JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Diduga Gelar Striptis, Zensho Didesak Ditutup

Diduga Gelar Striptis, Zensho Didesak Ditutup

813
BAGIKAN
Joglosemar/Abdullah Azzam
PASANG SPANDUK – Anggota Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) memasang spanduk di pagar tempat karaoke Zensho, Sriwedari, Solo, Rabu (16/1). Mereka meminta tempat karaoke itu ditutup karena menurut mereka digunakan untuk atraksi tarian telanjang

SOLO—Ratusan massa yang tergabung dalam Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) menggeruduk tempat hiburan Zensho Family Karaoke yang beralamat di Jalan Kebangkitan Nasional No 29 Sriwedari, Rabu (16/1) siang. Mereka mendesak pihak manajemen menutup tempat karaoke itu karena diduga menyediakan penari bugil.

Massa yang datang dengan menggunakan sepeda motor tersebut langsung disambut pengamanan puluhan aparat kepolisian. Sambil berorasi di depan tempat karaoke yang kebetulan sedang tutup itu, massa LUIS menilai tarian bugil yang disediakan Zensho sudah merusak moral warga dan pemuda khususnya Kota Solo.

“Secara hukum itu harus ditindak dan secara usaha harus ditutup. Kami harap Walikota dan Kapolres serta pimpinan DPRD untuk bisa menindak tegas, karena jelas tempat karaoke ini mengundang kemaksiatan dan melanggar undang-undang pornografi,” ujar Ketua LUIS, Edi Lukito.

Massa yang berusaha menemui manajemen tempat karaoke gagal karena tempat hiburan itu dalam kondisi kosong dan ditutup. Beberapa massa kemudian merangsek masuk ke hadangan polisi dan menempelkan spanduk bertuliskan “Stop tarian bugil, Zensho Solo ditutup” di pintu utama tempat karaoke.

Tak sampai di situ, massa kemudian melanjutkan aksinya ke Polresta Surakarta dan Balaikota Surakarta. Di Polresta, beberapa perwakilan massa LUIS seperti Ketua LUIS Edi Lukito, Sekretaris Yusuf Suparno, dan Ketua Humas Endro Sudarsono diterima oleh Kasat Intelkam Polresta Surakarta, Kompol Muh Wahrudin.

Menurut Endro Sudarsono, selain melaporkan Zensho, ia juga membawa bukti-bukti kegiatan hiburan tarian bugil perempuan di tempat karaoke itu. “Kita menyampaikan pernyataan sikap dan bukti-bukti untuk menindaklanjuti adanya pelanggaran asusila di karaoke Zensho itu,” katanya.

Menurutnya, pihaknya menyertakan barang bukti berupa foto-foto penari bugil dan kuitansi transaksi senilai Rp 2,4 juta untuk dua orang. Endro berharap Polresta segera menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengambil tindakan hukum yang berlaku.

LUIS mendapatkan data pada Desember 2012 dan Januari 2013. Data yang dimiliki oleh LUIS, untuk mendapatkan tarian bugil perempuan, Zensho mematok tarif Rp 300.000 per jam. Selain itu, LUIS juga menemukan bukti yaitu pintu di bilik karaoke hanya diberikan kaca kecil dan tebal, sehingga memungkinkan pelanggan untuk berbuat mesum dan bebas.

LUIS juga mendesak Walikota Solo untuk menutup semua tempat hiburan yang digunakan untuk tindak asusila yang berpotensi merusak moral masyarakat maupun pemimpinnya. DPRD Kota Solo juga didesak untuk membuat regulasi tegas yang mampu melindungi masyarakat dan mencegah adanya bisnis kemaksiatan seperti seks bebas, tarian bugil, minuman keras, dan narkoba.

Sementara itu, pihak manajemen Zensho, Winardo, membantah semua tudingan LUIS tersebut. Menurutnya, Zensho adalah usaha murni berupa tempat karaoke keluarga. “Kita juga memiliki izin usaha resmi,” katanya. Rudi Hartono