JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Petani Kendal Sambat ke Wagub

    Petani Kendal Sambat ke Wagub

    307
    Rustriningsih saat beraktivitas di Sragen

    KENDAL-Petani di Dusun Tamalan, Desa Karangsari, Kabupaten Kendal mengeluhkan kondisi lahan pertanian mereka yang saat ini tidak produktif. Hal ini disampaikan para petani di sela-sela dimulainya program reklamasi lahan, yang dihadiri Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih, Rabu (5/12).
    Salah seorang petani warga Karangsari, Sujarwo, menyatakan kondisi lahan di Kendal memprihatinkan. “Di Blok Silayur misalnya, hampir tidak bisa ditanami. Apalagi kalau musim hujan, benar-benar tidak bisa ditanami,” ungkap Sujarwo.
    Kondisi geografis Karangsari memang tidak terlalu menguntungkan karena posisinya lahan di daratan rendah, air menggenang tidak bisa lari. Persoalan lain sempat disampaikan oleh salah satu pelaksana program reklamasi yang digelar oleh Jenderal Sudirman Center (JSC), Agus Subagyo. Menurut Agus, selain soal genangan, lahan di Karangsari juga kurang produktif. “Kondisi ph atau tingkat keasaman lahan di sini ada di angka 5. Setelah diolah hampir seminggu, ph tanah bisa naik menjadi 6,9. Semoga apa yang kita lakukan ini bisa membantu warga di tengah persoalan yang mereka alami,” papar Agus.
    Rendahnya ph lahan di Karangsari terjadi karena penggunaan pupuk non-organik selama bertahun-tahu. Petani kurang percaya dengan penggunaan pupuk organik, karena hasilnya tidak secara cepat dapat dilihat. Ketua Jenderal Soedirman Center Ir Drs Bugiakso menjelaskan, kondisi lahan di Kendal semakin sempit, produksi pertanian menurun. “Ini salah satunya karena penggunaan pupuk kimia selama 40 tahun. Saya meyakini, dalam kurun waktu 10 tahun, produksi akan semakin menurun. Di Korea Selatan perlu 12 tahun untuk reklamasi. Di China, enam tahun belum bisa mewujudkan reklamasi lahan. Nah, kami berharap di Kendal ini bisa membuat lahan sehat dalam kurun waktu tujuh hari,” papar Bugiakso.
    Dia menambahkan, tingkat keasaman yang standar adalah 7. Namun dalam waktu yang tujuh hari sudah menjadi 6,9. Ini merupakan langkah yang bagus. “Hal ini juga berimbas kepada peningkatan produksi pertanian, misalnya produksi jagung bisa dua atau tiga kali lipat dan padi bisa dua kali lipat, tanpa pupuk kimia,” jelasnya.
    Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih menyatakan, program reklamasi lahan yang dikawalnya salah satunya untuk meningkatkan kesejahteraan petani. “Intinya, seperti semangat Jenderal Soedirman, rakyat tidak boleh menderita. Rakyat harus tertawa bahagia, bukan tertawa getir. Tentu hal ini akan tergantung juga kepada para sarjana pendamping dalam program ini,” ungkap Wagub.
    Ditambahkan Wagub, persoalan di Jateng ini sangat beragam. Ada wilayah yang kekeringan, namun di sisi lain tak sedikit wilayah yang kelebihan air sehingga menggenangi lahan-lahan pertanian. “Di Kebumen misalnya, urusan banyu ngembeng (terjadi genangan) itu bisa bikin nangis. Hujan tiga hari saja sudah pasti ngembeng. Saya tahu persis karena dua periode saya berada di sana. Untuk mengatasinya, kami butuh dua tahun untuk desain perencanaan awal. Genap tiga sampai empat tahun untuk menyelesaikan program penanganan banjir. Waktu itu termasuk ada lembaga donor membutuhkan sekitar Rp 270 miliar. Nilai itu termasuk untuk pembebasan lahan terkait normalisasi sungai. Saya berharap di sini tidak seberat apa yang dialami Kebumen,” papar Wagub.
    Ditambahkan Wagub, mewujudkan kesejahteraan rakyat akan dilakukan secara bertahap. Reklamasi lahan menjadi salah satu langkah untuk membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat, dengan cara meningkatkan produktivitas lahan sehingga hasil yang dicapai petani juga  bagus. “Kita akan lihat pembuktian dari program ini tiga bulan lagi,” tandas Wagub.

    BAGIKAN