3,7 Juta Data Pemilih Pilgub Bermasalah

    3,7 Juta Data Pemilih Pilgub Bermasalah

    297

    SEMARANG-Komisi Pemilihan Umum Jawa Tengah menemukan sekitar 3,7 juta data penduduk yang bermasalah. Hal tersebut diketahui selama dilakukan pemutakhiran dana pemilih Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2013. Kekacauan data juga ditemukan di Wonogiri, Klaten dan Sragen.

    “Data yang perlu dikonfirmasi ulang ini ditemukan melalui sistem informasi data pemilih dan bukan merupakan data ganda,” kata anggota KPU Jawa Tengah Anderas Pandiangan di Semarang, Selasa (5/2).

    Menurut dia, temuan terbanyak pada data kependudukan yang perlu dikonfirmasi tersebut yakni kesamaan nama dan tempat tanggal lahir. Katanya, KPU mendapati banyak temuan dalam pelaksanaan pencocokan dan penelitian data pemilih tersebut di sejumlah daerah.  Ia mencontohkan calon pemilih yang tidak dikenal sama sekali di Desa Pegandon, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, namun memiliki kartu tanda penduduk setempat. “Sekitar 48 persen penduduk ber-KTP Desa Pegandon tidak dikenal,” katanya.

    Menurut dia, hal tersebut diduga disebabkan oleh kebutuhan identitas diri penduduk yang akan menjadi calon tenaga kerja ke luar negeri.

    Temuan lain, lanjut dia, pemilih dengan nama, tempat tanggal lahir, usia, serta jenis kelamin yang sama pada satu desa, namun beda nomor induk kependudukan. “Hal tersebut terjadi di Desa Candisari, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali,” katanya.

    Adanya temuan di Desa Candisari , Kecamatan Ampel, Ketua KPUD Boyolali, Ribut Budi Santoso mengakui jika dalam pendataan pemilih terjadi kesalahan. Namun jumlahnya belum tahu berapa. “Kalau itu banyak, jumlahnya berapa saya tidak tahu. Kan proses pencocokan dan penelitian (Coklit) baru selesai, 4 Februari, lalu,” paparnya.

    Ribut menambahkan, jika penetapan Data Pemilih Sementara (DPS), akan dilakukan 8 Februari mendatang. Di situ akan terlihat dari 1.020 juta masyarakat berapa yang terjadi kesalahan. “Kami 8 Februari baru akan menetapkan DPS. Akan terlihat jumlah kesalahannya,” katanya.

    Baca Juga :  27 Persen Mahasiswa Baru UGM dari Keluarga Kurang Mampu

    Anderas menambahkan, dari temuan tersebut sesungguhnya orang yang dimaksud hanya satu. Proses pengolahan data pemutakhiran data ini masih akan dilakukan hingga pengumuman daftar pemilih sementara pada 9 Februari. Ia mengimbau kepada masyarakat yang belum terdaftar sebagai pemilih untuk segera melapor.

    “Data ini masih bisa berubah sebelum ditetapkan menjadi daftar pemilih tetap,” katanya.

    Sementara itu, Ketua Bawaslu Jateng, Abhan Misbach mengatakan dari Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) di Kudus ditemukan nama-nama dewa, kemudian di Grobogan muncul temuan nama-nama hantu dan sejenisnya serta di Sragen muncul inisial dan Mr XX. Menurutnya, temuan ini harus segera diklarifikasi dan ditindaklanjuti karena sangat rawan jika sampai lolos ke Daftar Pemilih Sementara (DPS). “Faktanya temuan ini benar-benar ada di daftar DP4. Ini yang harus diseriusi, kenapa bisa muncul seperti itu,” paparnya di Sragen, Selasa (5/2).

    Menurut Abhan, jika sampai lolos dan tidak terkoreksi, maka DP4 di tiga daerah itu sangat rawan disalahgunakan saat Pilgub. Pasalnya, kemunculan nama-nama misterius itu akan membuat Daftar Pemilih Tetap (DPT) menjadi tidak valid. Atas temuan tersebut, pihaknya telah menginstruksikan Panwaslu di tiga daerah itu untuk mengklarifikasi pihak-pihak terkait, terutama dari pihak Pemkab selaku pemberi data DP4. Untuk persoalan temuan Mr XX di Sragen, Panwaslu setempat juga sudah diperintahkan untuk mengklarifikasi ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcatpil), kepala desa serta camat di wilayah temuan. “Nanti kita lihat dulu bagaimana hasil klarifikasinya. Yang jelas, temuan nama pocong, Mr X, dan dewa itu harus secepatnya direvisi oleh KPU,” tandasnya.

    Terpisah, Ketua Panwaslu Sragen, Slamet Basuki mengatakan hasil rekapitulasi temuan dan pengawasan selama empat tahapan pencocokan dan penelitian (Coklit) DP4, memang ditemukan total ada 1.734 nama tidak dikenal dengan ratusan di antaranya tertulis Mr X, Mr XX, dan Dobel XX. Terkait instruksi Bawaslu, pihaknya juga sudah melayangkan surat panggilan klarifikasi terhadap empat kepala desa di Kecamatan Masaran yakni Desa Sidodadi, Jati, Pilang dan Sepat.

    Baca Juga :  Satu Ponpes di Karanganyar Urungkan Niat Tolak Imunisasi Rubella

    Sementara itu, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Solo juga menemukan banyak kesalahan. Temuan ini akan dilaporkan ke KPUD setelah data terkumpul semua. “Perkiraan ada ribuan temuan kesalahan pendataan kemarin. Saat ini baru di Kecamatan Pasar Kliwon yang sudah diketahui jumlah kesalahannya sekitar 400 pemilih, sedangkan di kecamatan lain akan diketahui,Rabu (6/2), hari ini,” terang Ketua Panwaslu Solo, Sri Sumanta saat dihubungi Joglosemar, Selasa (5/2).

    Dijelaskan Sri Sumanta, kebanyakan kesalahan yang ditemukan itu, seperti nama ganda, orang meninggal masih didata maupun ada yang berprofesi sebagai TNI. Rencananya Panwaslu Kota akan mengumpul data-data tersebut dari Panwascam yang sudah melakukan pendataan bersama Panitia Pengawas Lapangan (PPL) yang mendampingi Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP).

    “Besok akan bisa diketahui jumlah kesalahannya itu berapa. Setelah itu akan dilaporkan ke KPU untuk ditindak lanjutin. Nanti masih ada masa perbaikan dan itu sudah menjadi tanggung jawab KPU,” kata dia.

    Menurutnya, kondisi ini pun tidak hanya terjadi di Solo tapi juga di beberapa daerah dan kesalahannya pun sama. Untuk ketetapan data pemilih pilgub itu tergantung dari KPU butuh berapa lama bisa menyelesaikan perbaikan data tersebut.

    ”Ya kalau bisa pasca data ini kami serahkan langsung bisa direspon oleh KPU untuk memperbaiki. Nanti setelah selesai data tersebut akan dipasang atau ditempel di kelurahan,” ungkapnya.

    Terpisah, Ketua KPUD Solo, Didik Wahyudiono mengatakan baru menyusun sejumlah temuan. “Belum ketahuan, ini masih dalam proses penyusunan,” katanya. Antara |  Wardoyo | Ari Welianto

    BAGIKAN