JOGLOSEMAR.CO Daerah Jogja Banjir Lahar Dingin Merapi, Satu Penambang Belum Ditemukan

Banjir Lahar Dingin Merapi, Satu Penambang Belum Ditemukan

268
BAGIKAN
Ilustrasi – Kaliworo

SLEMAN-Satu awak truk pasir masih dinyatakan hilang dalam banjir lahar dingin di Daerah Aliran Sungai (DAS) Gunung Merapi, Kabupaten Sleman. Dua truk berhasil dievakuasi pada Rabu (13/2) kemarin.

Heru Saptono, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, mengatakan, banjir lahar dingin menyebabkan dua awak truk terseret lahar dingin. Satu orang berhasil diselamatkan, bernama Dodi Subardi (45), warga Saban, Gubug, Purwodadi, Grobogan. Kini, korban dirawat di RS Panti Nugroho, Pakem.

Sedangkan satu korban lainnya ditemukan tewas atas nama Sukirman alias Jendil (45), warga Mintreng, Gubug, Demak. Jenazahnya dibawa ke RSUP Sardjito, Yogyakarta. Satu awak truk sampai saat ini masih belum diketahui keberadaannya pasca-banjir lahar dingin di Sungai Gendol, Selasa (12/02) kemarin petang.

“Satu korban meninggal dunia sudah dibawa pihak keluarga. Sementara, satu lagi saat ini masih dilakukan pencarian keberadaannya, apakah ikut terseret lahar dingin atau pergi ke tempat yang aman,” kata Heru, Rabu (13/2/2013).

Sementara itu dua dari lima unit kendaraan truk yang terjebak banjir lahar dingin di Sungai Gendol, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Selasa (12/2) sore, pada Rabu berhasil dievakuasi dari tempat kejadian.  “Ada dua unit truk yang telah berhasil di evakuasi, sedangkan tiga truk lainnya masih dalam proses evakuasi,” ucap  Sriyanto, anggota SAR Kabupaten Sleman, Rabu (13/2).

Menurut dia, untuk evakuasi dua truk yang yang tertimbun material vulkanik memang cukup sulit karena timbunan material cukup tinggi dan truk mengalami kerusakan parah. Evakuasi ini memang menggunakan alat berat, meski demikian karena material yang menimbun cukup banyak. “Kami tetap harus menggali secara manual di kiri kanannya sebab jika langsung diangkat dengan alat berat maka kerusakan truk akan semakin parah,” jelasnya.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan akan potensi terjadinya banjir lahar selama musim hujan. Menurututnya, kejadian banjir lahar di Sungai Gendol yang terjadi pada Selasa (12/2) sehingga menyebabkan satu orang meninggal dunia dan lima truk tergulung banjir lahar disebabkan kewaspadaan masyarakat kurang.

“Peringatan dini akan otomatis diberikan saat curah hujan di atas 40 milimeter. Munculnya korban di Sungai Gendol ini disebabkan respons masyarakat yang bekerja di badan sungai kurang,” ungkapnya.

Mengenai ramainya pemberitaan di jejaring sosial twitter mengenai turunnya monyet hingga kilometer 20,5 Pakem Sleman, Subandriyo menjelaskan bahwa turunnya binatang bukan merupakan indikasi valid adanya perubahan aktivitas seismik di Gunung Merapi. “Saya memang belum mendengar berita itu. Tetapi, turunnya binatang bukan indikasi perubahan aktivitas seismik di Merapi. Sampai saat ini, aktivitas Merapi tetap aktif normal,” katanya.

Okezone Antara