan sidang membuat pihak kerabat korban meradang. Suami korban, Jemi Dodot Adi Saputro mengaku jengkel dan berang dengan agenda sidang yang ditunda-tunda. “Jengkel saja, masa ditunda-tunda terus,” tegasnya. Wardoyo

0 871
Eko Sunarno Tersangka Mutilasi
Eko Sunarno Tersangka Mutilasi
Eko Sunarno Tersangka Mutilasi

SRAGEN—Eko Sunarno alias Ahmad Syaifudin Yuhri (32), warga Kampung Bangak RT 2 RW I, Sine, Sragen Kulon yang menjadi terdakwa kasus pembunuhan dengan cara mutilasi terhadap pemilik Salon Kencana, Siska Tri Wijayanti (23) warga Kampung Sidomulyo RT 46 RW XIII, Sragen Wetan, dituntut hukuman seumur hidup oleh jaksa penuntut umum (JPU). Alasan dari JPU, hukuman itu dianggap pantas dengan perbuatan terdakwa yang dipandang sadis dan keji.

Tuntutan itu mengemuka dalam sidang pembacaan tuntutan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Indrawan di Pengadilan Negeri (PN) Sragen, Senin (17/2). Tuntutan dibacakan oleh dua JPU dari Kejari Sragen, Didik Sudarmaji dan Susilowati. Dalam amar tuntutannya, JPU menyatakan terdakwa dengan sengaja telah melakukan pembunuhan sadis terhadap korban.

Perbuatan terdakwa dinyatakan memenuhi unsur pembunuhan berencana pasal 340 KUHP subsider 338 tentang pembunuhan, sehingga layak dijatuhi hukuman seumur hidup. Mendengar tuntutan itu, terdakwa menyatakan akan mengajukan pembelaan atau pledoi yang dijanjikan siap dalam satu pekan ke depan.

JPU Didik Sudarmaji mengatakan tuntutan hukuman seumur hidup itu diberikan dengan pertimbangan perbuatan terdakwa dipandang sangat sadis dan keji. Menurutnya, tuntutan itu juga sudah melalui tahapan konsultasi dengan pimpinan baik di Kejati Jateng maupun konsultasi ke Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Kejagung.

Meski lebih ringan dari keinginan kerabat yang meminta hukuman mati, Didik mengatakan tuntutan seumur hidup itu bukan akhir segalanya. Menurutnya, masih melalui proses sidang selanjutnya dan hukuman akhirnya juga tergantung pada putusan majelis hakim. “Jadi masih bisa berubah. Bisa jadi lebih berat,” katanya.

Sementara, penasihat hukum prodeo, Moegiyono yang ditunjuk mendampingi terdakwa memastikan akan menyusun pembelaan, karena itu hak terdakwa dengan mempertimbangkan hal-hal yang bisa meringankan. Namun demikian, ia mengakui jika dirinya lebih condong dengan dakwaan jaksa yang menurutnya sudah sesuai fakta hukum di persidangan. Soal hukuman seumur hidup, Moegiyono mengatakan pada prinsipnya sama dengan hukuman mati. “Tapi kalau hukuman mati kan langsung dieksekusi, kalau seumur hidup itu arahnya juga dihukum sampai mati, tapi pelan-pelan. Hanya itu saja bedanya,” terangnya.

Humas PN Sragen, Agung Nugroho mengatakan sidang akan ditunda sepekan ke depan yakni tanggal 24 Februari dengan agenda pembacaan pembelaan dari terdakwa. Wardoyo

0 567
Puluhan Aparat Bersiaga di Sidang Pembunuhan Siska
Puluhan Aparat Bersiaga di Sidang Pembunuhan Siska
Puluhan Aparat Bersiaga di Sidang Pembunuhan Siska

SRAGEN—Sidang lanjutan kasus pembunuhan dengan cara mutilasi pemilik Salon Kencana, Siska Tri Wijayanti (23) dengan terdakwa Eko Sunarno alias Syaifudin Yuhri (29) Senin (10/2) nyaris kembali ricuh di Pengadilan Negeri (PN) Sragen.

Suami korban, Jemi Dodot Adi Saputro (29) berusaha mengejar terdakwa seusai sidang gara-gara kecewa dengan agenda pembacaan tuntutan yang batal digelar.

