JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Puluhan Tahun Hilang, Kini Jadi Pengikat Cinta yang Unik

Puluhan Tahun Hilang, Kini Jadi Pengikat Cinta yang Unik

963
BAGIKAN
Joglosemar/Yuhan Perdana

Pernikahan Jawa-China di Klenteng Tien Kok Sie Pasar Gede

Pernikahan adalah ritual yang sakral dan dinanti banyak orang.

Rangkaian prosesi pun dipersiapkan secara matang. Lalu bagaimanakah ketika digelar di Klenteng sebagai ritual yang lama telah menghilang?

Ari Welianto

Ada pemandangan unik dan berbeda terjadi di tempat ibadah Tri Darma Klenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede, Sabtu (3/11). Kemeriahan dan kebahagiaan tampak menyeruak dari kumpulan orang di dalamnya.

Ah, ternyata sebuah prosesi pernikahan antarkedua anak manusia tengah berlangsung. Namun, yang membuat penasaran pernikahan ini tidak biasa terjadi. Pasalnya ritual sakral tersebut penuh dengan pembauran dua etnik yang berbeda, yakni etnik China dan Jawa, serta dengan tata cara prosesi pernikahan kepercayaan Kong Ho Chu.

Hal yang semakin mengundang kekaguman, pernikahan yang menghadirkan raja dan ratu sehari dalam wedding dress dan Jas serba putih ini baru pertama kali diselenggarakan di Klenteng Tien Kok Sie, setelah puluhan tahun menghilang.

Pernikahan di Klenteng sendiri bagi kepercayaan Kong Hu Chu merupakan hal yang tidak biasa. Biasanya mereka mengikat janji sehidup semati tersebut di gereja maupun Linthang tempat ibadah khusus agama Kong Hu Chu yang berlokasi di daerah Jagalan, Jebres. Sebab bisa dikatakan prosesinya cukup rumit jika dibandingkan dengan prosesi pernikahan lain.

Prosesi tersebut, terlihat ketika kedua mempelai harus berdoa dan memberikan penghormatan kepada tiga Arta (Tuhan) yaitu Arta Tuhan, Arta Bi Lek Hud dan Arta Kwan In dan Kong Hu Chu yang merupakan Arta utama.

“Bisa dikatakan kalau untuk agama Kong Hu Chu ini yang pertama kali sejak puluhan tahun lalu diselenggarakan, jadi terkesan unik. Tapi bagi agama Budha ini sudah beberapa kali, karena di Klenteng Tien Kok Sie tidak hanya tempat ibadah untuk Kong Hu Chu saja namun juga Budha,” terang penyelenggara pernikahan, Soei Tie Bian, Sabtu (3/11) yang notabene adalah ayah mempelai wanita.

Jadi, penyelenggaraan pernikahan itupun secara tidak langsung menjadi sarana nguri-nguri tradisi agama Kong Hu Chu. Apalagi di tengah perkembangan zaman yang maju ini. Selain itu, proses pernikahan yang harus dilalui pun cukup ribet.

“Jadi jarang bagi penganut Kong Hu Chu yang menggelar pernikahan di sini (klenteng-red) tapi di Linthang, Jagalan,” kata Soei Tie Bian menambahkan.

Secara detail, prosesi pernikahan dimulai ketika kedua pengantin, Sri Suyanto (20) dan Mei Liana (24) turun dari mobil pengantin. Keduanya lantas disambut dua barongsai yang dianggap sebagai penolak bala untuk jalan kehidupan mereka.

Pelan penuh kepastian akan cinta mereka, pasangan berbahagia itu kemudian berjalan menuju depan Klenteng dan disambut kedua orangtua masing-masing. Di depan Altar Tuhan, kedua orangtua pengantin menyerahkan sepasang tebu untuk ditaruh di sekitar Altar Tuhan tersebut. Sebuah simbolisasi dari sepasang tebu tersebut menyiratkan antebe kalbu, apakah mereka mantab atau belum untuk berumah tangga.

Dari situ, lalu kedua mempelai berdoa dan memberikan penghormatan kepada altar dengan dipandu pendeta. Masih di depan Altar Tuhan, kedua mempelai juga menyalakan lilin,  menyajikan sesajen yang berupa buah-buahan, seperti pisang, apel, buah naga, mangga, wajik, beras, maupun mie.

Memanjatkan Doa
Menurut Ketua Klenteng Tien Kok Sie, Henry Susanto, penyalaan lilin itu merupakan simbol penerangan agar mereka selalu terang dalam menjalani pernikahan. Sedangkan sesajen menyimbolkan kebutuhan pangan dalam kehidupan sehari-hari.

“Memang jarang sekali bagi agama Kong Hu Chu nikah di sini. Ribet karena kan biasanya minta yang praktis,” imbuh Henry Susanto.
Setelah berdoa di Altar Tuhan, kemudian kedua mempelai berdoa di Altar Bi Lek Hud. Mereka memanjatkan doa agar jalan kehidupannya selalu lurus dan langgeng.

Dan yang terakhir, sebelum prosesi selesai, kedua mempelai mengikat janji suci di hadapan Altar Kwan In yang merupakan altar utama dalam setiap berdoa. “Kami berharap ada yang mau menikah di Klenteng. Karena ini juga untuk menjaga tradisi para leluhur,” sambungnya.

Saat ditanya kesannya karena menikah di Klenteng, sang pengantin pria Sri Suyanto mengaku senang, karena terasa unik meskipun memang terbilang penuh runtutan prosesi yang harus dilalui.

“Pokoknya, saya senang bisa nikah dengan cara seperti ini. Sungguh sangat unik, dan bisa ditiru pengantin-pengantin yang lain”ujarnya tersenyum mengembang.

Sebelum meninggalkan Klenteng, Sri Suyanto dan Mei Liana serta rombongan keluarga melepaskan balon dan menyalakan kembang api. Penuh kebahagiaan dan  kepuasan terlihat dari kedua mempelai, sebab prosesi berjalan lancar.

Kini tinggal keduanya membuka pintu gerbang membentuk keluarga baru yang berbahagia dan rukun selama-lamanya.