JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen AI Kian Mengganas, 400 Itik Mati

AI Kian Mengganas, 400 Itik Mati

786
BAGIKAN
TERSERANG AI- Kondisi kandang itik milik Joko , warga Wareg, Pelemgadung, Karangmalang mulai lengang setelah ratusan itik miliknya mati beruntun karena terserang AI. Sebagian itik yang tersisa juga terlihat bergelimpangan mati Kamis (21/2). Joglosemar/Wardoyo
TERSERANG AI- Kondisi kandang itik milik Joko , warga Wareg, Pelemgadung, Karangmalang mulai lengang setelah ratusan itik miliknya mati beruntun karena terserang AI. Sebagian itik yang tersisa juga terlihat bergelimpangan mati Kamis (21/2). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN—Wabah flu burung atau avian influenza (AI) semakin mengganas dan meluas di wilayah Kabupaten Sragen. Setelah ribuan unggas jenis itik dan ayam mati terkena flu burung pekan lalu, kini giliran ratusan itik milik warga di Dukuh Wareg, Pelemgadung, Karangmalang juga dilanda badai penyakit yang sama.

Kematian terbanyak terjadi pada ternak itik milik Joko Wiyoto (45), warga Dukuh Wareg RT 10, Pelemgadung. Dari total 500 ekor itik miliknya, sejauh ini sudah ada 400 ekor yang mati mendadak dalam tiga hari terakhir. Mayoritas itik yang mati berumur antara dua hingga tiga bulan dengan gejala kejang disertai leher mengerut.

“Waktu hari pertama kemarin, yang mati langsung 50 ekor sampai 70 ekor. Paginya bertambah terus sampai total yang sudah mati 400 ekor. Ini tinggal tersisa 100 ekor, itu pun kondisinya sebagian juga sudah lemah,” ujar Joko Wiyoto ditemui Kamis (21/2).

Ia menuturkan itik-itik itu memang sempat diangon di areal persawahan sebelah barat Gumantar, Pelemgadung empat hari. Namun ia tidak mengira kalau lokasi itu ternyata sudah tercemar oleh virus AI. Baru keesokan harinya, itik piaraannya mendadak bertumbangan mati selama beberapa hari berturut-turut. Joko juga mengaku itik-itiknya itu dipasok dari pengusaha asal wilayah Gawok, Gatak, Sukoharjo. Bangkai itik sudah dikubur.

Wabah flu burung juga menimpa ternak ayam milik Parno (50), warga Wareg RT 11. Ia mengatakan bersamaan dengan kematian itik milik Joko, sekitar 20 ekor anak ayam miliknya juga mati mendadak.

Kemarin siang, tiga staf dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sragen langsung terjun ke lokasi untuk mengecek dan melakukan penanganan. Kasie Pengamatan Penyakit Hewan (P2H), Umi Wiratri mengatakan dari gejala klinis, kematian itik di Wareg tersebut juga mengarah pada flu burung. Karena wilayah Wareg sudah masuk radius tertular, maka pihaknya tidak mengambil sampel apapun dan hanya memberi pengarahan pencegahan serta desinfektan untuk menyemprot kandang.

“Gejala kematiannya memang mengarah flu burung. Mengalami kejang-kejang dan leher muntir dan mata berubah seperti ada selaput putih. Karena belum ada vaksin pencegah, kami bisanya cuma melakukan penanganan dengan bio sekuriti dan ternak dilakukan pengandangan agar tidak menulari yang lain,” terangnya.

Umi juga mengatakan, mengingat flu burung termasuk zoonosis dan berpotensi menyebar ke manusia, masyarakat sekitar kasus atau pemilik ternak disarankan melarang anak-anak atau orangtua masuk ke area ternak. Kemudian, itik yang masih tersisa juga diminta tidak lagi diumbar atau diangon untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Wardoyo