JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen AI di Sragen Varian Baru

AI di Sragen Varian Baru

326
BAGIKAN
Virus AI mengganas di Sragen

SRAGEN—Balai Besar (BB) Veteriner Wates Yogyakarta menyatakan virus Afian Influenza (AI) yang menyerang unggas di Sragen belakangan ini merupakan jenis baru. Sementara, kematian unggas khususnya jenis itik di wilayah Pelemgadung, Karangmalang semakin parah dan hingga kemarin terus bertambah.

Staf Patologi BB Veteriner Wates, Yogyakarta, Waluyo Budi Priyono, saat melakukan observasi ke lokasi peternakan milik Sariman, warga Karang Tanjung RT 6, Pelemgadung, Senin (11/2), menyampaikan hasil uji lab terhadap itik yang sudah positif AI di Sambungmacan, ditemukan bahwa bagian virus AI yang berjangkit adalah jenis baru. Ia juga memastikan, dari gejalanya kematian itik di Pelemgadung juga mengarah kuat positif AI.

“Sudah jelas ini karena AI. Virusnya sama yaitu flu burung H5N1 hanya clade-nya berbeda. Istilahnya bagian dari virusnya berbeda, makanya turunannya yang akan dibuat vaksin juga berbeda. Bisa jadi virusnya baru atau mungkin membawa dari luar. Ini yang masih dalam penelitian kami,” ujarnya ditemui di sela-sela observasi.

Waluyo mengatakan, kedatangannya ke Sragen kemarin memang khusus untuk mengambil sampel dari kasus kematian sporadis unggas dalam beberapa hari terakhir. Mengenai vaksin pencegahannya, saat ini memang tengah dalam tahap penelitian dan kemungkinan dalam waktu dekat akan diluncurkan.

Ia juga menyebut, untuk virus H5N1 yang menyerang itik di Sragen memang lebih ganas, sehingga tidak heran kematiannya cukup banyak. Hanya saja, ia menilai meski parah sejauh ini belum sampai mengarah pada manusia. Untuk mengantisipasi penularan ke manusia, pihaknya berharap warga atau peternak tidak mengonsumsi bangkai itik atau ayam yang sakit atau mati mendadak.

Kemudian, untuk menekan meluasnya wabah, peternak itik juga diimbau tidak menggembalakan itik ke areal terbuka karena hal itu sama artinya menyebar virus lebih luas. Terlebih, status semua daerah di Jawa saat ini sudah dalam siaga AI karena semuanya endemis. Untuk itik yang sudah terkena gejala, sebaiknya dipisahkan dan itik yang lain disemprot desinfektan secara rutin.

Sementara, Kasie Penyidikan Penyakit Hewan (P2H) Disnakkan Sragen, Umi Wiratri mengatakan jumlah kematian itik di Pelemgadung memang terus bertambah. Seperti milik Sariman, kemarin bertambah dari 100 ekor menjadi 150 ekor yang mati mendadak dengan gejala yang sama. Wardoyo