JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Bersih Desa Mbah meyek, Tradisi yang Tetap Lestari

Bersih Desa Mbah meyek, Tradisi yang Tetap Lestari

539
Bersih Desa Mbah Meyek (Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo)

Nama Mbah Meyek sudah lama dikenal sebagai sesepuh Kampung Bibis Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari. Sosok itu dikenal sebagai sesepuh kampung. Namun, tak banyak warga yang tahu betul sejarah munculnya tokoh tersebut. Di kalangan masyarakat sendiri berkembang riwayat dalam versi yang beragam.
Terlepas dari itu, warga Bibis sendiri tetap melestarikan ritual Bersih Desa Kampung Bibis sebagai bentuk penghormatan pada para leluhur. Ritual tersebut dilaksanakan rutin setiap Bulan Sura pada penanggalan Tahun Jawa pada hari Kamis Wage, malam Jumat Kliwon.
Tahun ini jatuh pada Kamis–Jumat (6-7/12/2012). Puncaknya ditandai dengan pagelaran wayang selama dua hari di penggal Jalan Tentara Pelajar. Selain upacara adat, kegiatan tersebut juga diramaikan dengan bazar rakyat.
“Kami meneruskan ritual ini bukan sebagai upaya pelestarian tradisi. Ini sekaligus sebagai bentuk syukur pada Tuhan atas berkah yang diberikan pada kampung kami,” terang Ketua Panitia Saronto, di sela –sela kegiatan, Jumat (7/12).
Menurutnya, upacara bersih desa itu dimulai sejak Kamis pagi (6/12) dengan kerja bakti di sejumlah titik yang dinilai punya nilai sejarah bagi warganya. Yaitu di Sumur Mbak Meyek, Sumur Mbah Bandung, Sendang Sidomulyo dan Sumur Mbak Sodrono.
Warga juga membersihkan dua situs lainnya, yaitu Mbah Asem Ageng dan Mbah Asem Kandhang. Keduanya merupakan pohon asem yang besar dan rimbun. Sejumlah sesaji dan doa dipanjatkan di lokasi tersebut sebelum prosesi dimulai. “Setelah bersih desa selesai, kami melakukan kirab 12 tokoh wayang. Diantara tokoh itu akan dipentas. Pada Kamis malam hingga Jumat sore, pagelaran wayang pun dipentaskan bertema Wahyuning Ajining Diri,” jelasnya.
Ketika ditanya soal sejarah Mbah Meyek, Saronto dan sejumlah warga mengaku tak tahu persis. Salah satu versi yang menyebut, Mbah Meyek dulunya merupakan puteri Ratu Pajang Sultan Hadiwijaya dari garwa selir Dewi Setya Arum Sri Hastutiningsih, bernama Dyah Sri Widyawati Ningrum.
Karena dituduh berselingkuh dengan abdi dalem, puteri dan ibunya diusir dari keraton. Raja juga memerintahkan keduanya agar dibuntuti dan dibunuh. Keduanya pun lari menggunakan perahu kayu menyebarang Kali Pepe. Dalam pelarian tersebut, perahu tersambar petir. Sang putri terlempar ke darat dengan kondisi meyek–meyek bersama perahu yang hancur. Dia pun akhirnya menetap di kampung itu dan disebut Mbah Meyek. “Intinya kami ingin melestarikan budaya leluhur. Bersih desa ini juga sebagai perlambang kami untuk memperbaiki diri lahir batin dan terhindar dari malapetaka,” terangnya.
Dini Tri Winaryani

BAGIKAN