JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Angin Ribut, 35 Hektare Padi Ambruk

Angin Ribut, 35 Hektare Padi Ambruk

407
DITERJANG ANGIN - Petani di Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas mengikat tanaman padi yanga ambruk diterjang angin, Senin (25/2). Joglosemar/Angga Purnama
DITERJANG ANGIN – Petani di Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas mengikat tanaman padi yanga ambruk diterjang angin, Senin (25/2). Joglosemar/Angga Purnama

KLATEN – Petani di Kecamatan Cawas mengikat batang padi mereka untuk mengurangi kerugian akibat tanaman padi yang roboh diterjang hujan disertai angin kencang, Minggu (24/2) malam. Sarwo Mulyono (55), petani Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, mengatakan hujan deras disertai angin kencang yang menerjang Minggu Malam menyebabkan tanaman padi miliknya roboh.

Akibat kejadian tersebut petani mengaku mengalami kerugian hingga jutaan rupiah. “Tinggal sisa sedikit yang tidak roboh dan sudah diikat. Padi yang roboh dan bisa diselamatkan diikat juga,” tuturnya. Slamet mengatakan ia terpaksa mengikat tanaman padinya untuk mengurangi kerugian yang lebih besar. Karena jika tidak ditegakkan, tanaman padinya tidak akan bisa di panen. “Kalau tidak diikat ruginya tambah besar. Karena padi yang sudah ditanam akan membusuk terendam air hujan,” ujarnya.

Selain ambruknya tanaman padi, petani juga dihantui dengan penyakit musiman berupa jamur busuk leher. Penyakit padi yang disebabkan jamur Pyricularia oryzae itu seringkali menyerang pada musim penghujan. Jumiyem (52) petani Desa Baran, mengatakan padi yang siap panen miliknya mengering dan tidak dapat dipanen lantaran terserang jamur tersebut. Menurutnya, penyebara jamur tersebut sangat cepat pada musim hujan seperti saat ini. “Padi akhirnya dipanen dini karena penyakit busuk leher. Namun, yang masih bisa diselamatkan  hanya disemprot obat jamur hingga masa panen tiba,” paparnya.

Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian Kecamatan Cawas, Slamet Mulyono mengatakan sebanyak 35 hektare dari 2.318 hektare tanaman padi di Cawas ambruk diterjang angin. Kejadian tersebut tersebar di beberapa desa antara lain Desa Nanggulan, Barepan, Baran, dan Kedung Ampel. “Yang paling parah ada di Nanggulan. Hingga mencapai lebih dari tujuh hektare tanaman padi yang ambruk,” urainya.

Sementara itu terkait dengan serangan hama, pihaknya mengaku tidak dapat memprediksi. Hal tersebut dikarenakan penyebaran jamur secara sporadis dan dipercepat dengan hujan deras yang terjadi hingga berhari-hari. Menurutnya, upaya yang dapat dilakukan hanya berupa pencegahan dengan penyemprotan fungisida. “Sudah kami sosialisasikan. Namun penyebaran jamur sangat cepat karena minimnya sinar matahari yang didapat tanaman padi,” jelasnya. Angga Purnama

BAGIKAN