JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Musim Hujan Datang, Hindari DBD

Musim Hujan Datang, Hindari DBD

388
BAGIKAN
Ilustrasi. ant

Musim hujan, identik dengan musim yang rentan bagi kita terjangkit berbagai penyakit. Termasuk penyakit yang dibawa oleh nyamuk, sepert penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Mengingat penyakit ini cukup berbahaya, maka kita perlu waspada terhadap penyebarannya.

Kepala Bidang Promosi Kesehatan, Pemberdayaan dan Kemitraan Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Purwanti, SKM.Mkes menjelaskan, DBD adalah penyakit menular yang ditandai dengan panas (demam) dan disertai dengan perdarahan. Penyakit ini  disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti yang hidup di dalam dan sekitar rumah.  “Pada umumnya kasus penyakit DBD  meningkat pada musim penghujan sampai musim pancaroba,” jelasnya.

Hal ini terjadi karena tempat berkembangbiaknya nyamuk semakin banyak pada musim hujan ini.  Dan cara pencegahan penyakit DBD yang paling efektif adalah dengan cara Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), yaitu kegiatan untuk memberantas jentik di tempat berkembang biaknya. “Yang paling efektif ya dengan memberantas sumbernya, yakni sarang nyamuk,” terang dia.

Dia menjelaskan, Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara 3M, yaitu  Menguras, Menutup dan Mengubur barang-barang yang bisa dipakai berkembangbiaknya nyamuk Aedes Aegypti.  “Tujuan PSN adalah mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypt sehingga penularan penyakit DBD dapat dicegah atau dikurangi,” terang dia.  Purwanti menjelaskan, perkembangbiakan nyamuk ini bisa dicegah, antara lain dengan, menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air seperti  bak mandi, WC, drum dan lain-lain sekurang-kurangnya seminggu sekali. Selain itu juga bisa dilakukan dengan menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air, mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air.

Selain itu, pemutusan siklus hidup nyamuk juga bisa dilakukan dengan memberikan bubuk abate di tempat-tempat penampungan air yang sulit untuk dikuras seperti tandon air. “Ukurannya untuk pemberian bubuk abate adalah satu sendok makan untuk 100 lt air. bisa juga dengan memelihara ikan pemakan jentik di kolam atau bak-bak penampungan air,” terang dia.

Selain itu, air dalam vas bunga atau tempat minum burung harus diganti seminggu sekali. “Membuang air tandon, di belakang kulkas, memperbaiki saluran air, talang yang tidak lancar, menutup lubang-lubang pada potongan bambu atau pohon,” ujarnya.

Purwanti juga berpesan agar nyamuk tidak mudah masuk kamar, kita bisa memasang kawat kasa di lubang angin, atau menggunakan kelambu. “Jangan biasakan menggantung pakaian di kamar, kemudian upayakan pencahayaan dan ventilasi yang cukup, atau dengan menggunakan obat oles/repellent untuk mencegah gigitan nyamuk,” jelasnya.

Dijelaskan Purwanti, kita sebenarnya nyamuk yang dapat menularkan penyakit DBD adalah hanya nyamuk betina saja. Nyamuk tersebut berwarna hitam dan belang-belang putih pada seluruh tubuhnya. “Nyamuk betina akan bertelur di tempat-tempat penampungan air atau tempat yang memungkinkan air tergenang dan tidak langsung berhubungan dengan tanah,” paparnya. Nyamuk ini ini akan menghisap darah manusia setiap dua hari sekali. Mereka biasanya aktif pada pagi hari jam 07.00 – 10.00 WIB dan sore  jam 15.00 – 17.00 WIB. “Nyamuk tersebut tidak dapat berkembang biak di tempat yang selalu bergerak, kotor (selokan, got, kolam) atau tempat yang airnya langsung berhubungan dengan tanah,” ujarnya. Nyamuk aedes aegypti tersebut akan hinggap di tempat yang agak gelap dan lembab dan benda – benda yang tergantung. Misalnya, kelambu, pakaian atau tumbuh – tumbuhan. Nyamuk tersebut sifatnya sensitif, sehingga apabila objeknya bergerak sedikit maka akan segera terbang. Tri Sulistiyani