JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Dugaan Penyimpangan Tukar Guling Rp 1,6 Miliar: Cek Bangunan SD, Tim...

Dugaan Penyimpangan Tukar Guling Rp 1,6 Miliar: Cek Bangunan SD, Tim Teknisi Terhenyak

233
BAGIKAN

SRAGEN—Setelah dua tahun tenggelam, kasus dugaan penyimpangan tukar guling tanah kas dan aset Pemerintah Desa (Pemdes) Banyurip, Sambungmacan yang terkena proyek tol Solo-Mantingan II, senilai hampir Rp 1,6 miliar mencuat kembali. Selain dugaan mark up proses tukar guling tanah kas, bangunan baru SD Banyurip 2 yang dibangun sebagai pengganti SD lama juga dinilai sarat ketidakberesan.

Untuk mengusut indikasi tersebut, aparat Polres dan tim teknisi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta diam-diam sudah mulai bergerak. Kamis (25/10), bahkan kedua tim itu langsung mengecek kondisi bangunan SD yang menelan anggaran Rp 586 juta. Dan hasilnya, tim dibuat terkesima dengan kondisi bangunan yang baru dua tahun berdiri itu. “Memang tidak layak. Tapi ini baru pemeriksaan awal,” ujar salah satu teknisi dari UNS yang enggan menyebut identitasnya ditemui di sela-sela pengecekan.

Teknisi dari UNS itu mengecek kondisi keseluruhan bangunan mulai dari lantai, tembok, kusen, kayu, hingga besi yang digunakan. Di setiap objek yang dicek, tim teknisi itu terlihat selalu berdecak. Sayangnya, baik teknisi maupun aparat hanya diam saat dimintai keterangan. Saat dikejar-kejar wartawan, mereka hanya bilang kegiatan pengecekan itu baru tahap awal.

Pantauan Joglosemar, kondisi bangunan SD itu sungguh memprihatinkan. Tembok bangunan sebagian sudah retak-retak. Ketika tim teknisi mencoba mengetok-ngetok, bagian luar tembok langsung hancur. Lalu, kondisi lantai yang seharusnya keramik ternyata hanya dicor dan semuanya sudah hancur. Kemudian kusen-kusen jendela juga sudah usang dan bukan dari kayu jati.

Sementara, Kepala SD Banyurip S, Suharno, mengatakan SD itu memang dibangun sejak dua tahun lalu. Namun mengenai teknis dan kondisi awal bangunan, ia mengaku tidak tahu menahu dan tak pernah dilibatkan.

Pengecekan kemarin juga dipantau oleh koordinator Forum Komunikasi Warga Banyurip (FKWB), Gunawan. Ia mengatakan pengecekan itu terkait dengan laporan FKWB soal tukar guling tanah desa Rp 1,6 miliar yang diduga terjadi penyimpangan. “Untuk bangunan SD dananya Rp 586 miliar tapi kondisinya bisa lihat sendiri. Baru dua tahun sudah hancur karena sejak awal memang banyak menyalahi bestek. Kayunya banyak kayu bekas, besinya yang mestinya ukuran 10 cuma pakai ukuran 8,” ujarnya.

Sayangnya,  dari pihak Pemdes belum bisa dikonfirmasi. Saat tim mendatangi kantor desa, kantor sudah tutup dan tidak satu pun perangkat yang berada di kantor.  Wardoyo