Aksi Jemi itu dilakukan sesaat setelah sidang ditutup dan agenda pembacaan tuntutan dinyatakan ditunda sepekan ke depan. Begitu terdakwa dikawal aparat kepolisian keluar ruangan, mendadak Jemi bangkit dari tempat duduknya dan berusaha mengejar terdakwa. Akan tetapi aparat dengan cepat melarikan terdakwa sehingga tidak sempat terjadi baku hantam.

Diduga kuat, aksi itu dilakukan sebagai bentuk kekecewaan atas penundaan pembacaan tuntutan. Hal itu dibenarkan kerabat dekatnya, Taufik Hidayat. “Ya, wajar kecewa. Karena pembacaan tuntutan yang sangat ditunggu-tunggu tiba-tiba ditunda. Ini ada apa?,” ujarnya.

Belum Siap

Ketua PN Sragen, Didiek Riyono Putro, melalui Humas PN Sragen, Agung Nugroho, mengungkapkan sidang ditunda lantaran jaksa penuntut umum (JPU) belum menyiapkan tuntutan kepada terdakwa, Eko Sunarno. Namun, ia tidak bisa menjelaskan alasan detail karena penyusunan tuntutan sepenuhnya menjadi wewenang jaksa.

“Alasan penundaan jaksa penuntut umum belum bisa menyelesaikan tuntutan. Sidang ditunda hingga Senin (17/2) untuk memberikan kesempatan kepada JPU membuat tuntutan,” jelas Agung saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (10/2).

Disampaikannya, selama persidangan terdakwa yang melakukan pembunuhan terhadap Siska Tri Wijayanti, tak mengajukan saksi meringankan. Persidangan kasus pembunuhan paling menghebohkan sepanjang sejarah Sragen itu sudah menghadirkan 11 saksi.

Agung mengaku sidang kasus ini memang sempat menguras emosi dan konsentrasi hakim lantaran selama persidangan terdakwa kerap memberikan keterangan berbelit.

Seperti diberitakan sebelumnya, Eko menjadi terdakwa setelah melakukan pembunuhan disertai mutilasi terhadap Siska pemilik Salon Kencana pada September 2013. Atas perbuatannya tersebut, terdakwa dijerat Pasal 340 KUHP, subsider 338 tentang pembunuhan dan Pasal 351 tentang kepemilikan senjata tajam dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati.  Wardoyo

0 303
Eko Sunarno Tersangka Mutilasi

Terdakwa telah mengakui perbuatannya dan rencana pembacaan tuntutan tanggal 10 Februari mendatang.

Eko Sunarno Tersangka Mutilasi
Eko Sunarno Tersangka Mutilasi

SRAGEN—Terdakwa kasus pembunuhan disertai mutilasi, Eko Sunarno alias Syaifudin Yuhri (29) dengan korban pemilik Salon Kencana, Siska Tri Wijayanti (23), tidak mengajukan saksi yang meringankan dirinya. Dengan demikian, pelaku yang memproklamirkan diri sebagai Koordinator LSM Satgas Penegak Hak Asasi Manusia (HAM) dan guru spiritual itu tinggal menunggu tuntutan yang akan disampaikan jaksa.

Penegasan itu disampaikan oleh Ketua Pengadilan Negeri (PN) Sragen, Didiek Riyono Putro melalui humasnya, Agung Nugroho, Senin (3/2). Agung menyampaikan sejauh ini persidangan kasus pembunuhan paling menghebohkan sepanjang sejarah Sragen itu sudah melalui empat tahapan sidang. Majelis hakim yang diketuai Indrawan telah meminta keterangan terdakwa dan 11 saksi berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP) kepolisian.

Di antara saksi yang telah dimintai keterangannya adalah suami dari korban mutilasi Siska Tri Wijayanti, Jemi Dodot Edi Saputra, ayah Siska, dan Marini, seorang capster Salon Kencana milik Siska. Namun, terdakwa sendiri diketahui tidak mengajukan saksi yang dianggap meringankan dirinya. Sehingga, sidang akan dilanjutkan kembali dengan pembacaan tuntutan.

“Rencana pembacaan tuntutannya tanggal 10 Februari mendatang. Dari keterangan, terdakwa sendiri telah mengakui perbuatannya yaitu melakukan pembunuhan dan memutilasi terhadap Siska. Apalagi terdakwa juga tidak mengajukan saksi yang meringankan, sehingga keterangan saksi dan terdakwa dianggap cukup,” ujar Agung.

