JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Kenapa Seseorang Mengalami Alergi?

Kenapa Seseorang Mengalami Alergi?

567
BAGIKAN
ilustrasi

Seseorang pasti akan merasa tidak nyaman apabila memiliki riwayat alergi terhadap sesuatu. Sebut saja alergi terhadap makanan laut. Padahal makanan yang berasal dari laut itu memiliki kandungan gizi yang baik dan rasanya juga lezat. Sebenarnya apakah alergi itu, dan apakah alergi akan dibawa oleh penderita seumur hidup?

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta, dr. Ardi Santoso, SpA mengungkapkan, alergi adalah reaksi berlebihan dari sistem imun tubuh kita atas paparan bahan-bahan atau alergen yang berulang.  Untuk seorang anak reaksi alergi akan timbul setelah paparan yang ke dua. “Alergi bisanya muncul sejak anak-anak. Sehingga alergi pada anak ini sangat banyak kasusnya” katanya.

Ardi menerangkan dalam tubuh kita ada lima jenis antibodi atau imunoglobulin yaitu imunoglobulin G,A,M,E dan D. Imunoglobulin E adalah antibodi yang banyak berperan pada reaksi alergi. Dalam tubuh penderita alergi, imunoglobulin E  mengandung zat-zat tertentu yang menimbulkan reaksi alergi (zat alergen). “Zat-zat alergen ini misalnya, debu rumah, mite (tungau debu rumah), bulu binatang, serbuk bunga atau makanan tertentu seperti telur, susu, ikan laut dan lain-lain,” ujarnya.

Ardi menuturkan, di dalam jaringan imunoglobulin E yang spesifik terhadap alergen tersebut di atas menempel pada sel mast yaitu sel yang berperan pada reaksi alergi dan peradangan. Bila imunoglobulin E ini kontak lagi dengan zat-zat terkait seperti misalnya protein susu sapi, protein telur, tungau debu rumah dan lain-lain, maka sel mast ini mengalami degranulasi (pecah) dan mengeluarkan zat-zat yang terkandung dalam granula-nya sehingga timbul reaksi alergi. “Zat-zat tersebut dapat menimbulkan gejala-gejala alergi. Gejala alergi tersebut bisa seperti gatal-gatal (biduran), gangguan sistem saluran napas (asma, rinitis), gangguan saluran cerna (diare, muntah), gangguan kulit (biduran, eksim), gangguan mata (konjungtivitis alergika) serta gangguan susunan saraf (sakit kepala dan lain-lain),” terang dia.

Ardi menjelaskan, reaksi alergi tidak terjadi secara tiba-tiba. Terjadinya reaksi alergi memerlukan waktu yang disebut proses sensitisasi, yaitu masa sejak kontak dengan alergen sampai terjadinya reaksi alergi. Reaksi alergi dapat terjadi kalau kadar imunoglobulin E sudah cukup banyak. Pada saat kontak pertama dengan alergen, baru mulai timbul perlawanan dari tubuh yang mempunyai bakat atopik yaitu terbentuknya  imunoglobulin yang spesifik terhadap alergen tersebut. “Reaksi biasanya muncul jika terjadi kontak secara terus menerus,” jelasnya.

Ia mencontohkan bayi yang mengalami alergi terhadap formula susu sapi. Kadar imunoglobulin E yang spesifik terhadap susu sapi ini makin banyak sampai suatu saat dapat menimbulkan reaksi alergi bila mengonsumsi susu sapi tersebut. Oleh karena itu seorang ibu sering kali terkejut  bila diberi tahu anaknya alergi susu sapi padahal sejak kecil bayinya minum formula susu sapi dan  tidak ada reaksi apa-apa. Sementara, munculnya reaksi alergi terhadap alergen sejak kontak pertama kali atau disebut sebagai proses  sensitisasi dapat timbul dalam waktu singkat atau dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian. Hal ini bergantung seringnya kontak dengan alergen  atau kepekaan seseorang terhadap alergen tersebut. “Alergi ini biasanya muncul dalam waktu satu minggu atau setelah usia satu tahun, sehingga baik pasien atau dokternya sering tidak menduga kalau formula susu sapi ini sebagai penyebabnya,” terang dia.

Menurut Ardi Santoso, pada prinsipnya jika orang tua curiga anaknya menderita alergi sebaiknya segera diskusikan dengan dokter anak. Seorang anak dengan alergi tidak berarti harus menghindari penyebab alergi seumur hidupnya. Konsultasikan dengan dokter anak agar dilakukan pelacakan penyebab alergi, bisa dilakukan Skin Prock Test pada bayi atau anak. “Dengan tes ini bisa diketahui penyebab alerginya,” paparnya.

Reaksi alergi ringan bila tidak diatasi makin lama bisa menjadi lebih berat. Kadar imunoglobulin E yang spesifik terhadap alergen tertentu yang tidak dihindari akan semakin meningkat.  Sel mast yang mengalami degranulasi (pecah) dapat mengeluarkan zat yang disebut interleukin 4 yang dapat merangsang sel limfosit B untuk menghasilkan  imunoglobulin E lebih banyak lagi. Reaksi alergi yang berlanjut dapat menghasilkan zat médiator baru yang lebih poten dari zat histamin antara lain leukotrien. Keadaan ini terutama terjadi pada penyakit alergi yang kronis. Bila terjadi keadaan seperti ini biasanya tidak mempan lagi dengan pengobatan antihistamin biasa tetapi diperlukan obat anti radang yang lebih kuat seperti obat golongan kortikosteroid. “Oleh karena itu pencegahan dan penanganan dini penyakit alergi sangat penting supaya tidak berlanjut menjadi kronis,” paparnya. Tri Sulistiyani