JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Indekost Menjamur, Warga Enggan Menjual Tanahnya

Indekost Menjamur, Warga Enggan Menjual Tanahnya

422
BAGIKAN
ALIHFUNGSI-Sejumlah rumah di sekitar perumahan Solo Baru ini beralih fungsi menjadi indekost. Foto diambil Selasa (22/1). Joglosemar/ Murniati

PERKEMBANGAN KAWASAN SOLO BARU, GROGOL, SUKOHARJO (Bagian I) 

Melonjaknya harga tanah di kawasan Solo Baru, Grogol, Sukoharjo yang mencapai Rp 24 juta per meter persegi, ternyata tak membuat warga sekitar kepincut menjualnya. Apa alasannya? Berikut ulasannya.

Ada gula ada semut. Pepatah ini agaknya paling cocok menggambarkan fenomena perubahan daerah pinggiran Solo Baru menjadi distrik ekonomi. Betapa tidak, daerah yang dulunya berupa tanah persawahan itu kini berubah menjadi kota yang sangat ramai dan modern.

Mal dan sejumlah rumah toko (ruko) berdiri megah menandakan potensi pendapatan yang luar biasa. Hal ini pun menarik minat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo untuk mengelola langsung kawasan potensial Pendapatan Asli Daerah (PAD) itu. Yah, sudah lebih dari 20 tahun PT Pondok Solo Permai (PSP) mengelola distrik itu, termasuk dalam hal pendapatan.

Perkembangan di wilayah itu pun sudah ditangkap oleh warga sekitar. Warga Kota Makmur yang langsung berbatasan dengan Kota Surakarta ini pun berinisiatif untuk memanfaatkan momentum itu. Halaman rumah yang dulunya sangat luas, kini disulap menjadi indekost yang bisa mendatangkan uang.

Salah seorang warga Solo Baru, Heru menyebutkan, warga tidak terlalu tergiur dengan mahalnya harga tanah di daerah itu. Bahkan, angka Rp 24 juta/ meter persegi dinilai tidak terlalu menarik untuk melepas aset mereka ke sejumlah pihak. “Warga lebih suka membangun kos-kosan daripada menjualnya. Untungnya bisa selamanya. Apalagi, potensi kos-kosan di sini juga tinggi,” kata laki-laki yang tinggal di kampung depan Hartono Mal ini ketika ditemui Joglosemar, Selasa (22/1).

Hal itu menunjukkan warga sudah pandai dalam melihat potensi yang ada di depan mereka. Dia menuturkan, tidak hanya satu atau dua indekost yang muncul. Melainkan, belasan rumah juga disewakan kepada pihak lain. “Ada juga rumah warga yang direnovasi dan diganti menjadi tempat indekost,” tuturnya.

Nyatanya, dalam satu gang tidak hanya terdapat tempat indekost. Melainkan ada beberapa hunian yang disewakan kepada kaum boro. Riyanto, warga Suronandan, Madegondo, Grogol menuturkan, sebagian besar penyewa kamar adalah pegawai mall dan ruko di kawasan itu. “Sebagian besar ya Sales Promotion Girl (SPG) Matahari di Hartono Mall,” katanya.

Lelaki yang membuka jasa tambal ban itu menyampaikan, awalnya indekost itu hanya berupa rumah biasa. Karena di daerah itu muncul sejumlah mal, ruko, dan pusat bisnis itu. “Ada juga yang rumah biasa tapi sangat luas. Karena banyak pendatang, maka diubah menjadi indekost dengan dibentuk sekat-sekat,” ujar dia.

Meski sudah masuk pada kawasan ekonomi, tarif kos bisa dikatakan murah. Per bulan, kaum boro hanya dipatok biaya sekitar Rp 200.000 hingga Rp 250.000. “Kalau yang sendiri biaya kosnya Rp 200.000. Tapi kalau satu kamar terdiri dari dua orang, hanya diminta menambah Rp 50.000 menjadi RP 250.000,” kata dia sambil menunjukkan gang yang terdapat tempat indekost.

Murniati