25 Tahun Hidup Bersama Tumor Ganas

25 Tahun Hidup Bersama Tumor Ganas

373

Warga Jatipuro, Karanganyar  Perlu Bantuan

Triyono (25), pemuda asal Dusun Kendal Kidul, Desa Jatisuko, Kecamatan Jatipuro, Karanganyar.
Triyono (25), pemuda asal Dusun Kendal Kidul, Desa Jatisuko, Kecamatan Jatipuro, Karanganyar ini terkena serangan tumor ganas.

Triyono (25), pemuda asal Dusun Kendal Kidul, Desa Jatisuko, Kecamatan Jatipuro, Karanganyar ini  harus mengalami nasib kurang beruntung. Dia harus bersabar atas serangan tumor ganas pada pergelangan tangan kanannya.

Pria yang bekerja sebagai buruh tani itu tak mampu menyembunyikan rasa gelisah. Rasa itu kentara sekali  dari sorot matanya. Bagaimana tidak, dirinya harus membiasakan diri beraktivitas dengan organ tubuhnya yang dalam keadaan sakit. Tumor ganas telah mengakibatkan pembengkakan di bagian tangannya yang membuat ukurannya membesar, jauh dari ukuran normal.

Triyono yang lahir tahun 1988  itu mengalami sakit tumor sejak dirinya lahir. Lantaran tidak memiliki biaya, dia pun tidak mampu melakukan pengobatan atas penyakitnya tersebut.  “Mau bagaimana lagi, Mas? Biaya pasti tidak sedikit untuk berobat. Saya pasrah saja,” tutur Triyono.

Orang akan dengan mudah membayangkan, betapa beratnya Triyono jika harus berjalan.  Ukuran tangan kanannya yang setara dengan kaki itu tentu menambah beban teramat berat baginya.  Namun karena sudah lama ia menderita penyakit tersebut, dirinya mencoba untuk tidak terlalu merasakan beratnya tangan itu.

“Jujur saja, kalau untuk berjalan terasa lelah, namun ya saya coba tidak saya rasakan, ” terangnya.

Semula, sakit yang diderita oleh Triyono itu sempat mendapat perhatian dari Bupati Karanganyar,  Rina Iriani. Saat itu, Bupati tengah mengunjungi kegiatan tradisional Wahyu Kliyu di desa setempat. Saat itu, Bupati sudah berinisiatif untuk memeriksakan Triyono ke Rumah Sakit di Solo.

“Dari pemeriksaan itu, katanya saya menderita tumor. Tapi dokter di Solo angkat tangan untuk menyembuhkan saya,” ujarnya.

Pembengkakan  pada tangan kanan itu telah dialami Triyono sejak kecil.  Namun ia tidak mampu  mengingat  secara persis kapan gejala tumor itu mulai tumbuh.  Ia memperkirakan tumor itu telah tumbuh sejak dirinya dilahirkan.

“Jadi usia tumor ini sudah sepantaran dengan usia saya, Mas,”  ujarnya.

Tumbuh dan beraktivitas bersama dengan tumor ganas memang memberikan efek psikologis yang berat bagi Triyono.  Ia pun terpaksa tidak mengenyam bangku pendidikan formal lantaran malu dengan kondisi fisiknya.

Sehari-harinya, Triyono yang merupakan anak bungsu itu hidup bersama pamannya. Meski menyangga beban berat di tangan kanannya, namun ia berusaha membantu sang paman bekerja di sawah.  Kedua kakaknya sudah hidup jauh di  perantauan. Sementara sang ibu telah lama meninggal dunia.

“Saya tak sekolah, dengan kondisi seperti ini saya bisa bekerja apa?”  ujarnya dengan keluh.

Walaupun pasrah dengan kondisinya saat ini, Triyono masih memiliki harapan untuk menyembuhkan penyakit tumor yang telah lama dideritanya. “Saya masih berharap untuk sembuh. Terlebih jika ada yang bersedia mengulurkan tangan membantu penyembuhan tumor ini,” ujarnya. *** Muhammad Ikhsan

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR