JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Giliran Bentrok di Palu

    Giliran Bentrok di Palu

    452
    BAGIKAN

    PALU—Belum lagi bentrok antarwarga di Lampung yang menewaskan 10 orang mereda, bentrok berdarah antarwarga pecah di Palu, Sulawesi, Selasa (30/10). Bentrok terjadi antara warga Kelurahan Tatura Selatan, Kota Palu dan Kelurahan Tinggede, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

    Tiga sepeda motor, sebuah televisi dan sebuah gerobak jualan singkong milik Ny Hasnah dan lapak  musnah dibakar massa dari Kelurahan Tinggede,  sekitar pukul 14.00 WITA.

    Hasnah menceriterakan, sekitar pukul 14.00 siang, puluhan warga dari arah Tinggede muncul dan meletuskan senjata rakitan jenis dum-dum di atas jembatan yang memisahkan kedua kelurahan tersebut.

    Setelah puas memainkan senjata, mereka kemudian mengambil minyak tanah miliknya lalu membakar habis kiosnya dan tiga sepeda motor yang diparkir di sekitar gerobak kripik singkong.

    “Kami lari karena takut menyaksikan aksi mereka dari jauh. Saya pikir mereka juga akan membakar rumah kami. Hanya minyak tanah dan minyak goreng mereka ambil untuk membakar,” ujarnya, seperti dikutip Seruu.com, Selasa (30/10) .

    Saat terjadi kebakaran, warga Tatura Selatan muncul, dan terjadi saling serang menggunakan senjata rakitan di atas jembatan rangka baja sepanjang 100 meter. Bentrok  yang terjadi di Jalan Gusti Ngurah Rai itu berlangsung sekitar satu jam. Kedua kubu yang bentrok memegang senjata parang, golok dan tombak serta dum-dum.

    Polisi dan TNI segera muncul di lokasi, sehingga bentrokan fisik bisa segera diredam. Menurut keterangan yang dihimpun dari warga yang bertikai di lapangan, bentrokan dipicu oleh perselisihan pemuda saat Idul Adha 1433 Hijriah 26 Oktober 2012 lalu.
    Wakil Bupati Sigi, Livingstone Sango dan Wakapolres Palu Kompol Boyke Watimena telah turun di lokasi bentrok dan melakukan pendekatan dengan kedua kelompok massa untuk meredakan ketegangan.

    Terlihat Lengang
    Sementara itu, suasana Desa Balinuraga, Way Panji, Kalianda, Lampung Selatan terasa lengang. Puing-puing rumah pascabentrok antarwarga di kampung itu masih terlihat jelas. Aparat gabungan TNI/Polri berjaga ketat di lokasi bentrokan yang menewaskan 10 orang dalam dua hari, Sabtu dan Minggu kemarin.

    Saat  memasuki gapura khas warga Desa Balinuraga, deretan rumah porak poranda. Sisa pembakaran masih terlihat di rumah-rumah yang menjadi sasaran amuk warga. Terlihat kendaraan sepeda motor di beberapa rumah teronggok dan hanya tersisa rangka hangus.
    Personel TNI dan Polri dengan senapan laras panjang bersiaga di rumah-rumah warga di Balinuarga. Water canon dan kendaraan lapis baja disiagakan di desa yang menjadi titik pecahnya bentrok berdarah.

    “Sistem keamanan kita ternyata belum sepenuhnya efektif dalam mengatasi kerusuhan yg terjadi di kawasan Lampung Selatan,” ujar anggota Komisi III DPR Martin Hutabarat, Selasa (30/10).

    Politisi partai Gerindra itu mempertanyakan kemampuan dan integritas aparat keamanan yang menurutnya gagal menjaga kawasan konflik. “Jangan-jangan aparat kita tidak dapat diandalkan menjaganya, padahal NKRI ini harus bisa dijaga dengan kemampuan aparat keamanan yang andal,” lanjutnya.  Detik