7 Pelajar Jalani Sidang Kasus Asusila

7 Pelajar Jalani Sidang Kasus Asusila

391

Sidang berlangsung tertutup karena semua terdakwa masih di bawah umur.”

Hendra Utama Sotardodo | Humas PN Wonogiri

ilustrasi
ilustrasi

WONOGIRI-Tujuh pelajar di salah satu SMP di Kecamatan Jatiroto menjalani sidang kasus pelecehan seksual di Pengadilan Negeri (PN) Wonogiri, Senin (18/2). Sidang ketiga itu beragendakan pemeriksaan terdakwa yang masih di bawah umur, yakni antara 13-15 tahun.

Humas PN Wonogiri, Hendra Utama Sotardodo mengatakan sidang perdana digelar dua pekan lalu dengan agenda pembacaan perkara.

Sidang sebelumnya digelar pekan lalu dengan agenda pemeriksaan sembilan saksi, terdiri dari murid dan guru. “Sidang berlangsung tertutup karena semua terdakwa masih di bawah umur. Bagaimana saat disidang dan pasal apa yang mungkin menjerat mereka, kami tidak berwewenang menyampaikan karena prosesnya tertutup,” kata Hendra.

Sementara itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri, Sri Murni mengatakan kasus seperti ini memang sulit karena dihadapkan pada kenyataan terdakwa masih di bawah umur. “Baik terdakwa dan korban semua masih polos. Masih seperti anak-anak pada umumnya. Tidak tega sebenarnya. Kasus seperti ini mau tidak mau tetap membuat perasaan kita tidak tega,” kata dia.

Baca Juga :  Nikmati Suasana Kemerdekaan Dengan Upacara Berlatar Keindahan Pantai Sembukan

Sementara mengacu Pasal 82 UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak, terdakwa dalam kasus tersebut terancam pidana penjara minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun.

Pengacara para terdakwa, Suryanto mengatakan menilai perbuatan para kliennya masih seperti kenakalan anak pada umumnya. “Ya kita ikuti saja terus bagaimana. Ini juga masih tahap pemeriksaan terdakwa. Tapi apa yang mereka lakukan sebenarnya tidak perlu sampai harus sejauh ini. Apalagi mereka masih sekolah,” terangnya.

Dari pengamatan, tidak terpancar wajah takut atau malu di muka ke tujuh pelajar ini. Baik IW (15), KA (14), DB (14), ED (13), DA (14), SP (15), AS (15) semua berpakaian rapi, dan beberapa di antaranya masih mengenakan celana SMP. Sementara TU (14), korban tampak diam didampingi ibunya.

Baca Juga :  Gara-gara Batuk, Kakek Warga Girimarto Wonogiri Ini Nekat Gantung Diri

Sementara itu perwakilan LSM Cahaya Hati Rakyat, Edi Santoso yang mendampingi TU sempat diminta keluar dari ruang sidang oleh hakim karena sifat sidang yang tertutup. “Pembela berkeberatan ada kami akhirnya hakim menyetujui permintaan pembela agar kami keluar. Sejak awal kasus ini dilaporkan kami mengawal terus,” terangnya.

Alhasil, korban hanya didampingi tim dari Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TPA) BKBKSPP dan orangtuanya. “Selama sidang dua kali kemarin anak-anak tenang. Kami terus mengawal jalannya sidang,” kata Ririn Riyadiningsih, perwakilan dari tim P2TPA.

Seperti diberitakan, ketujuh pelajar ini Oktober lalu dilaporkan karena diduga melakukan pelecehan kepada TU. TU mengaku dipegang dan diraba di dalam ruang kelas saat jam istirahat berlangsung, hingga bajunya sobek. Eko Sudarsono

BAGIKAN