Ia menjelaskan, dalam persidangan sebelumnya memang terdakwa Eko Sunarno kerap memberikan keterangan yang berbelit-belit dan tidak sesuai dengan BAP di kepolisian. Sehingga tidak jarang atas sikapnya tersebut, membuat Ketua Majelis Hakim, Indrawan sedikit emosi. Agung juga menjelaskan sidang kasus mutilasi ini termasuk cepat dan tidak membutuhkan waktu lama. “Perkara ini termasuk cepat, tidak lama. Minggu depan sudah penuntutan,” pungkasnya.

Sementara, dalam dakwaan jaksa menyimpulkan, perbuatan terdakwa memenuhi unsur pembunuhan berencana pasal 340 KUHP subsider 338 tentang pembunuhan dan pasal 351 tentang kepemilikan senjata tajam dengan ancaman maksimal hukuman mati. Wardoyo

0 356
Sidang Terdakwa Pembunuhan Siska Tri Wijayanti

Terdakwa Sakit Hati Kedoknya Terbongkar

Sidang Terdakwa Pembunuhan Siska Tri Wijayanti
Sidang Terdakwa Pembunuhan Siska Tri Wijayanti

SRAGEN– Misteri pembunuhan sadis pemilik Salon Kencana Sragen, Siska Tri Wijayanti (23) oleh guru spiritualnya, Eko Sunarno alias Ahmad Syaifudin Yuhri (32) akhirnya terkuak. Eko mengaku memang sudah merencanakan pembunuhan karena sakit hati dituduh telah menjual Siska ke orang lain dan Siska juga telah membongkar kedoknya ke suaminya.

“Saya emosi karena Jemi (suami Siska-red) menuduh saya telah menyuruh Siska menjual diri. Saya sakit hati Siska juga telah menceritakan ke suaminya kalau semua uang-uang (untuk ritual-red) itu digunakan untuk keperluan saya sendiri,” ujar Eko saat ditanya latar belakangnya tega menghabisi Siska oleh majelis hakim dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Sragen, Senin (27/1).

Eko yang mengaku pernah dipenjara satu  tahun tiga  bulan karena kasus penipuan tenaga kerja, juga tak menampik jika sudah berniat membunuh Siska saat pertemuan terakhir, Sabtu 21 September 2013. Malam itu ia sudah menyiapkan suntikan di jok sepeda motornya untuk menyedot bensin dan membakar korban serta menyiapkan pedang untuk memutilasi dan membuang potongan tubuh korban di Sungai Mungkung, Desa Pandak, Sidoharjo.

Namun untuk menuju pengakuan itu, majelis hakim sempat dibuat emosi dengan keterangan terdakwa yang berbelit-belit dan berbeda dengan keterangan di berita acara pemeriksaan (BAP) kepolisian.

Di antaranya pengakuan terdakwa yang baru kenal Siska dan Jemi, antara bulan Agustus-September 2013, sementara di BAP perkenalan terjadi pada akhir Juni 2013. Kemudian, terdakwa membantah menerima uang selama ritual mulai dari uang Rp 12 juta seharga sapi, hingga terakhir uang Rp 20 juta untuk “tunggangan” si ghaib yang menurut suami Siska kemudian digunakan terdakwa untuk membeli sepeda motor Honda CBR 150.

Eko juga berkilah bahwa semua uang yang diminta selama ritual pengasihan itu digunakan untuk membeli minyak Jafaron untuk memperlancar ilmu pengasihan. Namun saat ditunjukkan bahwa ada beberapa barang yang dibeli untuk si gaib seperti hem dan celana jeans serta sepeda motor, ternyata justru dipakai terdakwa sendiri terdakwa pun akhirnya tak berkutik.

“Oh, jadi gaib itu tahu mode juga. Pakai hem dan celana jeans. Lalu “tunggangan” untuk si gaib itu akhirnya diwujudkan sepeda motor untuk kamu pakai kan?” bentak Indrawan dijawab anggukan oleh terdakwa.

