JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Operasi Terkatung-katung, Belasan Pasien Miskin Merana

Operasi Terkatung-katung, Belasan Pasien Miskin Merana

389
BAGIKAN

PELAYANAN RSUD DR SOEHADI PRIJONAGORO MEMPRIHATINKAN

Potret buram pelayanan kesehatan terhadap kaum miskin kembali menyeruak dari bangsal RSUD dr Soehadi Prijonagoro, Sragen. Datang dengan memendam harapan segera ditangani dan mendapat kesembuhan, belasan pasien tidak mampu yang divonis harus operasi, justru harus menelan pil pahit karena berhari-hari merana tanpa kepastian penanganan.

Pemandangan menyesakkan langsung terhampar begitu kaki melangkah ke Bangsal Mawar Kelas III RSUD Sragen, Sabtu (12/1). Di kamar nomor 9 bangsal yang dikhususkan bagi warga berlabel tidak mampu itu, belasan pasien terbaring berderet menyesaki ruangan tanpa sekat maupun tirai.

Pemandangan serupa juga terlihat di kamar nomor 10 yang terletak berhadapan. Selain pengap, suara rintihan sakit dan keluhan terus terlontar dari pasien maupun kerabat yang menunggui. Seolah ada beban berat yang tak tahan untuk mereka rasakan.
“Bayangkan Mas. Sudah hampir tiga hari ibu saya terbaring di sini, belum juga ditangani. Ibu saya kena tumor di bibir dan kemarin disarankan harus operasi. Tapi setiap dokter ke sini kami tanyakan kapan mau dioperasi, katanya disuruh sabar. Apa karena kami ini pasien gratis, sehingga harus rela ditelantarkan dan dibiarkan berhari-hari tanpa kepastian penanganan,” ujar Tukimin (42), warga asal Rejosari, Jati, Masaran menceritakan derita ibunya, Ny Giyem Suroprawiro (70).

Menurut Tukimin, sejak masuk ke RSUD Rabu (9/1) sore hingga Sabtu (12/1), ibunya belum juga dioperasi. Selain kondisi ibunya yang sudah tua, ia khawatir jika sampai lebih lama tak ditangani, maka penyakit ibunya akan semakin mengganas.
Rupanya cerita itu tak hanya milik Ny Giyem. Sedikitnya ada 15 pasien di kamar nomor 9 dan 10 yang juga mengalami nasib serupa. Tidak hanya sehari dua hari, beberapa ada pula yang sudah sepekan terbaring menunggu mendapat kepastian kapan dioperasi.
Salah satu pasien patah tulang yang divonis harus operasi, Paryono (44), warga Bandung Krajan RT 2 RW XIV, Tegaldowo, Gemolong juga mengungkapkan, sejak masuk bangsal kelas III, Rabu (9/1) hingga Sabtu (12/1) dirinya belum juga diberi tahu kapan akan dioperasi. Selama itu pula, ia mengaku hanya dibiarkan menunggu datangnya pemberitahuan waktu operasi tanpa dilakukan pengobatan.

Berikutnya, Edi Srafungse (11), remaja asal Dukuh Dukuh RT 11, Jenar yang mengalami patah tulang bahu, sudah tiga hari terpaksa terbaring di bangsal harus menahan sakit menunggu jadwal operasi yang tak pasti.
Bahkan, sebelum mendapat bed di bangsal, ia terlebih dahulu harus telantar di ruang tunggu selama sehari. Padahal, pelajar yang bahunya retak karena jatuh dari sepeda motor itu mengaku sudah sangat kesakitan dan sendi bahunya hampir tidak bisa digerakkan lagi. Bahkan, Ny Ginem (70) asal Ngawi, Jatim yang sudah hampir sepekan juga belum mendapat kepastian kapan akan dioperasi.
Tidak hanya pasien dan kerabat yang mengeluhkan hal itu, Kades Jenar, Samto (42), yang kemarin menjenguk warganya di bangsal itu, juga menyayangkan lambannya penanganan pasien calon operasi. Menurutnya, dari bangsal 9 dan 10 kelas III saja setidaknya ada 15 pasien calon operasi yang bernasib sama.

Sementara, Wakil Direktur Bidang Mutu RSUD, Pursito, menampik jika rumah sakit dianggap menelantarkan. Menurutnya, selain karena menunggu antrean, belum dilakukannya operasi dikarenakan adanya syarat-syarat dan pertimbangan secara medis yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum naik meja operasi. “Tindakan operasi itu tidak bisa sembarangan karena berkaitan dengan nyawa. Ada rentang waktu dan syarat yang harus terpenuhi sampai pasien benar-benar siap untuk dioperasi. Mungkin bisa satu hari, mungkin bisa lebih, tergantung kondisi masing-masing pasien. Dokter juga pasti punya pertimbangan medis sebelum menentukan jadwal operasi,” tegasnya.

Wardoyo