JOGLOSEMAR.CO Daerah Jogja Pentas Barong The Spirit of Forest

Pentas Barong The Spirit of Forest

456

Pentas Barong The Spirit of Forest
JOGJA–Sebuah pentas unik spektakuler membius pengunjung wisatawan manca negara. Barong The Spirit of Forest yang dimainkan dua seniman, Tebo Aumbara dan Sisca (Fransisca Tyas),  Rabu malam (5/12) tampil di Selli Coffe, Jalan Gerilya Prawirotaman 2 Mg III-822 Yogyakarta. Pertunjukkan senin dengan tampilan performance art itu hanya membutuhkan ruangan kecil seluas 2 x 2 meter saja. “Bagi saya, ini unik dan spesifik karena warung kopi kami yang hanya berukuran 30 meter persegi bisa digunakan untuk pentas seni,” ujar Imam Wisnu Birowo, Owner Selli Coffe kepada wartawan di sela pementasan Barong The Spirit of Forest.
Lain dari pada yang lain. Pada umumnya kafe-kafe modern selalu menyuguhkan pentas seni modern seperti band, disco atau dansa, namun Selli Coffe menyuguhkan seni tradisional. BJ – Imam Wisnu Birowo akrab dipanggil – memang sengaja memberikan nuansa tradisional di kafenya. Semua yang ada di Selli Coffe adalah khas tradisional nusantara dari Sabang sampai Merauke.
“Kopi kita adalah kopi tradisional nusantara, ada kopi papua, palu, jawa, banyumas, lampung dan lain-lain. Makanan pun begitu, ubi jalar, jamur, pisang. Begitu pun dengan hiburan seni, kami ingin tetap tradisonal, yang konsisten dengan pesan kemanusian, penyelamatan lingkungan. Meskipun konsumen kami turis asing,” ujar pria alumnus desain interior ISI Jogja.
Sementara Tebo Aumbara – Erwin Ardian – menjelaskan pentas ini membawa misi penentangan terhadap kapitalisme untuk menyelamatkan hutan dan lingkungan. Kekayaan Bumi Indonesia, kata pria kelahiran Randublatung, Blora Jateng tahun 1989 ini, sesungguhnya mampu mensejahterakan. Pemanfaatan sumber daya alam bagi kehidupan tergantung pada sejauh mana kepedulian manusia terhadap kelestarian alam.
“Cuma sekarang ini problem lingkungan dan hutan kita dalam ancaman kapitalis. Rakyat dipaksa penguasa untuk melepaskan lingkungan dan hutan yang selama ini menjadi tumpuhan kehidupannya kepada kapitalisme global. Misalnya kasus eksplorasi minyak di Blora dan pembangunan pabrik semen oleh PT Semen Gresik di kawasan pengunungan kendeng, Pati Jateng. Itu semua adalah serangan kapitalisme untuk merusak lingkungan dan hutan,” ujarnya.
Mengapa Barong? Pertunjukan Barongan bagi Tabo Aumbara merupakan media kampanye perlawanan kapitalisme terhadap kasus ekploitasi minyak di Blora dan Pegunungan Kendeng , Pati di Jawa Tengah oleh PT Semen Gresik. Pertunjukan ini merefleksikan  Spirit Barongan yang merupakan bagian dari budaya local masyarakat Blora. Tabo konsisten dengan Barongan karena ingin melakukan perlawanan dengan seni sambil nguri-uri budaya local. “Di Blora, Barongan merupakan sebuah mitologi, sosok  yang menjaga hutan. Karakternya digambarkan spontan, ganas, liar dan kadang progresif. Dan sesungguhnya karakter seperti inilah yang harus melekat pada setiap orang dalam rangka upaya bersama untuk  menyelamatkan lingkungan dan hutan. Kita lah penentu apa yang akan terjadi kelak, “ tegas Tebo.
Barong The Spirit of Forest dipentaskan dengan tiga sesi. Sesi pertama pada pukul 19.00 WIB selama 12 menit ini menggambarkan bahwa kapitalisme di Indonesia khususnya di Blora, Rembang, Pati Jateng sudah benar-benar menjadi ancama berat. Apabila dibiarkan akan menyengsarakan rakyat. Sesia kedua yang juga dengan durasi 12 menit ini masih menggambarkan tentang perlawanan terhadap kapitalisme. Baru pada sesi ketiga pukul 23.00 WIB, Barongan yang dimitoskan masyarakat Blora sebagai penjaga  sekaligus hutan tampil melakukan perlawanan terhadap kapitalisme guna menyelamatkan lingkungan dan hutan.
Sementara tentang pementasan yang cukup di kafe-kafe kecil, Tebo Aumbara mengatakan hal ini memang sudah menjadi kebiasannya sejak 2006. Di Bali, pentas seni tradisional biasa dilakukan di kafe-kafe kecil. Hamper tiap kafe di Bali secara berkala seminggu sekali atau dua minggu selalu menyuguhkan seni lokal yang dinikmati para wisatawan manca Negara. “Belum Jogja barangkali masih asing, tapi kalau di Bali sudah jalan di mana-mana.”

BAGIKAN