JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Nasional Banjir Masih Rendam Jakarta

Banjir Masih Rendam Jakarta

380
BAGIKAN

 

Banjir Jakarta. (ant)

Jumlah Korban Jiwa Menjadi 15 Orang

JAKARTA-Banjir masih merendam Ibukota Jakarta, Sabtu (19/1) kemarin. Pada beberapa titik, genangan air sudah menurun, namun di beberapa tempat lain banjir justru meninggi. Salah satunya adalah di daerah Pluit, Jakarta Utara. Dalam lima hari banjir di jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan korban meninggal tercatat 15 orang.

“Jumlah korban meninggal selama banjir Jakarta sejak Selasa (15/1) hingga sekarang sebanyak 15 orang,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho. Jumlah 15 orang korban meninggal itu, termasuk dengan satu petugas cleaning service Gedung UOB, Herdian Eko (27) yang ditemukan oleh tim evakuasi pada Sabtu (19/1) pukul 15.05 WIB. BNPB mendata banjir yang melanda Jakarta telah menggenangi 32 Kecamatan, 102 Kelurahan, 337 RW dan 910 RT.

Sementara itu, banjir parah terjadi di belakang Pluit Village, Jakarta Utara, dengan kedalaman hampir dua meter. Kawasan Pluit lainnya yang kebanjiran tersebut seperti Bandengan dan Teluk Gong.  Demikian pula di kawasan pemukiman Kampung Pulo di Jatinegara Barat, Jakarta Timur, ketinggian air dua meter sehingga warga masih belum bisa pulang ke rumah.

Aparat Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) mencatat jumlah ruas jalan yang masih terdapat genangan air akibat banjir mencapai 22 lokasi dan belum bisa dilewati kendaraan. “Sebanyak 22 lokasi ruas jalan yang masih tergenang air hingga Sabtu dan belum bisa dilewati kendaraan,” kata Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Wahyono. Wahyono mengatakan ruas jalan tergenang air yang belum dapat dilalui kendaraan tersebar di wilayah Jakarta Pusat sebanyak tiga lokasi, Jakarta Utara dan Jakarta Barat (delapan lokasi), Jakarta Selatan (satu lokasi), dan Jakarta Timur (dua lokasi).

Pada bagian lain, evakuasi warga di Pluit, dilakukan hingga malam hari. Aliran listrik yang dipadamkan menjadikan lokasi banjir gelap gulita, namun tim SAR gabungan terus melakukan evakuasi. “Evakuasi kita mainkan terus sampai kering, sampai masyarakat tidak membutuhkan kita lagi,” kata Lurah Pluit, Tahta Yujang. Sepanjang hari kemarin tim evakuasi gabungan yang terdiri dari TNI, Kopassus, PMI, Pemda, Mahasiswa, warga, dan Yayasan Budha Tzu Chi terus bekerja bergantian dengan sistem shift. Upaya ini berhasil menyelamatkan dua korban banjir darurat. “Kita bawa dua (korban), satu yang mau melahirkan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Satu lagi korban yang sakit stroke dibawa keluarganya,” ujar Tahta.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dengan memakai perahu berkeliling memantau kondisi warga korban banjir di Pluit. Jokowi melihat-lihat kondisi sejumlah perumahan yang terendam banjir setinggi 50 sentimeter hingga 100 sentimeter. Jokowi tampak serius memantau kondisi di lapangan. Sesekali ia menunjukkan jari ke arah warga yang terjebak sambil berdiskusi dengan Lurah Pluit, Tahta Yujang.

Menurut Tahta, meski pada tahun 2002 Jakarta juga pernah dikepung banjir, namun Pluit terhitung aman dari bencana waktu itu. “Banjir sekarang bukan kita tidak mampu, ini kiriman dari jebolnya (tanggul) Latuharhary yang debitnya kelewat besar,” jelasnya.

Sementara itu, banjir di Jakarta Utara menyebabkan empat warga Teluk Gong, Penjaringan, tewas karena tersetru aliran lisrik.  “Meninggal akibat genset yang konslet di pabrik koveksi kaos,” kata salah seorang tetangga korban, Toni, yang ikut mengantar jenazah ke ruang jenazah RSCM, Jakarta, Sabtu (19/1). Menurutnya, empat jenasah itu terdiri dari si pengusaha koveksi dan tiga orang pekerjanya. Keempatnya ditemukan dalam keadaan tewas oleh istri si pengusaha konveksi. “Kejadiannya Jumat malam. Kondisi banjir di sana sepinggang,” ucapnya.

 

Penyakit

Pada bagian lain, penyakit mulai bermunculan di antara para pengungsi banjir. Penyakit yang paling banyak adalah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). “Di wilayah Jakarta Timur, paling banyak menderita ISPA”, kata Koordinator Tim Penanggulangan Bencana Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, dr Asturi Putri. Asturi mengatakan hal itu karena kondisi cuaca yang tidak stabil dan sulitnya air bersih di lokasi bencana. “Curah hujan yang masih tinggi, air kotor dari luapan sungai, membuat warga mudah terserang ISPA,” katanya. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengakui, hal tersebut diketahui dari 938 pasien yang sudah ditangani selama dua hari melalui Posko-Posko tersebar di Jakarta Timur.

Untuk wilayah lainnya, seperti empat titik Posko di Jakarta Selatan dan Jakarta Barat, PB IDI masih melakukan koordinasi dan menunggu hasil laporan terbaru dari tim tanggap bencana yang bergerak di lapangan. “Kami juga mewaspadai diare yang bisa lebih membahayakan daripada ISPA, tapi kami mengakui masih terdapat kesulitan air bersih,” kata Asturi.

Selain ISPA, Asturi mengatakan penyakit yang juga banyak menyerang warga adalah infeksi jamur kulit, diare, penyakit lambung, sakit kepala, sakit otot, penyakit gigi dan mulut, penyakit pada mata dan telinga, serta penyakit akibat luka benda tajam. “Warga seringkali tidak mengindahkan kebersihan dan kemananan, sehingga sering terjadi insiden, seperti luka akibat benda tajam, dan itu juga bisa menyebabkan penyakit lainnya,” katanya.

Selain itu, kata Asturi, PB IDI juga mengadakan edukasi masyarakat melalui penyuluhan mengenai kebersihan diri dan lingkungan. “Kami sebenarnya antisipasi seperti untuk diare, kami lakukan penyuluhan bagaimana beraktivitas di tempat pengungsian dan lokasi bencana,” kata dia.  Detik | Antara