JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Kebinekaan Terus Digelorakan

Kebinekaan Terus Digelorakan

188
BAGIKAN

SOLO—Semangat kebinekaan terkait peringatan Sumpah Pemuda bergelora di mana-mana, Minggu (28/10). Di Solo, beberapa elemen mahasiswa dan organisasi masyarakat memperingatinya dengan berbagai cara, mulai dari orasi dan aksi damai secara massal, namun juga menampilkan pertunjukan seni.

Dalam peringatan Sumpah Pemuda di Solo, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-UNS misalnya, menggelar aksi damai dalam acara Car Free Day (CFD) di Jalan Slamet Riyadi. Puluhan mahasiswa melakukan orasi dan  aksi teatrikal untuk  menyentil semangat kepemudaan saat ini yang tergerus oleh kemajuan zaman.

“Maraknya tawuran, korupsi menjadi refleksi bagi pemuda. Pemuda harus menjunjung tinggi nilai persatuan yang ada di dalam ikrar Sumpah Pemuda. Selain itu juga harus menanamkan nasionalisme,” ujar Jani, koordinator aksi.
Para mahasiswa lalu mengajak pengunjung CFD untuk turut serta menuliskan harapan-harapan mereka  di atas spanduk.

Spanduk bertuliskan judul “Tuliskan Harapanmu untuk Pemuda”  tersebut rencananya akan diserahkan ke Pemkot Surakarta dengan harapan pesan warga Solo itu diimplementasikan.

Aksi BEM  UNS tersebut berlanjut malam harinya dengan melakukan refleksi yang berlangsung di depan Boulevard kampus UNS. Refleksi tersebut ditutup dengan pembacaan Sumpah Pemuda dan Sumpah Mahasiswa yang menggambarkan bahwa kejayaan Indonesia berada di pundak para pemuda.

“Kami disadarkan untuk aktif menyikapi masalah-masalah yang sedang terjadi. Kami semua juga diingatkan untuk tidak bersikap apatis terhadap berbagai permasalahan yang ada dan menanti untuk kami selesaikan,” ujarnya.

Sementara itu, fans Moncong Putih Solo mengadakan kegiatan Musik Kebangsaan di Pendapa Sriwedari Solo, Minggu (28/10)  malam. Peringatan itu menampilkan kolaborasi gamelan dan musik etnik yang dibawakan dengan apik. Acara tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Aria Bima dan Kepala Dinas  Kebudayaan dan Pariwisata Solo, Widdi Srihanto.

Salah seorang panitian kegiatan, Sari Dasanta mengatakan, peringatan itu untuk merefleksikan bagaimana perjuangan pemuda zaman dulu memiliki semangat nasionalisme yang luar biasa. “Sebagai generasi penerus, tak hanya bahasa, bangsa, dan tumpah darah Indonesia yang dikedepankan, namun keberadaan Pancasila dan UUD 1945 juga harus kita terapkan dalam kehidupan kita,” ujarnya.

Tawuran Tetap Terjadi
Akan tetapi, semangat memperingati Sumpah Pemuda tersebut tidak selaras dengan fakta yang terjadi di lapangan. Pada hari yang sama, bentrokan antarwarga terjadi di Agom, Sidomulyo, Lampung Selatan, Lampung. Tiga orang tewas dan dua lainnya luka berat dalam aksi brutal tersebut. Hingga kini, polisi masih menengahi kedua kubu agar tidak terjadi bentrok susulan.
“Memang benar, ada tiga korban meninggal. Dua korban luka berat. Ini situasi masih panas,” kata Kapolres Lampung Selatan AKBP Tatar Nugroho, Minggu (28/10).

Berdasarkan informasi di Polsek, bentrokan bermula pada Sabtu (27/10) malam,  ketika pemuda dari kedua desa tersebut terlibat saling senggol di jalan raya. Dua pemudi asal Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor, diganggu pemuda asal Desa Balinuraga, sehingga terjatuh dan mengalami luka-luka.  Ronald Seger Prabowo | Raditya     Erwiyanto | Detik