JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Dianggap Bahaya, Gudang di Praon Diprotes

Dianggap Bahaya, Gudang di Praon Diprotes

516
BAGIKAN
Joglosemar|Budi Arista Romadhoni
SIDAK GUDANG-Sejumlah anggota DPRD Solo Komisi II melakukan sidak ke gudang bahan bangunan RW VIII Praon Nusukan Banjarsari, Solo, Selasa (8/1). Warga memprotes bangunan gudang tersebut, yang menyebabkan banjir karena saluran drainase ditutup.

KARANGASEM—Warga RW VIII Praon, Nusukan, Banjarsari, memprotes operasional gudang bahan bangunan, Selasa (8/1). Gudang yang awalnya kios itu dianggap membahayakan keselamatan siswa-siswa SD Praon.
Warga menuding, gudang itu melanggar aspek Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Di antaranya, mengancam keselamatan anak-anak SD Praon yang bersebelahan dengan gudang,dan efek banjir yang disebabkan penutupan saluran drainase di tempat itu.
Protes itu disampaikan pengurus dan warga RW VIII dalam audiensi dengan Dinas Tata Ruang Kota (DTRK), Undiyanto Atmodiharjo selaku pemilik gudang, serta Komisi II DPRD Solo. Dalam agenda itu, warga menyebut, keberadaan gudang itu sangat mengganggu dan telah melanggar aturan.
Warga RT 5 RW VIII Praon Nusukan, Kus Irianto, menyampaikan, sudah dua tahun ini, warga waswas dengan kegiatan di gudang itu. Pasalnya, kendaraan tonase berat seperti truk dan tronton melakukan bongkar muat barang, sehingga menimbulkan kebisingan.
Akibatnya, tembok gudang di sebelah utara yang berbatasan langsung dengan SD Praon mengalami retak-retak. ”Kami takut jika roboh dan mengenai anak-anak yang sedang belajar,” katanya.
Warga minta Pemkot Solo, dalam hal ini DTRK untuk membekukan dan mencabut IMB gudang itu. “Izinnya itu untuk los dan kios, lha ini kok digunakan untuk gudang. Pembangunannya juga tidak sesuai dengan izin, karena lahan untuk drainase juga ditutup. Akhirnya, warga kebanjiran,” kata Ketua RW VIII Nusukan Banjarsari, Mochammad Muslich.
Pemilik gudang, Undiyanto, mengatakan, bangunan miliknya tidak melanggar aturan. Dia bingung kenapa muncul protes dari warga belakangan ini. “Pas selesai justru ada teguran. Sebenarnya, yang protes cuma satu warga. Untuk los dan toko sebenar-
nya awalnya ada, tapi kami tidak diperbolehkan. Kami siap mengubahnya,” ujar Undiyanto.
Anggota Komisi II DPRD Solo, Asih Sunjoto Putro, menyampaikan, pemilik bangunan telah melanggar aturan. “IMB-nya itu tertulis untuk ruang kerja, tapi justru beralih untuk gudang,” katanya.
Kepala DTRK Solo, Ahyani, tengah mengurus pencabutan IMB. Kata Ahyani, proses pencabutan itu sudah berada di meja pimpinan (Walikota Solo). “Sudah kami urus pencabutannya(IMB). Ini tinggal menunggu keputusan dari pimpinan.”

Murniati