Anas Patuh, Tak Pernah Membalik

Anas Patuh, Tak Pernah Membalik

184
Anas Urbaningrum

JAKARTA-Elite Partai Demokrat (PD) optimistis tidak akan terjadi perpecahan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) yang digelar Minggu (17/2) hari ini. Kekhawatiran terjadinya konflik terbuka antara kubu Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), diprediksi tak akan terjadi.

Anggota Dewan Pembina Amir Syamsuddin menilai Anas tak pernah membangkang perintah Majelis Tinggi. “Saya rasa tidak pernah membalik, dia patuh. Semua pernyataan positif,” jelas Amir di Jakarta, Sabtu (16/2). Amir memberi contoh, semua keputusan seperti penandatanganan pakta integritas diikuti Anas. Artinya Anas mengikuti keputusan Majelis Tinggi.

Amir juga mengatakan jajaran DPD dan DPC akan kompak dan tak akan ada perpecahan. “Kalau dalam kepemimpinan SBY, mereka akan bersatu,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Sekjen Partai Demokrat Saan Mustopa menegaskan tidak akan ada hal yang mencengangkan dalam Rapimnas. “Bahwa tadi disebutkan Rapimnas nanti itu akan melahirkan peristiwa politik mencengangkan. Itu tidak. Rapimnas itu bukan ajang konstestasi,” ujar Saan dalam diskusi di Warung Daun Kafe, Jakarta.

Baca Juga :  Kepedulian Sido Muncul untuk Pariwisata, Jadikan Rawa Pening Destinasi Wisata Dunia

Saan mengatakan Rapimnas merupakan forum untuk konsolidasi partai. Menurutnya ada tiga poin utama yang menjadi agenda konsolidasi. Pertama, merumuskan strategi untuk menghadapi perjalanan politik ke depan. Salah satu yang difokuskan dalam agenda ini, kata Saan, adalah bagaimana mencegah tren turunnya elektabilitas PD. Kedua, bagaimana mengembalikan elektabilitas PD agar kembali naik. “Ketiga, bagaimana konsolidasi partai dari pusat hingga ke daerah bisa berjalan secara baik. Bagaimana akhirnya merumuskan program-program yang bisa dirasakan publik,” imbuhnya.

Pada bagian lain, pengamat memprediksikan akan ada tiga  skenario yang mungkin terjadi dalam Rapimnas. Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute, Hanta Yuda, mengatakan ada tiga scenario yang mengkin terjadi. Pertama, akan ada titik tengah atau kompromi antara “dua matahari” di Partai Demokrat, semacam win win solution. Kompromi itu misalnya ditempuh dalam penyusunan Caleg Partai Demokrat untuk Pemilu 2014.

Baca Juga :  Kepedulian Sido Muncul untuk Pariwisata, Jadikan Rawa Pening Destinasi Wisata Dunia

Kedua, kedua faksi akan tetap bertahan bahkan saling menyerang. Terjadi kompetisi, namun kompetisi ini bersifat terselubung. Dengan catatan jika posisi Anas masih kuat mendapat dukungan grass root. Ketiga, lanjut dia, terjadi perang terbuka atau semacam Kongres Luar Biasa (KLB). Jika dua-duanya kuat, KLB akan diusulkan digelar dan dijadikan alat untuk saling menjatuhkan, digunakan melengserkan Anas, atau sebaliknya. “Jika ini yang terjadi, semua akan habis-habisan memperjuangkan faksinya masing-masing,” cetus Hanta.

Namun demikian, Hanta mengatakan yang terpenting adalah bagaimana mendamaikan figur yang kuat dengan agenda institusionalisasi partai. Kisruh internal harus menjadi momentum untuk membuat perlembagaan partai Demokrat menjadi lebih kuat. “Jadi jika ingin ini, maka sebaiknya dua faksi menempuh win win solution. SBY setelah ini harus menyiapkan agenda-agenda baru untuk melembagakan partai. Agar tetap kokoh untuk pemilu-pemilu berikut,” pungkasnya.

BAGIKAN