Terdakwa juga sempat terpojok ketika mencoba mengelabui hakim dengan bilang bahwa ritual terakhir dilakukan di Sendang Candi Cetho, Kemuning tanggal 9 Juli adalah yang terakhir. Padahal, terdakwa juga mengakui setelah itu sempat bertemu Siska dan suaminya di kos untuk ritual sebelum kemudian berakhir dengan pembunuhan. Saking jengkelnya, Indrawan sempat berang dan mengingatkan terdakwa bahwa kesaksiannya juga akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.

“Anda bohong sama saya. Ritual terakhir katanya di Candi Cetho setelah itu gak ada lagi. Kau tadi bilang bertemu lagi di kos untuk ritual. Anda sudah kejebak,” ujar Indrawan berang. Menurut Indrawan, sidang akan dilanjutkan sepekan ke depan. Wardoyo

0 373
SIDANG MUTILASI

Ritual Abal-abal Kuras Harta Korban Rp 75 Juta

Selama hampir tiga bulan ritual berlangsung, terdakwa meminta mahar berupa uang tunai mulai Rp 250.000 hingga Rp 20 juta.

SIDANG MUTILASI
SIDANG MUTILASI

SRAGEN—Jemi Dodot Adi Saputro (29), suami Siska Tri Wijayanti (23), pemilik Salon Kencana yang menjadi korban mutilasi, mencurigai aksi pembunuhan sadis itu tidak hanya melibatkan Eko Sunarno alias Ahmad Syaifudin Yuhri (32), tapi ada tersangka lain yang ikut terlibat. Tidak hanya itu, ia juga menyebut pembunuhan terjadi setelah istrinya berulang kali menagih uang biaya ritual abal-abal dengan total Rp 75 juta karena ilmu pelarisan yang dijanjikan terdakwa tidak terbukti.

Fakta itu terungkap dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Sragen yang dipimpin Hakim Ketua, Indrawan, Senin (13/1). Sidang digelar dengan agenda mendengar keterangan dua saksi yakni Jemi Dodot sebagai saksi utama dan ayah kandung Siska, Turut (55).

Sidang dibuka dengan kesaksian Jemi yang menuturkan kronologis perkenalannya dengan terdakwa pada 25 Juni 2013, yang diperkenalkan sebagai guru spiritual. Dari perkenalan itu, terdakwa menawarkan jasa bisa membantu melariskan salon dan kelancaran pekerjaan Jemi lewat sarana ritual selama 41 hari. Selama hampir tiga bulan ritual berlangsung, terdakwa meminta mahar berupa uang tunai mulai Rp 250.000 hingga seharga satu sepeda motor yakni Rp 20 juta, dengan dalih untuk memperlancar ritual dan memenuhi permintaan sang “gaib”.

Menurut Jemi total uang yang sudah dikeluarkan untuk mahar mencapai Rp 75 juta dan oleh terdakwa dijanjikan akan dikembalikan berlipat jika ilmu pelarisan tidak terbukti. Namun setelah lewat 41 hari bahkan hingga hari ke-93 tidak terbukti, ia dan istrinya pun berniat menagih janji pengembalian uang.

Namun saat ditagih terdakwa selalu mengelak, hingga akhirnya pada Sabtu 21 September 2013, istrinya pamitan diajak ritual oleh terdakwa, sebelum kemudian ditemukan tewas dengan tubuh terpotong-potong di Sungai Mungkung daerah Pandak, Sidoharjo. “Kami nggak bisa menolak karena selalu diancam dan ditakut-takuti, kalau sampai bocor ke luar atau tidak menuruti maka nyawa saya, almarhum (istri), dan anak saya yang akan melayang,” ujar Jemi di hadapan majelis hakim.

Juga diungkapkan pada Minggu 22 November 2013 saat jasad Siska ditemukan, terdakwa sempat beralibi dengan mengiriminya pesan singkat yang intinya memberi tahu ada mayat perempuan dimutilasi bernama Siska. Kemudian, ia juga sempat menyampaikan kepada hakim soal kecurigaannya adanya pelaku lain selain terdakwa. Akan tetapi ketua majelis langsung menjawab bahwa hal itu sudah di luar ranah pengadilan.

