JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten IPHI Desak Pembongkaran Kasus Haji

IPHI Desak Pembongkaran Kasus Haji

288
BAGIKAN

KLATEN—Kasus ditemukannya jemaah haji dengan KTP Asli tapi Palsu (Aspal) membuat pihak Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Klaten sektor timur mendesak Kementerian
Agama (Kemenag) Klaten untuk segera memanggil Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Hal ini dilakukan agar permasalahan jemaah haji ber-KTP Aspal dapat segera terbongkar.
Koordinator Panitia Persiapan Pemberangkatan dan Penjemputan Haji (P3H) sektor timur, Sunarto, me-
ngatakan masalah ini harus segera diusut tuntas agar tidak meresahkan masyarakat. Terlebih, sudah diketahui adanya upaya penerbitan KTP Aspal yang digunakan jemaah haji dari luar Klaten. Hal ini terbukti dari keterangan desa dan warga yang sesuai dengan alamat KTP jemaah haji tersebut tidak pernah mengetahui keberadaan jemaah haji tersebut. “Nah terus siapa yang bertanggung jawab atas penerbitan KTP itu?” kata Sunarto saat melakukan penelusuran ke sejumlah alamat KTP Aspal milik jemaah haji, Rabu (7/11).
Sunarto mencontohkan, temuan di Desa Pondok, dari 12 nama yang terdaftar berangkat haji, 11 di antaranya tidak dikenal baik oleh warganya maupun perangkat desa setempat. “Ternyata setelah ditelusur, warga Desa Pondok yang berangkat haji 2012 ha-
nya satu orang, yakni Muhammad Ali warga Dukuh Jayan, Desa Pondok. Sedangkan nama 11 jemaah haji lainnya tidak ada,” ungkap Sunarto.
Untuk itu pihaknya meminta dinas terkait untuk menelusuri terbitnya KTP Aspal tersebut. “Oknum-oknum yang membantu terbitnya KTP bodong harus diberi efek jera. Bupati harus cepat mengambil tindakan jika memang prosedurnya itu salah. Kami juga mendesak agar Kemenag memanggil KBIH untuk dimintai keterangan,” tandas Sunarto.
Ketua II IPHI Kecamatan Karanganom, Kusdiyono, yang ikut dalam penelusuran tersebut menambahkan pemanggilan KBIH memang harus dilakukan oleh Kemenag karena itu kewenangannya. Jika memang KBIH ikut bermain tentu harus diberikan sanksi. Apalagi sejumlah haji tersebut menggunakan KTP terbitan 2012. “Kami mendapatkan daftar nama seluruh jemaah haji itu resmi dari Kemenag termasuk dengan daftar haji yang menggunakan KTP Aspal. Namun kenapa setelah dicek ke lapangan para haji KTP bodong itu ternyata bukan warga asli Klaten,” ujar Kusdiyono.
Sementara itu, pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Pondok mengaku kaget setelah melihat daftar 11 jemaah haji dari desanya. Sebab dari daftar itu hanya ditemukan alamatnya saja tanpa ada orangnya. “Yang berangkat haji dari Desa Pondok hanya satu, yakni Muhammad Ali. Sedangkan lainnya kami tidak dikenal. Saya juga tidak tahu menahu kenapa 11 orang itu punya KTP dengan alamat Pondok,” ujar Kaur Kesra Desa Pondok, Jumain.

Angga Purnama