JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Market Peredaran Uang di Solo Tembus Rp 83 Miliar Per Hari

Peredaran Uang di Solo Tembus Rp 83 Miliar Per Hari

299
BAGIKAN
Ilustrasi

SOLO- Peredaran uang di Solo beberapa bulan terakhir ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dari sebelumnya untuk peredaran uang di Solo yang hanya mencapai Rp 45 miliar hingga Rp 50 miliar per hari, mulai Agustus 2012 kemarin, peredaran uang di Solo tembus Rp 83 miliar per hari.

Demikian disampaikan Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo Bidang Sistem Pembayaran dan Manajemen Intern (SPMI), Tigor Silalahi. Ia mengatakan, memang inflow atau aliran uang yang masuk ke Kantor Perwakilan BI Solo mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini membuat kapasitas tempat penyimpanan uang di Kantor Perwakilan BI Solo 50 persen penuh.

“Padahal kapasitas tempat penyimpanan uang di gedung baru Kantor Perwakilan BI Solo ini besarnya empat kali lipatnya tempat penyimpanan uang di gedung BI yang lama. Kalau masih menempati gedung lama, pasti tempat penyimpanan uang ini tidak muat lagi,” ujar Tigor saat ditemui di kantornya, kemarin.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Solo, Doni P Joewono menambahkan, tingginya peredaran uang di Solo ini dikarenakan penghasilan masyarakat Solo mengalami peningkatan. Dengan penghasilan yang meningkat, maka transaksi yang digunakan pun turut mengalami peningkatan. Akibatnya, karena transaksi tinggi maka uang disetorkan ke bank dan bank-bank di eks Karesidenan Surakarta menyetorkan uang dari masyarakat ke Kantor Perwakilan BI Solo.

Lanjut Doni, tingginya peredaran uang di Solo ini juga dipengaruhi adanya beberapa pusat perbelanjaan yang hadir di Solo dan sekitarnya. Hadirnya pusat perbelanjaan seperti mal membuat konsumsi masyarakat meningkat. “Harapannya jangan konsumsi saja yang tinggi, tetapi penggunaan untuk investasi juga harus tinggi,” kata Doni.

Menurut Doni, peredaran uang di Solo yang mencapai Rp 83 miliar per hari ini tergolong tinggi. Meski kalau dibandingkan dengan transaksi nontunai, transaksi tunai ini hanya sekitar 0,1 persennya saja. “Transaksi nontunai di Solo baik itu melalui Real Time Gross Settlement (RTGS) dan kliring juga tinggi. Namun transaksi tunai untuk ukuran di Solo itu sudah termasuk tinggi,” ujar Doni.

Pihaknya berharap masyarakat di Solo ini dalam bertransaksi segera beralih ke nontunai. Dengan transaksi nontunai, maka bisa mengurangi peredaran uang di pasaran serta lebih aman. Dwi Hastuti