Meski tak ricuh, sempat terjadi sedikit ketegangan antara Jemi dengan terdakwa di akhir sidang. Saat Jemi berulang kali meyakinkan hakim bahwa rumah tangganya dengan Siska tidak bermasalah, terdakwa justru menyanggah dan menyebut jika rumah keduanya tidak harmonis. Wardoyo

SIDANG MUTILASI

Dari Si “Gaib” Hingga Misteri Tisu Basah di Kamar Indekos Siska

SIDANG MUTILASI
SIDANG MUTILASI

Ada fakta menarik dan menimbulkan tanda tanya besar dalam sidang lanjutan perkara mutilasi Siska Tri Wijayanti dengan terdakwa Eko Sunarno, Senin (13/1). Dari uraian kesaksiannya, suami Siska, Jemi Dodot sempat berulang kali menyebut bahwa terdakwa minta disediakan uang tunai dan beberapa barang bernilai jutaan untuk si “gaib”.

“Ya, awalnya dia (Eko) minta disediakan uang Rp 7 juta di dalam guci, katanya untuk gaibnya. Lalu minta dibelikan mahar seharga satu ekor sapi Rp 12 juta, katanya itu yang minta juga gaibnya. Terus dia bilang gaibnya minta dibelikan perhiasan dan pakaian seharga Rp 1,6 juta. Terakhir, gaibnya minta dibelikan tunggangan sepeda motor Vixion atau Honda CB 150, akhirnya saya beri uang Rp 20 juta,” ujar Jemi memberikan kesaksiannya.

Munculnya kata “gaib” dengan permintaan aneh-aneh itu kontan saja membuat majelis hakim dan pengunjung sidang tertawa. Bahkan, saat Jemi menyebutkan satu permintaan ke permintaan lain, selalu diiringi teriakan dari arah pengunjung yang seolah sudah menangkap bahwa istilah “gaib” itu hanyalah modus terdakwa. “Woooalah, gaibe jik kurang,” celetuk beberapa pengunjung seolah menyindir modus terdakwa.

Selain misteri si “gaib” sidang kemarin juga menguak proses ritual yang dijalankan terdakwa. Menurut Jemi selain dengan cara semedi di tempat salon milik korban, istrinya juga beberapa kali diajak ritual kungkum di Sendang Saraswati, Candi Cetho, Ngargoyoso, Karanganyar dan minum air kembang tujuh rupa bercampur alkohol. Namun ia juga memastikan setiap kali ritual, ia selalu mengantar dan menunggui istrinya, kecuali pada ritual terakhir sebelum terjadinya pembunuhan.

Fakta menarik lainnya bahwa saat istrinya menghilang sejak Sabtu 21 November 2013 siang, Jemi sempat mencari ke kamar indekosnya di Tegalsari, Sragen Kulon yang bersebelahan dengan kamar indekos terdakwa. Saat itu, Jemi terkejut melihat tisu basah di keranjang sampah kamarnya. Ia pun mencurigai jika sebelum dibunuh, terdakwa terlebih dahulu menyuruh istrinya untuk melayani pria lain agar bisa memberi terdakwa uang. “Saya pernah menemukan SMS terdakwa ke HP istri saya, yang intinya harus menyediakan uang kalau perlu jual diri,” ujar Jemi.

Sementara, ayah kandung Siska, Turut (55), mengaku tidak akan memaafkan perbuatan terdakwa dan meminta terdakwa dihukum mati. “Sopo sing trima Mas, anak dipateni koyo ngono. Utang pati, yo kudu disaur pati,” ujarnya lirih. Wardoyo

0 328
Rekonstruksi pembunuhan disertai mutilasi
Rekonstruksi pembunuhan disertai mutilasi
Rekonstruksi pembunuhan disertai mutilasi beberapa waktu yang lalu

SRAGEN—Setelah menunggu hampir tiga bulan, Polres Sragen akhirnya resmi melimpahkan berkas perkara berikut status penahanan Eko Sunarno alias Ahmad Syaifudin Yuhri (32), pelaku pembunuhan dan mutilasi pemilik Salon Kencana Sragen, Siska Tri Wijayanti (23) pada akhir September lalu. Dengan pelimpahan itu, jagal sadis yang sudah ditunggu ancaman hukuman seumur hidup itu dipastikan segera menjalani persidangan.

Kepastian pelimpahan tersebut disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Sragen, AKP Yohanes Trisnanto, Sabtu (21/12). Mewakili Kapolres AKBP Dhani Hernando, ia menyampaikan penyidik Polres sudah resmi menuntaskan pelimpahan tahap kedua yang meliputi berkas perkara, barang bukti dan tersangka ke penyidik Kejari Sragen.

