JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Internasional Korban Tewas di Myanmar Lampaui 100 Orang

Korban Tewas di Myanmar Lampaui 100 Orang

273
BAGIKAN

YANGON—Jumlah koban tewas dalam kekerasan etnik di negara bagian Rakhine, Myanmar, yang terjadi sejak Minggu (21/10) lalu mencapai 112 orang. Sementara 72 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk anak-anak.

Juru bicara pemerintah negara bagian Rakhine, Win Myaing, mengatakan, bentrokan antara etnik Rakhine yang beragama Budha dan etnik Rohingnya yang beragama Islam itu berlangsung di empat kota di sebelah utara ibukota provinsi, Sittwe. “Hingga pagi ini, 51 pria dan 61 perempuan telah tewas,” kata Win Myaing, seperti dikutip kantor berita AFP, Jumat (26/10).

Insiden kali ini menambah buruk kondisi di wilayah Rakhine, yang sebelumnya dilanda kerusuhan serupa pada Juni lalu yang menewaskan 90 warga. Pascakerusuhan yang menyebabkan sekitar 2.000 rumah warga terbakar, Pemerintah Myanmar telah menetapkan status darurat.

Keputusan penetapan status darurat ini diambil setelah kerusuhan menyebar ke beberapa wilayah kota lain di Sittwe. Kerusuhan yang kini menyebar ke wilayah Kyauktaw menjadi perhatian pemerintah dan dunia luar. Presiden Myanmar Thein Sein khawatir kerusuhan ini bisa merusak citra Myanmar yang tengah melakukan upaya reformasi. “Ketika dunia internasional tengah memperhatikan transisi demokratis di Myanmar, kekerasan semacam ini tentunya dapat melukai citra negara,” sesal Thein Sein, seperti dikutip Assocciated Press.

“Militer, Polisi dan pihak berwenang lainnya terus bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mengembalikan kedamaian dan kestabilan. Kami akan mengambil tindakan hukum kepada setiap orang yang mencoba menyulut kerusuhan,” lanjut Presiden Thein.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon menggambarkan kerusuhan terbaru ini amat mengkhawatirkan. Menurutnya, kerusuhan terbaru tidak terlepas dari rasa saling curiga antara kelompok etnis Rohingya dan etnis Rakhine.

Ban mendesak pihak Myanmar agar segera mengambil tindakan untuk mengendalikan keadaan di wilayah yang dilanda kerusuhan. “Kerusuhan, retorika ekstremis dan mengincar pihak minoritas harus segera dihentikan. Bila tidak dilakukan maka dapat menyebabkan kerusakan lebih parah,” tandas Ban.

Sejak Juni lalu, jam malam telah diberlakukan di beberapa wilayah di Rakhine. Diperkirakan dengan pecahnya kerusuhan terbaru kali ini, gencatan senjata bisa jadi akan diperpanjang. Sebelumnya memang ada kekhawatiran bahwa prajurit Myanmar gagal untuk memberikan perlindungan kepada warga Rohingya. Namun tidak diketahui apakah pihak keamanan lalai untuk bertindak dalam kerusuhan terbaru kali ini.

Krisis di Myanmar berlangsung sejak lama. Meski etnis Rohingya sudah berada di Myanmar sejak ratusan tahun lalu, mereka masih dianggap sebagai warga asing oleh pemerintah dan rakyat Myanmar. Pemerintah Myanmar tidak menganggap Rohingya termasuk dalam 135 kelompok etnis yang ada di wilayah mereka.

Kelompok HAM dunia menilai etnis Rohingya terus dihinggapi masalah rasisme, karena warga Rohingya berbicara dialek Bengali dan berasal dari masyarakat muslim Bangladesh. Mereka pun terus ditolak kewarganegaraannya dan lebih banyak dipindahkan ke lokasi penampungan.  Detik