JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Festival Film Dokumenter : Apresiasi Bagi Film Maker

Festival Film Dokumenter : Apresiasi Bagi Film Maker

422
BAGIKAN
ilustrasi

Festival merupakan pintu gerbang bagi para pembuat film dokumenter untuk terus menciptakan karya-karya yang berkualitas.

Dunia perfilman saat ini sangat berkembang pesat, termasuk pula film dokumenter. Seakan tidak mau kalah eksistensinya dengan film fiksi, film dokumenter saat ini semakin banyak diproduksi dan dinikmati para pecinta film. Menurut Franciscus Apriwan yang biasa dipanggil Iwan, salah satu pengurus Komunitas Film Dokumenter dan Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta mengungkapkan , “Film dokumenter merupakan hasil rekaman suatu realita yang diproses dengan kreativitas. Mengangkat suatu fakta atau realita yang ada dimasyarakat lalu direkam dengan kamera dan terdapat kreativitas dalam prosesnya.”

Mengenai film dokumenter, Budi Dwi Arifianto, Dosen Broadcasting Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjelaskan film dokumenter itu adalah film yang lebih terlihat seperti jurnalistik, yang lebih membidik kepada dunia nyata. “Berbeda dengan film fiksi dan ekperimental yang lebih jelas membuat suatu film dengan narasi dan alurnya,” katanya.

Sedangkan menurut Maharani, Sutradara Film Pemenang Kategori Rekomendasi Juri Eagle Awards dalam Eagle Awards Documentary Competition 2012, film dokumenter merupakan salah satu media penyampai pesan. Media biasanya menyiarkan berita secara global dan umum, tetapi kurang sensitif terhadap isu-isu yang benar-benar dirasakan oleh pihak-pihak tertentu dalam realitasnya. “Hal inilah yang coba disampaikan oleh film dokumenter. Isu-isu dan rasa-rasa yang luput dari perhatian media tersebut dikupas secara mendalam melalui riset yang nyata dilakukan sebelum pembuatan film dokumenter,”  jelasnya.

Menurut Budi yang pernah menjadi salah satu tim kreatif film Shelter yang menjadi finalis dalam Bucharest International Expereimental Film Festival 2012,  perkembangan film dokumenter di Yogyakarta sudah lumayan baik. Hal itu bisa dilihat dari adanya festival film dokumenter untuk menampung karya dari film maker yang ada. “Film-film dokumenter sudah banyak kemajuan di Indonesia ini, dikarenakan film dokumenter saat ini sudah banyak yang meminimalisir narasi, bahkan ada yang tanpa narasi, sehingga film lebih nyata di mata para penonton,”  ujarnya.

Mengenai perkembangan film dokumenter di Indonesia, terutama di Yogyakarta, Rani memandang telah semakin baik. Banyak festival  film dokumenter yang diadakan dalam rangka apresiasi film dokumenter, misalnya Festival Film Dokumenter (FFD) dan Eagle Awards. Dalam festival film pun sudah ada kategori film dokumenter terbaik. Festival merupakan pintu gerbang bagi para pembuat film dokumenter untuk terus menciptakan karya-karya yang berkualitas.

Iwan menambahkan, perkembangan film dokumenter di Kota Pelajar sendiri sangat pesat. “Yogyakarta menjadi kota dengan peserta atau pengirim karya film dokumenter paling banyak dari seluruh Indonesia,” katanya.

Keberadaan kompetisi-kompetisi film dokumenter merupakan hal yang positif. Mungkin orang akan lebih mengapresiasi ketika ada penghargaan. Bagi Maharani, membuat film dokumenter bertujuan untuk membuat karya. Dia ingin karyanya bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya serta ingin mengungkap sebuah peristiwa yang mungkin orang lain tidak tahu. “Film bisa mengubah kebijakan. Misalnya, dari film Korea memperkenalkan objek pariwisatanya, gaya hidupnya, dan bahkan makanan-makanan khasnya. Film bisa merubah mindset masyarakat, bahkan mindset dunia,” jelasnya.  Tim UMY