“Ya, sudah kami serahkan ke penyidik Kejari dalam hal ini Jaksa Penuntut Umum (JPU). Artinya, proses penyidikan di Polres sudah selesai dan tanggung jawab penyidikan selanjutnya ada di tangan JPU,” ujar Yohanes.

Tersangka Eko dihadirkan dan diserahkan ke kejaksaan sekitar pukul 11.00 WIB dan sempat memakan waktu hampir satu jam. Menurutnya, dengan penyerahan tanggung jawab tersebut, status penahanan tersangka yang selama hampir tiga bulan di tangan Polres, juga resmi beralih menjadi tahanan kejaksaan. Selanjutnya, berkas perkara kasus tersebut menjadi kewenangan penyidik kejaksaan dan tinggal menunggu proses persidangan. “Tugas dan tanggung jawab kami untuk menuntaskan penyidikan juga sudah selesai,” imbuhnya.

Dalam kasus ini, Eko dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup. Tidak hanya itu, pelaku juga akan dikenai UU Darurat No 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun.

Pasal pembunuhan berencana itu juga diperkuat dengan fakta saat dilakukan rekonstruksi yang membuktikan bahwa aksi pembunuhan dan pemotongan tubuh korban sudah direncanakan oleh pelaku. Dalam keterangan sebelumnya, Yohanes menjelaskan dari hasil penyidikan maupun fakta di rekonstruksi, aksi pembunuhan sadis itu hanya dilakukan sendiri oleh Eko. “Memang datang dua kali bolak-balik ke lokasi dengan sepeda motor yang berbeda. Tapi orangnya, ya cuma satu si pelaku sendiri,” urai Yohanes. Wardoyo

0 907
Rekonstruksi pembunuhan disertai mutilasi

Rekonstruksi Mutilasi Pemilik Salon

Potongan-potongan tubuh korban termasuk kepalanya dibuang ke sungai untuk menghilangkan jejak.

Rekonstruksi pembunuhan disertai mutilasi
Rekonstruksi pembunuhan disertai mutilasi

SRAGEN—Misteri pembunuhan dengan cara mutilasi yang dilakukan Eko Sunarno alias Ahmad Syaifudin Yuhri (32) terhadap pemilik Salon Kencana, Siska Tri Wijayanti (23) melewati 52 adegan sadis. Kesadisan pelaku juga tergambar dari cara memenggal leher warga Sidomulyo RT 46 RW XIII, Sragen Wetan itu yang dilakukan lebih dari lima kali hingga terputus.

Fakta tersebut terungkap saat digelar rekonstruksi atau reka ulang kasus pembunuhan tersadis sepanjang sejarah Sragen itu di lapangan Mapolres Sragen, Senin (21/10). Reka ulang menghadirkan pelaku, tim jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Sragen, dan tim penyidik Polres Sragen.

Dalam reka ulang itu, warga Kampung Bangak RT 2 RW I, Kelurahan Sine, Sragen tersebut memperagakan seluruh proses pembunuhan yang terdiri dari 52 adegan. Dari fakta yang diperagakan pelaku, aksinya diawali dengan mengantar korban dengan sepeda motor milik teman korban, Yamaha Mio AD 2193 TE ke lokasi kejadian di tepian Sungai Mungkung di Desa Pandak, Sidoharjo sekitar pukul 23.00 WIB.

Setelah meninggalkan korban yang dijanjikan akan melakukan ritual, pelaku kemudian pulang mengambil pedang samurai. Sekembalinya ke lokasi, pelaku langsung menusukkan pedang ke perut korban hingga terburai. Lalu ia mendekat dan mengecek napas korban. Karena belum sepenuhnya meninggal, pelaku kemudian mencari daun-daun kering yang ada di sekitar lokasi yang kemudian digunakan untuk membakar tubuh korban. Sebelum membakar, pelaku terlebih dahulu mengambil bensin di tangki sepeda motor dengan cara menyuntik menggunakan pipet yang kemudian disemprotkan ke daun dan tubuh korban.

