JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Layanan Pemkot Mengecewakan

Layanan Pemkot Mengecewakan

229
BAGIKAN
Joglosemar/Yuhan Perdana

BANJARSARI—Meski telah meraih sejumlah penghargaan tingkat nasional maupun internasional, namun pelayanan publik di Kota Solo dinilai masih mengecewakan.

Tudingan itu dibeberkan Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) Surakarta dengan risetnya yang melibatkan 300 warga sebagai responden.

Koordinator Kampanye Publik Pattiro, Alif Basuki, mengatakan, riset itu melibatkan 300 responden dengan menggunakan metode Stratified Random Sampling. Untuk mendapat data lapangan, mereka memakai metode wawancara mendalam. Penelitian dilakukan dalam kurun waktu Juli–September 2012.

“Dari 300 responden, sebanyak lebih dari 50 persen mengeluh soal pelayanan publik yang mereka terima. Tiga bidang yang menjadi fokus penelitian adalah kesehatan, pendidikan dan administrasi kependudukan,” ungkap Alif, dalam keterangan persnya, Kamis (8/11).

Menurutnya, keluhan publik yang banyak mengemuka, di antaranya ketidaktepatan waktu pelayanan. Molornya waktu pelayanan itu, lanjut dia, biasanya terjadi karena minimnya penjelasan dari petugas soal persyaratan yang harus dilengkapi. Waktu pelayanan jadi lebih lama karena warga harus bolak – balik untuk memenuhi syarat yang diminta.

Selain itu, informasi yang tidak jelas juga ditemukan pada tarif yang diberlakukan atas layanan tersebut. Sosialisasi, baik secara tertulis maupun lisan dirasa masih kurang. Kondisi tersebut juga membuat warga kebingungan. ”Kebanyakan memang ditemukan pada bidang adminstrasi kependudukan. Sosialisai peraturan baru juga belum meluas. Bisa jadi, warga tiba – tiba kena denda karena telat mengurus KTP. Alasannya, aturan sudah berlaku sejak tahun lalu, tetapi warga baru diberitahu beberapa bulan lalu.”

Di bagian lain, Alif juga memaparkan, adanya sikap dari petugas yang kurang informatif dan tidak ramah saat menghadapi warga. Padahal, petugas di lapangan menjadi ujung tombak pelayanan publik itu sendiri.

Direktur Pattiro, Anwijoko, menambahkan, selama November ini pihaknya akan membuka pengaduan keliling di tujuh lokasi publik, mulai 10 November 2012. “Cara konvesional seperti kotak saran di unit layanan sudah tidak efektif lagi. Jadi harus jemput bola untuk mendengar keluhan warga. Ini sebenarnya bisa juga dilakukan Pemkot untuk meningkatkan layanan,” kata Anwijoko.

Dini Tri Winaryani