Ketika kobaran api mulai mengecil, pelaku kembali mendekati tubuh korban sembari membawa pedang. Karena melihat tangan kanan korban masih bergerak, pelaku langsung membabatkan pedangnya hingga tangan kanan korban nyaris putus. Tubuh korban yang sudah terbakar dengan tangan nyaris putus itu kemudian diseret ke tepian sungai. Saat diseret itulah, kaki kanan korban yang paling banyak terbakar terputus di tengah jalan.

Tak cukup sampai di situ, pelaku kemudian memenggal leher korban untuk menghilangkan jejak. Sadisnya, aksi pemenggalan dilakukan lebih dari lima kali hingga kepala korban terputus. Potongan kepala itu lalu dilempar ke sungai. Setelah kepala dilempar, baru satu per satu potongan kaki, tangan, dan  terakhir tubuh korban menyusul dibuang ke sungai. Setelah semua jasad dibuang, pelaku kemudian melepas pakaian yang dikenakannya dan turut dibuang ke sungai.

Rekonstruksi ditutup dengan pembuangan pedang yang dibuang ke jembatan di Dukuh Sumber, Singopadu, Sidoharjo. Selama proses reka ulang, pelaku lebih banyak diam. Dikonfirmasi, Kapolres Sragen AKBP Dhani Hernando membenarkan adanya rekonstruksi tersebut. Wardoyo

0 397
MASIH DITUTUP- Kondisi "Salon Kencana" milik almarhum Siska, korban mutilasi, masih terlihat tertutup rapat Selasa (1/10). Menurut pihak kerabat, meski meninggalkan trauma mendalam, usaha yang baru dirintis beberapa bulan itu tetap akan dibuka kembali. Wardoyo
MASIH DITUTUP- Kondisi "Salon Kencana" milik almarhum Siska, korban mutilasi, masih terlihat tertutup rapat Selasa (1/10). Menurut pihak kerabat, meski meninggalkan trauma mendalam, usaha yang baru dirintis beberapa bulan itu tetap akan dibuka kembali. Wardoyo
MASIH DITUTUP- Kondisi “Salon Kencana” milik almarhum Siska, korban mutilasi, masih terlihat tertutup rapat Selasa (1/10). Menurut pihak kerabat, meski meninggalkan trauma mendalam, usaha yang baru dirintis beberapa bulan itu tetap akan dibuka kembali. Wardoyo

SRAGEN—Kendati menyimpan kenangan pahit bagi keluarganya, Jemi Dodot Adi Saputro (29), suami korban mutilasi, Siska Tri Wijayanti (23), mengaku akan berusaha mempertahankan dan menghidupkan kembali usaha salon yang sempat dirintis istrinya. Hal itu diungkapkan Jemi kepada Joglosemar, Selasa (1/10).

Usaha salon itu rencananya akan kembali dibuka setelah situasi dan kondisi psikologisnya pulih. Menurut Jemi, keputusan mempertahankan usaha itu dikarenakan salon tersebut dibuka dari hasil jerih payahnya bersama istri dan belum ada setengah tahun beroperasi. “Ya, rencananya akan saya buka lagi. Tapi belum bisa memastikan kapan waktunya. Nanti yang ngurusi biar karyawan almarhum istri saya,” ujarnya.

Meski belum bisa menghilangkan ingatan kepedihan atas insiden kematian tragis istrinya, Jemi berusaha tegar dan menganggap apa yang menimpanya itu sudah suratan yang di atas. Selain berharap istrinya bisa tenang di alam kubur, ia juga berharap kejadian ini tidak terulang kembali di masyarakat lain.

Sementara, pantauan di lokasi kemarin, usaha salon yang berlokasi di Tamanasri, Kroyo, Karangmalang itu masih ditutup. Menurut Najem, pengelola bengkel sepeda motor yang bersebelahan dengan salon milik Siska, salon itu sudah tutup sejak Minggu (22/9) pagi atau pada hari ditemukannya jasad Siska.

Ia juga mengatakan sebelumnya salon tersebut memang ramai dan banyak dikunjungi pelanggan. Tidak hanya pelanggan wanita namun sebagian juga dari kalangan pria. Najem juga mengungkapkan salon itu biasanya tutup sekitar pukul 19.00 WIB. “Tapi kalau ada temannya yang datang agak malam sedikit, juga tetap dilayani. Tapi biasanya jam 19.00 WIB sudah ditutup,” urainya. Wardoyo